Lapangan Kerja Berkurang, Pengemis Menjamur Di Aceh

Tekanan ekonomi dan hilangnya lapangan pekerjaan semakin menekan rakyat. Untuk tetap bertahan hidup, sebagian rakyat menggunakan segala macam cara, termasuk menjadi pengemis.

Di Banda Aceh, Ibukota provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD), pengemis hadir di berbagai sudut kota, bahkan hingga warung-warung kopi. Untuk mengatasi persoalan semacam ini, pemerintah masih menggunakan cara-cara yang bersifat koersif, yaitu melakukan razia dan penertiban.

Karena persoalan ini berakar pada persoalan ekonomi-politik, maka beratus-ratus kali razia pun tidak sanggup mengatasi persoalan ini. Malahan, semakin tinggi dan kuat tekanan ekonomi, jumlah pengemis semakin bertambah pula.

Nek Ti, seorang pengemis yang masuk dari warkop ke warkop, mengaku mengemis karena terdesak untuk membiayai ekonomi keluarga, apalagi anak-anaknya sudah besar-besar.

Meskipun Nek Ti masih tergolong kuat secara fisik, tetapi ketiadaan lapangan kerja menjadi alasan kuat kenapa dirinya menjadi pengemis. Nek Ti, yang mengaku datang dari Kabupaten Pidie, datang ke Banda Aceh bersama anak sulungnya.

Lain lagi dengan Nyak Munah, pengemis yang datang dari Kabupaten Aceh utara, mengaku tidak jera menjadi pengemis meski sudah berulangkali tertangkap oleh razia petugas.

“Ta peubut nyoe karena hana pilehan laen, bah pieh di peulet peulet lee polisi, teutap lon peubut demi syedara lon di gampong (Melakukan ini karena tidak ada pilihan lain, Walaupun saya di kejar-kejar oleh petugas, saya akan tetap melakukan ini demi keluarga saya di kampung),” katanya.

Nyak Munah sudah berkali-kali ditangkap dan dipulangkan kembali ke kampung halamannya, tetapi tidak lama kemudian ia kembali lagi ke Banda Aceh untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai pengemis.

Ia berasalan bahwa petugas hanya menangkapnya tetapi tidak memberi pelatihan dan modal kerja, sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menjadi pengemis.

Ketiadaan Lapangan Kerja

Sekjend Partai Rakyat Aceh (PRA) Thamren Ananda menyatakan bahwa menjamurnya pengemis di Banda Aceh diakibatkan oleh kegagalan kebijakan ekonomi pemerintah untuk membuka lapangan pekerjaan.

“Hampir tidak ada kebijakan ekonomi dari pemerintahan di Aceh saat ini yang mendorong penciptaan kesempatan kerja penuh. Sebaliknya, mereka memilih mengikuti resep neoliberal yang menyebabkan ekomi rakyat mengalami kesulitan berkembang,” ujar Thamren kepada Berdikari Online.

Thamren mengaku belum melihat terobosan pemerintah di Aceh terkait pengembangan sektor pertanian dan pengembangan industri, sehingga penciptaan lapangan kerja semakin menyempit setiap tahunnya.

Sementara itu, Zulyadi Ulim dari Save Emergency For Aceh (SEFA) menuding adanya pihak-pihak tertentu yang sengaja memobilisasi para pengemis ke kota Banda Aceh.

“Kalau kita lihat, ketika para pengemis itu mendatangi warkop selalu ada yang mengantarkan, baik tukang becak maupun ojek motor,” katanya.

Ia meminta kepada pemerintah untuk menindak tegas pihak-pihak yang mencoba mengeruk keuntungan lewat penyaluran pengemis dari luar kota ke kota Banda Aceh ini.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut