Ketika Integritas Dan Rekam Jejak Menentukan

Jokowi.jpg

Banyak yang berkesimpulan, sekarang kekuatan figur lebih menentukan ketimbang mesin partai. Mereka merujuk pada kemenangan Jokowi-Basuki dalam pilkada DKI Jakarta. Menurut mereka, figur Jokowi-Basuki sangat menentukan dalam mempengaruhi sikap pemilih.

Inilah jaman demokrasi liberal. Politik tak ada ubahnya dengan barang-dagangan. Dan, di atas segalanya, kualitas figur/kandidat lebih memikat ketimbang partai-partai pengusungnya. Akhirnya, orang memilih kandidat tak ubahnya memilih barang berkualitas.

Jajak pendapat Kompas pada bulan Mei 2012 lalu juga memotret hal ini. Menurut jajak pendapat tersebut, mayoritas responden (66,2%) memilih kandidat karena pertimbangan integritas (kejujuran, sederhana, dan bersih). Lalu, 15,4% responden memilih kandidat karena rekam jejak. Dan hanya 1,7% responden memilih karena pertimbangan ideologi.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hal itu. Pertama, rakyat makin muak dengan partai politik. Survei Centre for strategic and International Studies (CSIS) menyimpulkan, hampir 48 persen rakyat tak lagi mempercayai parpol. Lalu, survei LSI mempertegas lagi bahwa 80 persen masyarakat lebih mendukung calon independen.

Kedua, rakyat sudah terlalu sering dibohongi oleh politisi. Sebab, selama puluhan tahun, ajang pemilu atau pilkada hanya menjadi arena mempertontonkan kebohongan demi kebohongan. Pada saat kampanye, politisi berlomba-lomba menjanjikan kesehteraan. Namun, begitu mereka berkuasa, mereka lupa akan janji-janji politiknya.

Ketiga, ada proses de-politisasi dan de-ideologisasi yang berlangsung massif selama puluhan tahun. Lalu, ketika angin reformasi bertiup kencang, tangan-tangan pasar pun mulai merambah kehidupan politik. Politik kita pun makin transaksional, pragmatis, dan apolitis. Konsep agitasi-propaganda telah tergantikan oleh istilah “politic marketing”.

Keempat, rakyat makin susah menemukan politisi bersih dan benar-benar berpolitik untuk rakyat. Seperti ditegaskan oleh desertasi Pramono Anung, bahwa motivasi utama orang menjadi calon legislatif/DPR adalah kepentingan ekonomi. Mereka terjun ke pentas politik untuk mencari nafkah. Tak heran, orang pun berlomba-lomba menjadi anggota DPR, sekalipun harus menggelontorkan uang banyak. Toh, kalau mereka berkuasa, mereka bisa merampok lebih banyak.

Kelima, politisi tradisional, yang korup dan klientalistik, mulai mengadopsi istilah-istilah progressif atau retorika-retorika kerakyatan. Dalam Pilkada, misalnya, hampir semua kandidat mengusung program-program berbau kerakyatan, seperti pendidikan dan kesehatan gratis, pemberdayaan ekonomi rakyat, dan lain-lain. Tak jarang, para kandidat juga mengadopsi jargon-jargon  gerakan perubahan.

Inilah yang menjelaskan, mengapa “Jokowi Effect” tidak berlaku umum di semua Pilkada. Di beberapa Pilkada, sejumlah kandidat berusaha menjiplak gaya Jokowi, tetapi berakhir dengan kekalahan. Memang, seragam “kotak-kotak” dan “kartu sakti” Jokowi bisa dijiplak, tetapi gagal memiliki integritas dan rekam jejak seperti Jokowi.

Hari ini rakyat sulit percaya pada politisi manapun. Karena itu, untuk mengembalikan kepercayaan rakyat, yang dibutuhkan adalah praktek politik yang berbeda dengan politisi dan partai tradisional pada umumnya. Rakyat sebetulnya belum sepenuhnya menceraikan politik, namun merindukan jenis politik yang berbeda: tidak korup, transparan, pro-rakyat, dan menjalankan demokrasi partisipatif.

Rakyat merindukan politisi yang punya integritas—bersih, jujur, sederhana, mau mendengar rakyat, pekerja keras, rajin turun ke bawah—dan punya rekam jejak yang bersih. Banyak yang mengatakan, rakyat sekarang ini sudah teracuni oleh politik uang, pragmatisme, dan pencitraan. Pada kenyataannya, sepenglihatan kami, rakyat punya logika politik dan penilaian tersendiri. Perlahan-lahan rakyat juga mulai memahami perbedaan antara yang “asli” dan “pencitraan”.

Artinya, di depan kita masih tersedia banyak peluang untuk melakukan perubahan. Hanya saja, untuk bisa memanfaatkan peluang itu, kita butuh menciptakan alat politik alternatif dan tokoh alternatif.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut