Kronologis Aksi FRAT Bima Dan Kejadian Terbakarnya Kantor Bupati Bima

Berikut ini adalah kronologi aksi puluhan ribu rakyat Bima yang tergabung dalam Front Rakyat Anti Tambang (FRAT). Aksi ini membawa tiga tuntutan pokok: (1) cabut SK Bupati Bima nomor 188/2010 tentang ijin eksplorasi PT. SMN, (2) pembebasan semua aktivis dan warga yang ditahan kepolisian, dan (3) penghapusan nama-nama warga dan aktivis yang dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Aksi ini berakhir dengan kemarahan rakyat yang membakar kantor Bupati Bima. Pada saat aksi massa berlangsung, Bupati Bima Ferry Zulkarnain sedang tidak berada di tempat. berikut kronologisnya:

Pukul 08.00 WITA:

Massa dari berbagai desa di tiga kecamatan (Lambu, Sape, Langgudu) mulai berdatangan di lapangan Tembaromba. Mereka menunggu kedatangan massa dari desa-desa lainnya.

Pukul 10.00 WITA:

Puluhan ribu massa Front Rakyat Anti Tambang (FRAT) sudah berkumpul di lapangan desa. Lalu, setelah massa terkumpul lebih dari 10 ribuan orang, mereka pun bergerak ke kota dengan menggunakan ribuan motor dan 50 truk besar.

Pukul 12.30 WITA:

Massa tiba di kota dan langsung berkumpul di lapangan Pahlawan. Pimpinan massa mengatur barisan dan menyampaikan orasi-orasi politik untuk membakar semangat massa.

Pukul 13.00 WITA:

Lebih dari 10 ribuan massa FRAT mulai bergerak menuju ke kantor Bupati. Massa menggunakan sepeda motor dan sebagian berjalan kaki. Pimpinan massa memimpin barisan di atas mobil komando.

Di depan kantor Bupati Bima, sudah berkumpul 400-an warga dari kecamatan Ambalawi. Mereka juga memprotes kehadiran pertambangan pasir besi di daerahnya. Kantor Bupati juga dijaga oleh aparat kepolisian dan dipagari dengan kawat berduri.

Dengan demikian, ada dua kelompok massa aksi di depan kantor Bupati: massa FRAT yang datang dari timur ke barat. Sedangkan di sebelah barat sudah ada warga Ambalawi.

Pukul 13.30 WITA:

Warga yang kecewa dengan tidak adanya Bupati Ferry Zulkarnain dikantornya mulai merobohkan pagar besi. Pimpinan aksi FRAT menyerukan agar massanya tidak melakukan pengrusakan dan tetap bertahan di posisi masing-masing.

Tiba-tiba, tanpa diketahui siapa pemicunya, mulai terjadi pelemparan batu ke arah kantor Bupati. Saat itu, pimpinan aksi FRAT menyerukan massa untuk membentuk lingkaran berupa rantai manusia. Ini untuk mencegah terjadinya provokasi terhadap massa.

Di tempat lain di depan kantor Bupati, warga marah karena kehadiran seorang anggota Polisi yang mengambil gambar. Warga pun mengejar massa tersebut. (tidak diketahui nasib polisi tersebut).

Beberapa saat kemudian, mulai terjadi pembakaran bangunan kantor Bupati di sebelah kiri. Saat itu, polisi mulai melepaskan tembakan gas air mata ke arah massa. Akibatnya, massa pun marah dan tidak terkendali.

Tidak jelas:

Kantor bupati sudah hangus terbakar. Massa bergerak mundur dan berjalan menuju LP Bima (jaraknya kira-kira 1 kilometer dari kantor Bupati). Mereka menuntut pembebasan seluruh warga dan aktivis yang ditahan di LP tersebut. 42 orang warga dan aktivis yang ditahan di LP Bima berhasil dibebaskan oleh massa rakyat.

Tidak jelas:

FRAT menarik puluhan ribu massanya untuk kembali ke desa masing-masing.

*) Sumber Kronologis: Ahmad Rifai, aktivis Serikat Tani Nasional (STN), salah satu organisasi yang tergabung dalam Front Rakyat Anti Tambang (FRAT) Bima.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut