Venezuela Ciptakan Jejaring Sosial Alternatif

Venezuela sudah mempunyai jejaring sosial baru: Plaxed. Jejaring sosial ini mirip dengan twitter: postingan singkat (200 kata), juga undangan, jajak pendapat, dan pertanyaan.

Jejaring sosial ini, kata pembuatnya, Cesar Cotiz, seorang mahasiswa insinyur sistem, diciptakan sebagai situs alternatif untuk data personal dan file pada jaringan yang tidak diblokir, dihapus, atau diintai oleh UU Amerika Serikat atau negara lain.

Jejaring sosial ini sudah berumur satu setengah tahun yang lalu.  Tetapi sempat terhenti oleh proses peradilan. Lalu, ketika proyek ini kembali diakttifkan, setidaknya 10.000 pengguna baru mendaftar setiap harinya.

“Kami ingin jejaring sosial khusus untuk Venezuela, untuk telpon dan desktop, dan ini benar-benar gratis. Siapapun dapat membuat jejaring sosial, baik untuk pengguna personal maupun bisnis,” kata Cotiz.

Plaxed sendiri masih dalam proses pengembangan. Dibasiskan pada freeware, StatusNet, jejaring sosial ini masih mengandung banyak bahasa Inggris, yang secara pelan-pelan akan diganti. Jejaring sosial ini tidak punya iklan, dan namanya pun belum punya arti.

“Ini penting bahwa Venezuela secara bertahap mengambil teknologi baru dan punya jejaring sosial baru. Ini untuk menghilangkan ketergantungan terhadap website negara lain, yang tunduk pada hukum negara tersebut, sehingga mereka bisa mengambil informasi dari kami kapan saja dan mereka dapat melakukan apapun dengan itu,” kata Luigino Bracci kepada Correo del Orinoco.

Lebih menarik lagi, berbeda dengan jejaring sosial seperti facebook dan twitter, Flaxed tunduk pada hukum Venezuela. Dengan demikian, orang tidak perlu khawatir mengalami perlakuan seperti di Facebook dan Twitter.

Jejaring sosial tumbuh pesat di Venezuela dalam beberapa tahun terakhir. Pengguna internet pun sudah mencapai 40%. Sementara Presiden Hugo Chavez sendiri sudah punya account twitter dengan banyak followers di negeri itu.

Menurut laporan Tendencias Digitales, Venezuela adalah pengguna jejaring sosial terbesar ketiga di benua Amerika Latin, dengan 30% pengguna internet terdaftar di Facebook dan 21% di Twitter.

Tahun lalu, organisasi PBB Unesco memberi penghargaan Hamad Bin Isa Al-Khalifa  kepada infocenter Venezuela karena prestasinya menyediakan akses internet gratis, juga pelatihan, khususnya kepada rakyat yang sebelumnya tidak bisa tersentuh internet karena kemiskinan atau faktor lokasi. Pada tahun 2010, ada 668 infocenter di Venezuela, dan sejak itu makin banyak yang terbangun.

TAMARA PEARSON (Venezuela Analysis)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut