Refleksi Bagi Negara Adidaya Setelah Penyerangan Paris

Penyerangan Paris menorehkan luka yang mendalam bagi banyak orang. Sebanyak 129 orang tewas, 352 orang terluka, 99 orang kritis, dan sampai hari ini sebanyak sebelas orang pelaku dan yang dianggap terlibat telah tewas. Jumlah korban jiwa ini masih akan bertambah karena pengejaran para pelaku masih terus dilakukan dan banyaknya korban yang masih kritis.

Tak pelak, peristiwa ini mengisi ruang publik kita setiap saat. Beragam aspek dibahas, mulai dari berita mengenai reaksi keluarga korban dan masyarakat dunia, berita tentang para pelaku menyiapkan aksinya hingga tidak tercium intelijen, berita solidaritas dari berbagai dunia, siapa pelaku yang sesungguhnya, apa yang melatarbelakangi dan menginspirasi para pelaku melakukan aksinya. Kalau kita perhatikan, ada tiga garis besar mengisi pemberitaan. Pertama adalah tentang korban dan keluarganya, kedua adalah pengejaran para pelaku dan perancangnya, dan ketiga adalah aksi militer yang dilakukan oleh Perancis dan Negara sekutu untuk menghancurkan ISIS.

Mengingat besarnya dampak peristiwa ini, perlu dipertanyakan apakah sesungguhnya pemberitaan pada tiga topik besar ini yang seharusnya dan dengan cara yang seharusnya? Dan apakah ada hal yang mendasar yang tidak masuk dalam ruang pemberitaan media itu? Topik pertama yang diberitakan adalah dari sisi korban. Beberapa hari ini, surat yang ditulis oleh Antoine Leiris di akun media sosialnya yang berjudul “You Will Not Have My Hatred” tersiar sangat cepat (viral) keseluruh penjuru dunia. Kita sangat mengagumi kedewasaan dan kemanusiaan yang tak terperi yang ditunjukkan oleh Leiris yang kehilangan istrinya Helen Muyal-Leiris, 35 tahun, ibu dari anaknya yang baru berumur 17 bulan. Leiris kehilangan Helen saat para pelaku menembaki penonton konser sebuah grup musik cadas di Teater Bataclan. Leiris menuliskan, jika para pelaku membunuh atas nama Tuhan, Tuhan yang mencipta manusia serupa seperti Dia (imago dei-red), maka setiap peluru yang membunuh istrinya sama saja seperti menyarangkan peluru tersebut ke jantung Tuhan itu sendiri. Dengan begitu, dia tidak akan membenci pelaku, karena ketika membenci, maka dia akan sama dengan pelaku.

Berita yang mengulas sisi kemanusiaan seperti ini penting terlebih dalam situasi yang mudah terpicu oleh kemarahan. Bagaimanapun juga kita harus lebih banyak mendengar dari mereka yang paling terluka agar tidak terjadi efek samping yang justru menorehkan luka baru. Pentingnya hal tersebut merujuk pada pengalaman paska pemboman Menara Kembar 11 September 2001. Lebih kurang 300 serangan terjadi pada orang Sikh saja di Amerika Serikat (AS) setelah peristiwa pemboman dan yang paling  menggemparkan adalah pembunuhan terhadap Balbir Singh Sodhi. Padahal Balbir telah tinggal di AS sejak tahun 1989. Pembunuh bernama Frank Silva Roque menganggap Balbir seorang Arab karena berpakaian, berjanggut, dan menggunakan sorban seperti orang Arab. Kita tahu bahwa jeneralisasi dan stigmatisasi adalah hal tidak masuk akal dan sama sekali tidak ilmiah. Namun kita harus menyadari, masih banyak yang terperangkap pada pola pikir ini.

Topik kedua yang paling sering disinggung adalah pengejaran terhadap pelaku dan perancang penyerangan. Dalam berita-berita tersebut, kata yang paling sering digunakan adalah buru atau perburuan. Kita tidak tahu apakah media Indonesia yang latah mengikuti judul pemberitaan media asing yang menggunakan kata hunt atau media di jaman global ini sudah punya pola pikir yang  sama. CNN sebagai salah satu media berpengaruh di AS, begitu kita buka situsnya, pada halaman utama terpampang sebuah tema besar dengan huruf dan ukuran besar: MANHUNT NOT OVER.

bo1

Demikian juga media seperti Washington Post yang member judul seperti France bombs Islamic State HQ, hunts attacker who got away (https://www.washingtonpost.com/world/europe/eiffel-tower-goes-dark-as-france-mourns-129-dead/2015/11/14/5fe4d03e-8b3f-11e5-bd91-d385b244482f_story.html). Sementara media Indonesia memberi judul Teror Paris: Polisi Buru Orang Berbahaya: Abdeslam Salah (http://dunia.tempo.co/read/news/2015/11/16/117719114/teror-paris-polisi-buru-orang-berbahaya-abdeslam-salah). Barangkali kita abai atas penggunaan kata ini. Pertanyaan adalah mengapa kata yang digunakan untuk menangkap pelaku kasus pembunuhan masih lebih sering memakai kata mencari/mengejar atau search di media asing berbahasa Inggris? Sementara ketika kasus seperti ini kata yang digunakan adalah buru atau hunt.

Semua kita mafhum arti kata buru atau hunt yang paling utama. Apakah mereka binatang? Kalau iya, apa dasarnya? Saya tidak memiliki informasi yang sahih apakah media sudah memiliki kecenderungan penggunaan kata pada jenis-jenis pembunuh. Sadar atau tidak sadar, karena media sudah lebih condong menggunakan kata buru, ketika menggunakan kata sebagai hasil perburuan terhadap pelaku serangan Paris, seperti saat penggerebekan persembunyian, judul beritapun bisa membuat kening berkerut. Contohnya adalah EKSKLUSIF: Serunya Cerita Penggerebekan Teroris Paris (http://dunia.tempo.co/read/news/2015/11/19/117720323/eksklusif-serunya-cerita-penggerebekan-teroris-paris). Proses penangkapan (penggerebekan-red) terhadap pelaku yang mengakibatkan luka demikian mendalam dianggap sebagai kesenangan, kegembiraan, bahkan hiburan. Karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), salah turunan kata dasar buru adalah berburu dan contoh kalimat dalam KBBI adalah anak-anak berteriak-teriak sambil berburu layang-layang. Sepanjang ingatan saya yang pernah menjadi anak-anak, tidak pernah berburu layang-layang sambil sedih. Ada baiknya kita meminta bantuan ahli semiotika untuk memastikan apa makna dibalik penggunaan kata-kata ini.

Sementara itu, topik pemberitaan ketiga yang paling sering diliput adalah penyerbuan terhadap ISIS yang sekilas seperti reaksi normal atas serangan yang dianggap tidak beradab. Bila kita perhatikan dari urutan waktu, ada ketidakkonsistenan yang ditunjukkan oleh Perancis dan Negara Sekutu. Ketika beredar berita intelijen pada tanggal 11 September 2015 bahwa pasukan bersenjata Rusia telah ikut membantu pemerintah Suriah di bawah Presiden Bashar al-Assad, protes dari AS dan aliansinya segera beterbangan bak peluru. Pada tanggal 18 September, tujuh hari kemudian, Menteri Pertahanan AS Ashton B. Carter mengundang Menteri Pertahanan Rusia Sergei K. Shoigu untuk berdialog agar pasukan AS dan Rusia agar tidak saling bersaing di Suriah. Pada hari-hari selanjutnya AS dan sekutunya meminta Rusia menarik pasukan dan peralatan perangnya dari Suriah. Timbul pertanyaan, mengapa AS dan sekutu meminta Rusia menarik diri dari Suriah?

Untuk mendapat jawaban ini, sedikit banyak kita harus membuka catatan soal konflik Suriah. Sejak konflik di Suriah berkobar sejak tahun 2011 sebagai lanjutan dari Revolusi Musim Semi Arab (Arab Spring), AS telah mendanai berbagai kelompok untuk menumbangkan Assad karena satu-satunya negara yang dilanda Revolusi Musim Semi yang belum mereka kuasai adalah Suriah. AS memang memilih konsep proxy war atau perang menggunakan pihak lain setelah melihat kegagalan yang mereka capai di Irak dan Afganistan. Alih-alih dapat membuktikan bahwa pemerintahan Saddam membantu pelaku pemboman menara kembar serta Saddam memiliki senjata kimia yang mengancam perdamaian dunia, korban tentara AS yang tewas di Irak sampai tanggal 29 Mei 2012 sebanyak 4.425 orang. Korban tewas tersebut hampir dua kali lipat jumlahnya dibanding akibat pemboman menara kembar sebanyak 2.996 orang termasuk 19 orang pembajak. Angka ini semakin banyak bila kita kumpulkan korban di Afganistan maupun Libya. Belajar dari hal ini, AS melakukan perang melalui strategi pinjam tangan.

Saat menjalankan proxy war, AS dan sekutunya mendanai beragam kelompok tanpa melihat karakteristik kelompok-kelompok tersebut. Apakah yang didanai kelompok tersebut adalah ancaman di masa mendatang ataukah musuh dari demokrasi versi yang mereka kampanyekan. Penyederhanaan atas adagium musuh dari musuhku adalah teman dilakukan. Kelompok utama yang didanai adalah Tentara Pembebasan Suriah (Free Syrian Army-FSA) yang terdiri dari tiga kelompok sektarian yakni Sunni, Alawi, dan Druse. Namun sebenarnnya di dalam tubuh AS dan Sekutu sendiri pertanyaan tentang FSA ini juga muncul. Wartawan harian The Independent Inggris, Robert Fisk, menyatakan bahwa kelompok ini sesungguhnya adalah nama saja. Bahkan seorang pejabat tinggi militer AS yang tidak mau disebut namanya menyatakan bahwa lima puluh persen dari FSA adalah kelompok radikal. Kalau kita telisik, kelompok radikal di Suriah yang menentang Assad adalah Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), Front Al-Nusra, Khorasan Group, Jaish al-Muhajireen wal-Ansar, Jabhat Ansar al-Din, Harakat Fajr ash-Sham al-Islamiya, Harakat Sham al-Islam, dan belasan kelompok lainnya.

Beragam kelompok ini yang kemudian secara signifikan dapat mendesak kekuasan Assad dengan menguasai kota-kota penting seperti Raqqa, Deir Al-Zour, Sinjar, Aleppo, Kobani, Qaim, dan beberapa kota penting lainnya. Sejak tanggal 8 Augustus 2014 AS dan Sekutu telah melakukan lebih kurang 4.500 serangan udara terhadap ISIS dan kelompk radikal. Demikian juga sekutu AS seperti Bahrain, Jordania, Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab melakukan serangan udara hingga 2.700 kali. Namun kenyataannya justru wilayah dan kekuasaan Assad yang semakin tergerus hingga meminta bantuan Rusia. Tentu kita tergelitik, apakah benar AS dan Sekutunya membombardir ISIS atau malah serangan udara itu adalah perlindungan agar pasukan darat beragam kelompok tersebut memperluas penguasaan wilayahnya? Kalaupun ada kota yang hilang dari control ISIS akibat serangan udara adalah kota-kota yang berada di wilayah Irak seperti Hawija, Baiji, Ramadi, dan Sinjar yang terletak di perbatasan Suriah – Irak. Sampai bulan Juni 2015, ISIS tidak pernah kehilangan kota akibat serangan udara tersebut di wilayah Suriah. Kota Kobani berhasil direbutpun pada bulan Januari 2015 adalah oleh Pasukan Kurdistan yang beridiologi kiri. Bahkan seperti kita tahu, Turki malah membombardir Pasukan Kurdistan ini kemudian (http://www.berdikarionline.com/politik-erdogan-pura-pura-memerangi-isis-tapi-membantai-kurdi/).

Tak dapat dipungkiri, bahwa strategi seperti habis manis sepah dibuang yang memicu ISIS semakin beringas. ISIS yang bercikal bakal dari Jama’at al-Tawhid wal-Jihad merupakan salah satu kelompok yang turut berpartisipasi aktif saat Invasi Irak 2003. Kehilangan penguasaan atas beberapa kota di Irak, mereka seperti “terusir” kemudian memindahkan dan memusatkan kekuatan di kota Raqqa dan Aleppo. Setelah Raqqa dan Aleppo sepenuhnya dikuasai oleh ISIS, seiring penguatan kelompok pemberontak anti Assad non-ISIS seperti FSA hasil restrukturisasi setelah Kongres AS setuju mengucurkan US$ 500 juta dan Front Islam yang didanai oleh Arab Saudi, giliran kota Raqqa dan Aleppo yang dibombardir.

Dengan mengikuti alur ini, kita maklum bila AS dan sekutu secara aktif mengajak Rusia berkomunikasi meminta agar Rusia tidak membuat persaingan di Suriah. Bahkan secara terbuka menyerukan agar Rusia menarik pasukan dan persenjataannya dari Suriah. Agendanya sangat jelas, biarlah mereka yang mengusir ISIS dari wilayah yang selama ini telah lepas dari penguasaan pemerintahan Assad karena merekalah yang menjadikan ISIS sebagai proxy. Status ISIS sebagai teman, sebagai musuh dari musuh mereka-pemerintahan Assad telah melemah, sehingga status teman dengan ISIS harus diakhiri. Dalam perkiraan normal, tanpa bantuan Rusia, berat bagi pemerintahan Assad untuk bertahan.

ISIS,  organisasi yang memiliki watak kekerasan, memiliki strategi perluasan wilayah pertempuran, menciptakan chaos, ketakutan, dan memperbanyak rekrutmen pada kelompok muda, dipojokkan seperti ini semakin meningkatkan intensitasnya serangannya. Memanfaatkan media komunikasi yang semakin canggih, khususnya internet, daya jangkau rekrutmen dan terornya semakin meluas. Menggunakan internet sebagai alat kampanye, ISIS terhitung sukses. Internet yang memiliki kontradiksi dalam dirinya, dimana internet dapat menyatukan orang yang berpandangan sama melewati batas negara,  sekaligus mampu membuat seseorang membangun tembok kemanusiaan setinggi langit dengan tetangganya, dapat dieksploitasi oleh ISIS secara optimal. Apalagi yang mereka sasar adalah pemuda-pemuda berlatarbelakang muslim yang besar di negara maju tapi teralienasi. Alienasi seperti akibat perbedaan budaya, akses ekonomi, maupun politik dimanfaatkan agar mereka menjadi “pejuang-pejuang” individu untuk meneruskan corak kekerasan itu. Mereka menjadi serigala mandiri (“lone wolf”).

Dari peristiwa ini, Negara adidaya-khususnya AS dan Sekutunya harus sadar bahwa akar dari peristiwa penyerangan ini adalah dari  diri mereka sendiri. Watak kapitalisme yang memanfaatkan kekuasan atau supra struktur (politik-red) digunakan untuk melakukan eksploitasi ekonomi di semua penjuru dunia demi akumulasi modal itu. Apapun itu caranya! Jangankan mendukung diktator, seperti Pinochet, Soeharto, Mobarak dan banyak lagi, bahkan melahirkan dan memelihara kelompok terror pun akan dilakukan. Taliban, Al-qaeda, Front Al-Nusra, ISIS, dan puluhan kelompok lainnya pernah mendapat bantuan dari AS dan Sekutu.

Bila memang rasa kemanusiaan mereka terluka akibat penyerbuan ini, redefinisi atas kebijakan militer dan politik luar negeri harus segera dilakukan. Kita melihat Dunia saat ini monopolar, kekuasan politik dan ekonomi bertumpu di tangan mereka. Seharusnya mereka sadar dan ingat, khususnya AS, seperti yang dikatakan oleh Paman Ben Parker, yang membesarkan Peter Parker-sang Spiderman itu: “With great power comes great responsibility.” Kekuasaan yang besar diikuti tanggung jawab yang besar. Tanpa kesadaran itu, kita masih akan menyaksikan peristiwa serupa.

Benny Sitorus

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut