Langkah Maju Afrika Di Bidang Pertambangan

Negara-negara Afrika, seperti juga Indonesia, punya kekayaan tambang yang sangat melimpah. Akan tetapi, selama beberapa dekade, pihak asing yang selalu mengambil keuntungan dari kekayaan tambang itu.

Kini, negara-negara Afrika hendak mengubah semua itu. Pada bulan Desember 2011 lalu, Menteri-Menteri Pertambangan dari seluruh anggota Uni-Afrika berkumpul Addis Ababa, Ethiopia. Di akhir konferensi, menteri-menteri dari negara-negara Afrika itu setuju untuk mengubah paradigma pengelolaan tambang di negeri mereka.

Di jaman penjajahan, kekayan tambang di negara-negara Afrika dieksplorasi oleh negeri-negeri kolonialisator. Segera setelah kemerdekaan, negara-negara Afrika bereaksi terhadap penjarahan selama berabad-abad oleh kolonialisator dengan menjalankan nasionalisasi perusahaan tambang.

Sayangnya, karena persoalan pengetahuan, teknologi, dan modal, modal asing tetap dipertahankan di negara-negara ini. Sampai sekarang ini, negeri-negeri imperialis tetap berminat untuk menguasai pertambangan Afrika.

Menurut  Stephen Karingi, dari Komisi Ekonomi PBB untuk Afrika, pada tahun 2010 saja, laba bersih 40 perusahaan tambang terbaik naik 156% menjadi 110 miliar dollar AS dan aktiva bersih perusahaaan melebihi 1 triliun dollar AS.

Tambang juga mendominasi ekspor negeri-negeri Afrika. Pada tahun 2005, misalnya, tambang mineral menyumbang 80% pada ekspor Bostwana, Kongo, DRC, Guinea, dan Sierra Leone; dan melebihi 50% di Mali, Mauritania, Mozambik, Namibia dan Zambia.

Akan tetapi, meskipun Afrika sangat kaya dengan tambang, tetapi tetap saja mayoritas rakyat di kawasan itu miskin. Bahkan cerita mengenai kelaparan dan malnutrisi seakan tidak pernah pupus di benua itu.

Menurut study Agenda Africa, benua ini menghasilkan lebih 60 produk logam dan mineral; emas, berlian, uranium, mangan, kromium, nikel, bauksit dan kobalt. Platinum, batubara, dan fosfat juga sangat melimpah di benua itu.

Konferensi di Addis Ababa itu merumuskan enam langkah negara-negara Afrika untuk memulihkan kedaulatan atas kekayaan tambangnya:

Pertama, negara anggota harus mereformasi kebijakan fiskal-nya untuk memaksimalkan keuntungan dari sektor tambang.

Kedua, negara anggota harus menjajaji kemungkinan negosiasi ulang kontrak yang sudah ada untuk mendorong pembagian keuntungan yang adil.

Ketiga, negara-negara Anggota harus menyesuaikan strategi pembangunan mereka untuk mencapai tujuan jangka panjang pembangunan nasional mereka.

Keempat, negara anggota harus mendorong transparansi dalam penarikan dan penggunaan keuntungan dari pertambangan.

Kelima, pemerintah harus mendorong penyertaan modal dalam usaha pertambangan untuk meraih keuntungan yang lebih besar.

Keenam, pemerintah bekerjasama dengan mitranya untuk membangun badan pengawasan.

Ini memang masih sebatas komitmen. Artinya, tanpa adanya politik yang tegas anti-imperialisme, agenda negara-negara Afrika ini tentu bisa berakhir sebagai kesepakatan di atas kertas saja.

ALI RAHMAN

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut