Kuba Dan Venezuela Minta Pihak Asing Tidak Campur Tangan Di Libya

Menteri luar negeri Kuba Bruno Rodriguez Parrilla menegaskan pada hari Rabu bahwa Kuba sangat menghormati solusi damai atas persoalan di Libya, tanpa intervensi atau campur tangan asing, demi menjaga integrasi nasional bangsa tersebut.

Menteri Luar Negeri Kuba ini juga menyatakan bahwa Kuba terus mencermati dari dekat segala perkembangan internal yang terjadi di Libya.

Dia menyatakan bahwa ada banyak hal dan juga pemberitaan yang bertentangan dengan kejadian yang berlangsung di Libya.

Rodriguez Parilla juga mengatakan bahwa banyak politisi AS dan media menghasut kekerasan, agresi militer, dan intervensi asing.

Pernyataan hampir senada juga disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Venezuela, Nicolas Maduro, yang menyatakan bahwa Venezuela sangat berharap adanya resolusi damai atas penyelesaian aksi protes di Libya.

Beberapa hari sebelumnya, dua jejaring sosial, yaitu Facebook dan Twitter, ramai mengankat soal kabar larinya Muammar Khadafi ke Venezuela.

Desas-desus ini menyebar seiring dengan tersiarnya sejumlah rumor di media kanan, baik di internasional maupun di Venezuela, bahwa gelombang protes di Timur Tengah melawan kediktatoran, monarki, dan pemerintahan represif sebentar lagi akan menjadi bola api yang menggelinding ke Venezuela.

Sebuah artikel di Miami Herald beberapa hari yang lalu telah menulis: “Dengan penjatuhan diktator seperti efek domino di timur tengah, presiden seumur hidup Venezuela, Hugo Chavez, mulai khawatir dengan kekuasaan despotinya.”

Pendukung Khadafi Kuasai Tripoli

Menanggapi pidato seruan Presiden Khadafi pada Selasa malam, ribuan pendukung Muammad Khadafi turun ke jalan-jalan pusat kota Tripoli. Mereka mengenakan gelang hijau sebagai tanda kesetiaan pada Presiden dan Revolusi.

Demonstran pendukung Khadafi mengutuk kaum oposisi dan menyebut mereka sebagai “penghianat” yang dibayar oleh barat.

Sementara kekuatan oposisi dilaporkan mengontrol kota-kota di bagian timur dan memperkuat kontrol mereka terhadap pusat ladang minyak Libya di Ajdabiya.

Di perbatasan antara Mesir dan Sidi Burana, para pekerja mesir yang melarikan diri dari kerusuhan menyatakan bahwa oposisi telah mengontrol kota Baida dan sekitarnya.

Sementara pihak korporasi asing dan kaum oposisi berdiskusi mengenai cara menyelamatkan minyak negeri itu.

Pihak resmi Italia menyebutkan bahwa jumlah korban sudah melebihi 1000 orang, tetapi pihak resmi Libya menyebut angka korban masih lebih kecil dari itu, yaitu 300 orang tewas, termasuk 110 orang tentara.

Raksasa minyak Italia, ENI, telah menyatakan akan menghentikan penyaluran melalui pipa dari Libya ke Sisilia yang memasok 10% gas alam Italia.

Sementara Inggris mempertimbangkan untuk mengirim pesawat RAF untuk mengevakuasi warganya yang terjebak di Libya, meskipun tidak akan mendapatkan ijin dari pihak resmi. (Dari berbagai sumber)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut