Korban Dari Proyek “Perang Melawan Terorisme” AS

Merujuk ke pemberitaan media besar, dunia berkabung atas kematian 130-an orang di Paris, Perancis, akibat serangan teroris yang tergabung dalam Negara Islam (ISIS). Tetapi sangat sedikit diantara kita yang mengingat bahwa ada 4 juta warga sipil tak berdosa akibat “perang melawan terorisme” yang dikobarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan sekutunya.

Media-media besar juga gagal mengakui bahwa yang patut dipersalahkan dalam serangan kelompok ISIS di Paris adalah Washington. Karena, seperti diungkap studi Global Research baru-baru ini, kelompok tersebut adalah buatan mereka.

“Sama seperti Al-Qaeda, kelompok ISIS dibuat oleh AS, sebuah instrumen teror untuk memecah-belah dan menaklukkan negara kaya minyak di Timur Tengah dan untuk melawan menguatnya pengaruh Iran di kawasan ini,” tulis Center for Research on Globalization.

Lebih lanjut mereka menulis, “fakta bahwa AS punya sejarah panjang menyokong kelompok teroris akan mengejutkan bagi mereka yang suka menonton berita dan mengabaikan sejarah.”

Menurut Global Research, CIA (Badan Intelijen AS) mulai beralih ke kelompok ekstremis di timur tengah sejak era perang dingin.

Mantan Direktur Badan Keamanan Nasional AS, William Odom, pernah mengakui pada tahun 2013 bahwa AS sudah lama menggunakan terorisme.

Mantan Sekretaris Luar Negeri Inggris, Robin Cook, mengatakan kepada parlemen Inggris segera setelah serangan 9/11 di AS bahwa CIA melatih ribuan ekstrimis, dengan dukungan pendanaan dari Saudi Arabia, untuk mengalahkan Uni Soviet di Afghanistan.

Lebih lanjut Global Research menulis, seperti juga banyak intervensi AS terhadap negara berdaulat lainnya, kebijakan luar negeri AS di timur tengah telah menjadi bumerang.

“ISIS adalah senjata terbaru (digunakan Washington) yang, seperti juga Al-Qaeda, pasti meledak sendiri,” kata laporan itu.

Pada bulan Maret, organisasi Physicians for Social Responsibility (PSR) yang berbasis di Washington merilis laporan bahwa intervensi AS di Irak, Afghanistan, dan Pakistan menyebabkan 2 juta manusia tak berdosa tewas. Dan angka itu mendekati 4 juta jiwa jika digabungkan dengan intervensi AS di negara lain, seperti Suriah dan Yaman.

Sedangkan catatan Statista—sebuah website yang khusus menciptakan statistik untuk isu tertentu—mencatat bahwa jumlah kematian di kalangan sipil tak berdosa di seluruh dunia akibat serangan teroris antara 2006 hingga 2013 tidak kurang dari 200 ribu jiwa.

1

Global Research mengutip laporan PBB: di Irak, AS dan sekutunya memberlakukan “sanksi brutal” terhadap pemerintahan Saddam Husein menyebabkan kematian 1,7 jiwa warga sipil Irak. Hampir setengahnya adalah anak-anak.

“Kematian massal tampaknya menjadi tujuannya. Diantara beberapa jenis barang yang dilarang oleh sanksi PBB adalah bahan kimia dan peralatan yang penting bagi sistim pengelolaan dan pemeliharaan air nasional Irak. Professor Thomas Nagy dari School of Business at George Washington University, yang menemukan dokumen rahasia Agen Intelijen Pertahanan AS (DIA), bilang: ini adalah awal dari blueprint genosida terhadap rakyat Irak,” tulis PSR dalam laporannya.

Dengan kata lain, menurut PSR, AS sengaja mengembangkan “metode yang sepenuhnya dapat diterapkan” untuk “sepenuhnya menurunkan kualitas sistim pemeliharaan air” yang dikonsumsi oleh rakyat Irak selama satu dekade. Kebijakan sanksi AS mengkondisikan tersebarnya penyakit, termasuk epidemi, yang melikuidasi porsi yang signifikan dari rakyat Irak.

Studi lebih lanjut mengungkapkan bahwa antara 1991-2003—era perang teluk yang dikomandoi AS dan eranya saksi AS terhadap Irak—AS harus bertanggung-jawab atas kematian 1,9 juta rakyat Irak. Dan dari 2003 hingga sekarang, satu jutaan orang terbunuh akibat intervensi yang dilakukan AS.

Penulis dan peneliti Gideon Polya, dalam bukunya di tahun 2007 berjudul Body Count: Global Avoidable Mortality Since 1950, menulis bahwa intervensi AS di Afghanistan menyebabkan 3 juta orang tewas, dimana 900 ribu diantaranya adalah bayi di bawah lima tahun.

Lebih lanjut, Global Research menulis, “kenyataan bahwa AS dan sekutu baratnya mengutuk para ekstremis yang mereka ciptakan berarti mereka harus serius mempertimbangkan pergeseran strategi untuk melawan terorisme.

2

“Dana yang dibelanjakan AS untuk proyek kontra-terorisme seharusnya dialihkan untuk hal yang lebih signifikan, seperti kecelakaan industri (53.000 kasus), kejahatan disertai kekerasan (22.000), kecelakaan mobil (8000), dan kanker (540).

teleSUR / Olivier Acuña

Diterjemahkan oleh: Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut