Kisah pilu dari Mentawai

Setelah berjuang melewati badai, perahu yang saya tumpangi berlabuh di Dusun Sabeuguggung, Kecataman Pagai Utara, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Saya berangkat dari Pelabuhan Sikapap. Jalur laut ke dusun yang luluh lantak dilanda tsunami, 25 Oktober lalu itu ditempuh dalam waktu dua jam. Di sini, saya mendulang cerita yang sangat memilukan. Inilah kisahnya…

*****

Malam itu Sri Hendrawati (28) dan suaminya Elsa Sago (37) sedang asyik menonton televisi. Berita menyiarkan ada gempa yang berpusat di dekat Muko-Muko, Bengkulu. Pasangan suami istri yang tinggal Dusun Sabeuguggung, Pagai Utara, Mentawai, Sumatera Barat ini merasakan getarannya, meski tak terlalu kuat.

Karena berpikir gempa berpusat di Bengkulu mereka tak ambil pusing. Lalu tiba-tiba saja terdengar dentuman. “Suaranya dari arah laut. Bunyinya seperti kapal tabrakan. Keras sekali,” kata Sri yang sehari-harinya menjadi guru di SDN Sabeuguggung.

Mendengar suara itu, Sri dan suaminya keluar rumah melihat lautan. Ternyata gelombang pasang. Sangat besar. Elsa lantas ke dalam rumah menggendong Ruth Evelin (7) anak perempuan mereka yang tengah tertidur lelap.

Mereka berlari sekencang mungkin ke arah ketinggian. Sangat kencang. Beradu kencang dengan ombak yang malam itu mengganas. Apa daya, ombak terlalu cepat. Keluarga kecil itu diterpa gelombang tsunami. Mereka tercerai-berai.

Ruth terlepas dari gendongan ayahnya. Sri terpisah dari suaminya. Di malam pekat, suami istri itu berjuang menyelamatkan diri masing-masing. “Sewaktu digulung ombak, saya berhasil meraih akar pohon beringin. Lalu berjuang memanjatnya,” kenang Sri.

Setelah itu Sri tidak tahu lagi apa yang terjadi. Dia kehabisan tenaga, lalu tak sadarkan diri. Pingsan. Malam itu, tsunami tak hanya menyapu Dusun Sabeuguggung. Sejumlah wilayah di Kepulauan Mentawai juga diamuk. Korban jiwa berjatuhan.

Esok paginya, saat mentari menyingsing, Sri siuman. Sejurus kemudian dia sudah bangkit dan langsung melangkahkan kaki mencari keluarganya. Hal sama juga dilakukan warga masyarakat lainnya, tak terkecuali Elsa.

Dusun itu kecil. Penduduknya,  136 orang. Terdiri dari 76 laki-laki dan 60 orang perempuan. Akibat amuk gelombang laut malam itu, lebih dari setengah penduduknya hilang.

Tak butuh waktu lama hingga pasangan suami istri itu saling menemukan. Mereka saling bertanya, “anak kita mana?”

Keduanya sama-sama mengangkat bahu, menggelengkan kepala. Pertemuan itu tak berlangsung lama. Tanpa acara melepas rindu, tanpa acara saling berpelukan, keduanya berpisah lagi. berpencar mencari si buah hati, Ruth Evelin.

Elsa terperanjat mendapati Ruth di tumpukan kayu-kayu, batang pohon yang patah dan tercerabut dari akarnya karena diterjang tsunami. Anak semata wayangnya telah pergi untuk selama-lamanya. Tanpa pikir panjang Elsa membawa mayat anaknya untuk dipertemukan dengan istrinya. “Dia sudah tiada…”

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut