Ketika Menstruasi Masih Dianggap Tabu

Menstruasi atau haid adalah peristiwa biologis alami dan siklis yang dialami oleh semua perempuan. Namun, siapa sangka, di negara Asia Selatan, khususnya India, menstruasi dianggap sebagai sesuatu yang tabu untuk dibicarakan.

Dikepung Mitos

Ada banyak mitos yang memojokkan perempuan yang sedang mengalami menstruasi. Mulai dari anggapan kuno bahwa perempuan yang megalami menstruasi itu “najis” alis tidak bersih. Hingga mitos bahwa sapi yang disentuh oleh perempuan menstruasi tidak akan menghasilkan susu dan mandul.

“Ketika seorang gadis di India mendapat menstruasi pertama kalinya, semua orang mengatakan bahwa dia tak lagi murni karena darah yang mengalir keluar dari dirinya itu kotor,” kata Urmila Chanam, seorang aktivis perempuan India.

Situasi itu membuat perempuan mengalami banyak diskriminasi. Mereka dilarang memasuki tempat-tempat suci. Ada juga yang melarang perempuan menstruasi memasak. Bahkan, dalam banyak kasus, perempuan yang menstruasi diasingkan ke tempat darurat di pinggiran desa.

Di masa lalu, perempuan memegang kendali penuh tanah pertanian. Hal ini terjadi karena perempuan dianggap mampu membuat buah-buahan dan padi-padian muncul dari dalam tanah. Tubuh perempuan dipercaya dapat membawa kekayaan yang tersembunyi dari dunia. Tanah adalah perempuan dan pada tubuh perempuan terdapat kekuatan gelap untuk memelihara kesuburan bumi (Simone de Beauvoir, Second Sex).

Di banyak negara, seperti India, ada mitos bahwa perempuan yang steril dan hamil dapat melipatgandakan hasil panen. Sedangkan menstruasi merupakan proses biologis dalam tubuh perempuan yang menghambat kehamilan. Karena itu, proses biologis menstruasi mulai dipersoalkan.

Dampak kesehatan

Karena mitos yang buruk seputar menstruasi, banyak perempuan India tidak mendapatkan hak untuk menjalani menstruasi secara sehat.

Sebuah data menyebutkan, hampir 88 anak perempuan di India tidak punya akses terhadap apa yang disebut dengan istilah WASH: air, sanitasi dan kebersihan, termasuk sabun atau perlengkapan sanitasi.

Kemudian, ada 63 juta perempuan remaja yang tidak punya toilet di dalam rumahnya. Sementara fasilitas toilet umum terkadang dibangun tanpa memperhatikan privasi perempuan. Akibatnya, perempuan India rentan terhadap pelecehan dan kekerasan seksual.

Karena soal mentruasi jarang dibahas –bahkan di antara keluarga, teman sebaya atau anggota masyarakat — banyak wanita melakukan hal yang sangat tidak sehat selama masa periode menstruasi mereka, termasuk penggunaan kain pembalut ynag tak bersih, terkena abu atau pasir. Akibatnya, infeksi saluran reproduksi (ISR) menjangkiti sekitar 70 persen perempuan.

Temuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lebih mengejutkan lagi. Menurut organisasi kesehatan itu, India menyumbang 27 persen kematian akibat kanker serviks. Padahal, ini berkaitan dengan miskinnya pengetahuan soal menstruasi yang sehat dan pemeliharaan organ reproduksi.

Ini juga berdampak pada pendidikan. Sebuah studi menyebutkan, banyak anak perempuan usia 12-18 tahun kehilangan lima hari sekolah mereka per bulan. Bahkan, ada 23 persen anak perempuan yang putus sekolah saat memasuki fase menstruasi.

Menstruasi sehat sebagai hak azasi

Prihatin dengan kondisi itu, sejumlah aktivis perempuan berusaha memecah berbagai mitos yang memojokkan perempuan yang mengalami menstruasi itu.

Urmila Chanam, seorang pekerja kesehatan di Bengalore, membuat kampanye yang disebut ‘Breaking the Silence’, yang mendorong perempuan dan laki-laki bisa lebih terbuka mendiskusikan isu menstruasi.

“Ada banyak kebohongan seputar itu (menstruasi), jadi penting bagi saya untuk memberitahu mereka tentang tubuh mereka dan tidak merasa malu atas tubuhnya sendiri,” kata Chanam.

Bermula dari media sosial, kini kampanye Chanam sudah menjangkau 6000-an perempuan di desa. Melalui akun facebooknya, dia juga berhasil mengumpulkan relawan yang siap turun berkampanye soal isu ini.

Namun, tidak semua perempuan India bisa mengakses internet, sehingga Chanam perlu melakukan kampanye dari pintu ke pintu untuk mengajak perempuan mengikuti workshop atau diskusi soal kesehatan reproduksi.

Selain itu, di media sosial muncul hashtag “HappyBleed”. Kampanye ini muncul setelah adanya larangan perempuan menstruasi memasuki tempat suci atau tempat peribadatan. Seperti kejadian pada November 2015, di kuil Sabrimala, Kerala, pemuka agama melarang perempuan dewasa untuk memasuki kuil karena alasan kotor. Pejabat kuil mengatakan, perempuan akan diijinkan untuk masuk, jika ada penemuan mesin yang dapat mendeteksi jika para perempuan itu masih ‘suci’ – artinya, mereka tidak sedang menstruasi.

Dalam napas perjuangan yang sama, dua orang aktivis, yakni Aditi Gupta dan Tuhin Paul, membuat komik dan website bernama Menstrupedia. Website itu menyediakan informasi menarik seputar menstruasi sebagai peristiwa alami bagi setiap perempuan. Komik hasil buah tangan dua aktivis ini kini menjadi bahan pelajaran di 20-an sekolah di India.

Kendati masih baru, kampanye-kampanye di atas mendapat sambutan perempuan India. Setidaknya mereka bisa lebih berani untuk berbicara atas hak mereka di tengah cekikan mitos kolot dan patriarki.

Rini Hartono, aktivis Aksi Perempuan Indonesia (API) Kartini

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut