Lagi, Aksi Ribuan Aktivis FRAT Di Bima Direpresi Polisi

Aksi massa ribuan mahasiswa dan rakyat di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), siang tadi (27/12) kembali direpresi oleh pihak kepolisian. Setidaknya 2 orang aktivis mahasiswa dan seorang satpam kampus ditangkap oleh Polisi.

Ribuan mahasiswa dan rakyat ini  tergabung dalam Front Rakyat Anti-Tambang (FRAT). Aliansi ini menghimpun sedikitnya 30 organisasi dan meliputi seluruh kampus di kabupaten Bima. Mereka menggelar aksinya di depan Kantor Bupati Bima.

Pada awalnya, aksi massa ini berjalan damai. Mereka menuntut bertemu langsung dengan Bupati Bima, Ferry Zulkarnain, guna menyampaikan tuntutan. Akan tetapi, sang bupati tidak kunjung menemui massa aksi.

Akhirnya, massa aksi yang kesal berusaha memaksa masuk kantor Bupati. Tetapi, usaha ini berusaha dicegah oleh ratusan anggota kepolisian. Bentrokan pun tidak dapat dihindarkan. Polisi melepaskan tembakan peringatan. Lalu, beberapa saat kemudian, polisi mulai mengarahkan tembakan ke arah massa.

Tidak hanya itu, polisi juga mengejar massa aksi yang berusaha mundur ke belakang. Massa aksi berusaha membalas serangan itu dengan lemparan batu. bentrokan itu berlangsung selama 20 menit.

Adi Rahmad, salah satu jubir aksi FRAT, menganggap tindakan polisi ini sudah terlampau di luar batas. Seharusnya, kata dia, polisi memfasilitasi agar mahasiswa dan rakyat dipertemukan dengan Bupati. Tetapi, polisi justru membentengi kantor Bupati dan menyerang mahasiswa.

“Beberapa hari lalu, polisi menembaki rakyat yang hanya melakukan aksi diam di pelabuhan Sape. Sekarang, polisi kembali menyerang mahasiswa yang mau menyampaikan tuntutan rakyat kepada bupati,” ujarnya.

Belum diketahui apakah ada korban luka akibat bentrokan ini. Akan tetapi, tiga orang dipastikan ditangkap polisi. Nama aktivis yang ditangkap adalah Usman, 21 tahun, mahasiswa STIKIP Bima, Yanto, 36 tahun, seorang satpam kampus STISIP Bima, dan satu lagi belum diketahui namanya.

Dalam aksi kali ini, mahasiswa dan rakyat membawa sejumlah tuntutan, diantaranya: pencabutan ijin eksplorasi PT. Sumber Mineral Nusantara, pencopotan Kapolda NTB dan Kapolresta Bima, dan pembebasan Adi Supriadi (aktivis LMND yang ditahan kepolisian sejak beberapa bulan lalu).

Tuntutan lainnya adalah pembebasan 44 warga yang ditetapkan sebagai tersangka, penghentan penyisiran dan penangkapan warga, dan penarikan pasukan Brimob dari tanah Bima.

Usai pembubaran aksi mahasiswa itu, sebuah aksi lain digelar 500-an rakyat Bima dari kecamatan Wera dan Lambu. Selain bersolidaritas atas gugurnya sejumlah warga akibat tindakan represf polisi di pelabuhan Sape, mereka juga menuntut pencabutan ijin eksplorasi PT. Sumber Mineral Nusantara.

AGUS PRANATA

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut