“Kucing Garong” Dan Pengangguran

Seorang yang berdandan seperti perempuan seksi masuk ke warung pecel ayam. Berdiri sebentar, seakan mengumpulkan tenaga, ia langsung melantunkan sebuah lagu yang tak asing lagi di telingaku “Kelakuan si kucing garong, ora kena ndeleng sing mlesnong, main sikat main embat, apa sing liwat.”

Agnes, begitu dia disapa oleh teman-temannya, mengaku berasal dari daerah penghasil kretek terbaik di Jawa Tengah, Temanggung. Nama aslinya bukan Agnes, melainkan Suprianto. Di tempat tinggalnya yang kaya raya itu, pekerjaan sebagai petani sudah tak lagi menarik dan pekerjaan lain pun hampir tidak ada.

Sejak lima tahun lalu, begitu lulus dari Sekolah Menengah Atas, ia memilih mengadu nasib di Jakarta. Pada awalnya, dia punya keinginan menjadi pegawai negeri, tetapi keinginan itu langsung menguap tatkala diminta menyiapkan “uang pelicin”.

Suatu hari, ketika dia hampir frustasi mencari pekerjaan, seorang tetangganya menawari pekerjaan sebagai penjaga toko di Jakarta. Di kota yang dikenalnya melalui kotak televisi ini, Ia hanya bekerja setahun lantaran toko tetangganya itu mendadak bangkrut.

Hidup tanpa pekerjaan di Jakarta adalah menakutkan. “Kau tidak bisa menggantungkan hidupmu pada orang lain di kota yang sangat individualis begini.”

Begitulah, karena ketiadaan pekerjaan, Suprianto bukan hanya harus berganti nama menjadi Suprianto, tapi juga harus mengenakan dandanan perempuan seksi dan siap bergoyang ala “Dewi Persik” di depan orang-orang.

Adalah sebuah ironi, dan tentu saja ini bukan bermaksud melebih-lebihkan, bahwa pemerintah mengatakan pengangguran telah menurun, namun ada banyak orang yang mengaku hampir tidak punya pilihan dalam mencari pekerjaan.

>>>

Bagi Suprianto, pekerjaan sebagai waria dadakan bukanlah keinginannya, melainkan dipaksakan oleh situasi. Jika ada pekerjaan yang lebih baik, katanya, ia akan segera meninggalkan pekerjaan itu.

Jam bekerjanya pun tidak tetap. Akan tetapi, ia sering memilih keluar sore dan pulang sekitar pukul 10 malam. “Jika ada rejeki, saya bisa dapatkan 30 ribu hingga 40 ribu,” katanya.

Pendapatan segitu itu dibagi berdua dengan temannya, Andi, yang ditugaskan memainkan musik. Hanya saja, Suprianto dan Andi tinggal sekamar, sehingga bisa menghemat sewa kamar.

Seringkali, kalau dirinya sudah bernyanyi dan bergoyang, ada saja yang tidak menghargai jerih payahnya tersebut. “Jangankan memberi recehan, melirik pun enggan,” katanya.

Sebagai seorang waria, Suprianto harus siap menerima pandangan sinis orang lain. Maklum, sebagian masyarakat kita masih memandang sinis kaum waria, meskipun tidak semua masyarakat dan daerah seperti itu.

Dalam masyarakat suku Bugis, misalnya, keberadaan waria diakui keberadaannya dalam struktur sosial secara resmi. Dalam kitab Lagaligo yang terkenal itu, seorang waria bisa berperan sebagai bissu, yakni orang yang dipercaya sebagai penghubung antara manusia dan dewata (dewa).

Dalam setiap jejak langkah mencari penghidupannya, Suprianto selalu menaruh harapan besar: dirinya mendapatkan pekerjaan tetap, lalu menikah dengan seorang perempuan, dan membina rumah tangga.

Sayang sekali, cita-cita sederhana semacam ini hampir mustahil terwujud di negeri yang sangat kaya raya ini.

>>>

Pada bulan Februari 2011, pemerintah telah mengklaim angka pengangguran tinggal 6,8 persen atau 8,12 juta jiwa. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, yang jumlahnya mencapai 7,41 persen atau sebanyak 8,59 juta jiwa.

Tetapi tidak semua orang mempercaya angka itu. Hendri Saparini, ekonom dari ekonom Tim Indonesia Bangkit, menganggap angka pengangguran versi pemerintah itu mesti diperiksa secara detail.

“Itu penting,” Hendri Saparini menjelaskan, “karena bisa jadi yang menganggur berkurang tapi mereka hanya tercatat sebagai pekerja di sektor informal yang belum tentu bisa menyejahterakan.”

Menurut ekonom yang senang mengenakan kerudung ini, dari keseluruhan penduduk yang dianggap bekerja itu, ada sekitar 70% yang bekerja di sektor informal dan hanya 30% yang bekerja di sektor formal.

Boleh jadi, karena memasukkan sektor informal, maka pekerjaan orang-orang seperti Suprianto pun dianggap “penduduk bekerja”.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut