Kronologi Tragedi Berdarah di Gerbang Kampus UBK

20 Oktober 2010. Siang itu langit Ibu Kota sedang tak menentu. Panas terik tiba-tiba mendung. Rinai mulai membasahi bumi. Puluhan Mahasiswa di kampus UBK tampak kasak-kusuk menyusun suatu rencana. Hari ini tepat setahun SBY-Budiono memerintah negeri ini paska Pemilu 2009.

Jam menunjukkan pukul 12.00. Semua tahu, saat itu matahari berada persis di puncak kepala. Namun sinarnya tak begitulah lantaran hujan semakin deras. Sekitar 80 mahasiswa tampak mulai mengenakan almamater warna merah marum. Beberapa orang nampak asyik mencoba alat pengeras suara.

Tiga puluh menit kemudian, sebuah bis memasuki gerbang kampus UBK. Bis itu membawa sekitar 30 mahasiswa dari Front Mahasiswa USNI. Kedatangan mereka disambut hangat anak-anak UBK. Mereka bersalaman, saling melempar senyum dan bertegur sapa. Hujanpun berangsur reda.

Tak berselang lama, pukul 12.45, delapan orang mahasiswa mengenakan almamater STMIK Jayakarta menunggangi empat sepeda motor yang datang ke UBK. Sama dengan sebelumnya, anak-anak muda ini saling berjabat tangan berpelukan dan saling menanyakan kabar. Kini, hujan sudah betul-betul reda.

Sejurus kemudian, giliran dua bus mengangkut sekitar 60 mahasiswa dari UIN Syarif Hidayatullah datang ke UBK di Jalan Kimia No.20 Cikini, Menteng, Jakarta Pusat.

Massa berkumpul di sekitar patung Bung Karno yang baru saja diresmikan pada 17 Agustus 2010 lalu. Mereka menggelar mimbar bebas. Elsaf, mahasiswa Fakultas Hukum UBK memulai orasi.

Dia mengajak seluruh mahasiswa UBK untuk bergabung dalam aksi menuntut penggulingan SBY-Budiono yang dinilai mengingkari janji-janji untuk mensejahterakan rakyat semasa kampanye dulu.

Satu persatu mahasiswa UBK yang sedari tadi hanya menonton dari kantin dan muka kelas merapat ke patung. Jumlah massa di panggung mimbar bebas kian bertambah.  Elsaf mengajak massa mengepalkan tinju kiri sebagai simbol keberpihakan kepada rakyat yang berlawan.

Lalu dia memimpin massa mengumandangkan sumpah mahasiswa Indonesia.

“Sumpah mahasiswa Indonesia,” teriak Elsaf diikuti massa aksi.

Kami mahasiswa Indonesia bersumpah, bertanah air satu. Tanah air tanpa penindasan!

Kami mahasiswa Indonesia bersumpah, berbangsa satu. Bangsa yang gandrung akan keadilan!

Kami mahasiswa Indonesia bersumpah, berbahasa satu. Bahasa kebenaran!

“Hidup mahasiswa progresif revolusioner!” tandas Elsaf.

“Hidup!” teriak massa bergemuruh.

“Hidup rakyat!”

“Hiduuuuuuupp….”

Kini, cuaca kembali terik. Lalu Elsaf memimpin massa menyanyikan lagu Darah Juang dengan tangan kiri masih terkepal.

Di sini negeri kami/Tempat padi terhampar/Samuderanya kaya raya/Tanah kami subur tuhan/Di negeri permai ini/Berjuta rakyat bersimbah luka/Anak buruh tak sekolah/Pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas haknya/Tergusur dan lapar/Bunda relakan darah juang kami/Untuk membebaskan rakyat.

Pukul 13.15, Kiti, mahasiswi Fisip UBK memimpin ratusan massa bergerak keluar kampus melintasi Jalan Kimia menuju Jalan Diponegoro sambil berorasi. Jarak yang ditempuh lebih kurang 500 meter. Sesampai di bibir pertemuan Jalan Kimia dan Jalan Diponegoro, tepatnya di depan kantor YLBHI, massa kembali menggelar mimbar bebas.

Massa kemudian saling bergandengan tangan menutup seluruh ruas Jalan Diponegoro. Barisan massa menghadap ke arah Megaria. Masing-masing perwakilan mahasiswa dari berbagai kampus berorasi secara bergantian. Kendaraan yang melintasi jalan tersebut terpaksa berbalik arah.

Pukul 14.00 massa membakar ban bekas. Bara api menyala-nyala bak membakar semangat anak-anak muda itu. Massa kemudian membakar foto SBY. Anak-anak muda yang berwajah kemerah-merahan ini menyatakan perang terhadap rezim SBY yang dinilai tunduk kepada neoliberalisme dan kapitalisme, sistem yang hanya akan memperpanjang barisan rakyat miskin di negeri ini.

Sejumlah petugas berseragam polisi tampak berjaga-jaga di sekitar lokasi. Beberapa di antaranya mencoba mencegah mahasiswa yang hendak membakar foto SBY. Namun gagal. Perlawanan mahasiswa tak dapat dibendung.

Sepuluh menit kemudian, pejabat teras dari Polsek Menteng didampingi beberapa anggotanya menghampiri massa. Dia meminta agar mahasiswa membuka jalan satu jalur agar kendaraan dapat melintas. Upaya inipun gagal. Massa bersikeras pada pendiriannya. Jalan tetap diblokir!

Pukul 14.30, giliran pejabat teras dari Polres Jakarta Pusat yang datang untuk bernegosiasi dengan massa mahasiswa. Kedatangannya didampingi beberapa provost dan pejabat teras dari Polsek Menteng yang tadi gagal membujuk massa.

Dia meminta mahasiswa agar membuka separoh bahu jalan. “Nada bicaranya tinggi. Dia membentak kita. Ini jelas membuat kita marah…” kata Rubi, mahasiswa Fisip UBK yang menjadi juru runding dengan polisi tersebut.

Massa aksi lagi-lagi tak menggubris. Mereka malah menerikan yel-yel, “Hati-hati…hati-hati…hati-hati provokasi!”

Entah apa yang memicu, terjadi saling dorong antara para pejabat teras dari kepolisian itu dengan juru runding dari pihak mahasiswa. “Aksi saling dorong ini dipicu sikap polisi yang mendorong kami terlebih dahulu ketika mereka memaksa agar separuh badan jalan dibuka,” tutur Rubi.

Aksi saling dorong itu berbuntut panjang. Bentrokanpun tak terhindarkan. Kedua belah pihak saling serang. Saling pukul-pukulan dan melempar batu. Konsentrasi massa mahasiswa pecah. Mereka pontang-panting. Tercerai berai. Massa mundur ke arah dalam Jalan Kimia.

Massa membuat benteng pertahanan di bibir Jalan Kimia. Aksi saling lempar batu masih berlangsung sengit. Suasana tak terkendali. Beberapa kali letusan senjata polisi terdengar. Ada juga petugas yang mengarahkan tembakannya ke arah kerumunan mahasiswa.

Farel Restu, mahasiswa Fakultas Hukum UBK tersungkur. Peluru menembus kaki kiri Juki, demikian Farel Restu biasa disapa kawan-kawan sepermainannya. Betis Juki bolong.

Peristiwa itu berlangsung begitu cepat. Kemelut ‘di depan gawang’ kampus UBK itu juga menyebabkan tiga orang mahasiswa tertangkap. Mereka, Ryan (mahasiswa USNI), Abil (Mahasiswa FTSP UBK) dan Yongki (Mahasiswa UIN). Ketiganya digelandang ke mobil tahanan dan dipukuli. Lalu dibawa ke Polres Jakarta Pusat.

Bentrokan masih berlangsung. Satu jam kemudian polisi menarik mundur pasukan ke arah Megaria.

Pukul 16.30, massa kembali menguasai dan menutup Jalan Diponegoro sambil berorasi menyoal tindakan represif aparat. Mereka menyanyikan lagu-lagu perjuangan.

Sementara itu, korban yang tertembak langsung dilarikan ke RSCM oleh rekan-rekannya.  Aksi penutupan jalan dan bakar-bakaran ban terus berlangsung. Dalam orasinya massa mendesak agar polisi membebaskan kawan-kawan mereka yang tertangkap.

Sekitar pukul 17.15 tiga mahasiswa yang ditahan dibebaskan. Mereka kembali bergabung dengan kawan-kawannya melanjutkan aksi menuntut penggulingan SBY.

Pukul 17.53, Kabagops Polres Jakarta Pusat, AKBP Wibowo mendatangi massa untuk negosiasi.  Dia mengakui bahwa anggotanya telah menembak mahasiswa dengan senjata. Dan berjanji akan mengusut kasus tersebut serta menanggung seluruh biaya pengobatan

Massa menyambut pernyataan Wibowo dengan yel-yel serta nyanyian berlirik sesal terhadap perilaku aparat yang main tembak sembarangan.

Di kerumunan massa tampak juga hilir mudik Purek 3 UBK, Daniel Panda. Dia mencoba memediasi mahasiswa dan aparat kepolisian.

Polisi kembali ke arah Megeria. Sementara mahasiwa terus menggelar aksi mimbar bebas menutup jalan. Lalu lintas dialihkan ke arah Tugu Proklamasi. Jalan Diponegoro ditutup total oleh truk-truk polisi di depan Megaria.

Langit mulai gelap. Ban bekas tak henti-hentinya dibakar. Upaya polisi membujuk mahasiswa tidak berhasil.

Sekitar pukul 19.00 polisi membuka jalan yang tadinya diblokir pakai mobil  tronton polisi dan pasukan motor di depan Megaria. Mereka meninggalkan lokasi dan meluncur ke arah Barat.

Setelah polisi pergi, Kiti, perempuan tinggi semampai berambut sebahu yang memimpin aksi berorasi dan lalu membubarkan aksi. Massa kemudian balik kanan masuk ke dalam kampus UBK.

Malam tadi massa menginap di dalam kampus. Ada juga yang menginap di RSCM menjaga teman mereka yang tertembak yang sedang menjalani operasi pengangkatan peluru yang bersarang di kakinya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • rahman

    1 tahun sudah pemerintahan SBY-BuUDIONO berjalan namun perubahan mendasar terhadap kesejateraan rakyat sangatlah jauh dari harapan seluruh rakyat. dalam 1 tahun pemerintahannya bukannya membawa rakyatnya menuu kesejahteraan malah membawa kesengsaraan bagi seluruh rakyat ndnesia dengan prgram neoliberalismenya. ni dapat kta liat dengan bertambahnya kuantitas jumlah pengangguran, bertambahnya jumlah masyarakat miskin yang membuat mereka tidak dapat menyeklahkan anaknya akbat mahalnya menuju akses pendidkan.
    dengan kondisi tersebut membuat masyarakat mulai jerah terhadap Pemerintahan SBY-BUDIONO dengan melakukan aksi besar-besaran. Namun dalam aks mereka, mereka harus berhadapan dengan phak aparat kepolsian yang tidak akan pernah bersahabat dengan para pengunjuk rasa tersebut karena bagi mereka para pengunjuk rasa tersebut adalah pemberontak (PKI gaya baru) yang harus dimusnahkan dari bumi pertiwi ini dengan mencari segala macam alasan untuk meringkus mereka.
    maka kita jangan heran tindakan aparat kepolisian sangat tidak bersahabat kepada para pengunjuk rasa dari mahasiswa UBK….
    selanjutnya janji Kabagops Polres Jakarta Pusat hanya akan menjadi sebuah janji yang tidak akan pernah dilaksanakan, maka dengan itu seharusnyalah para pengunjuk harus menyikapi hal tersebut dengan cara mengontrol pihak kepolisian dalam memproses anggota mereka sampai tuntas.
    Dan terakhir aku berpesan kepada seluruh rakyat Indonesia marilah kita bersatu untuk berjuang bersama menuntut hak kita yang selama ini tak pernah kita terima dan jangan pernah mengenal kata letih dalam berjuang…..
    hidup rakyat.,., hidup rakyat.,.,. hidup rakyat.,..,.
    lawan atau miskn selamanya.,.,.

  • ALI

    WAH EMANG POLISI KALAU KENA GETAHNYA ITU OKNUM, PADA PADAHAL SEALU NGITU TERUS, BERARTIM OKNUM SEMUA DONG