Ketika India Bangkit Melawan Pemerkosaan

Perempuan India

Nirbhaya, yang berarti “Tak Kenal Takut”, adalah julukan terhadap mahasiswi berusia 23 tahun itu. Ia adalah korban perkosaan di atas sebuah bus, di New Delhi, pada tanggal 16 Desember 2012.

Pada tanggal 29 Desember 2012, setelah dua minggu berjuang untuk tetap hidup, perempuan pemberani itu meninggal. Seluruh India berkabung atas kepergian perempuan pemberani ini.

Perempuan muda itu memang pemberani.

Malam itu, dia dan teman prianya baru pulang dari nonton film. Mereka menunggu di sebuah halte. Sebuah bus yang berhenti di depan mereka dan memaksa keduanya naik. Ada 6 orang di atas bus itu, termasuk si pengemudi.

Di atas bus, si teman pria perempuan muda itu protes. Ia meminta agar dirinya dan perempuan itu diturunkan. Tetapi laki-laki di atas bus malah memukuli teman prianya itu. Perempuan muda itu tak terima dan berusaha membela teman prianya. Dia menggigit salah seorang diantara pelaku penyerangan itu.

Para penyerang berbalik kepadanya, memukulinya, dan kemudian memperkosanya. Seusai melampiaskan nafsu bejatnnya, si penyerang melempar perempuan muda itu dan teman prianya ke jalan raya.

Kejadian itu diberitakan ke seluruh India dan dunia. Sebuah kemarahan nasional kemudian meletus. Kabarnya, pasca kematian Gandhi, ini dianggap protes terbesar. Aksi protes mengutuk pemerkosaan berlangsung di seantero India.

Kemarin, 600-an gitaris berkumpul di kota dataran tinggi di wilayah timur India, Darjeeling, sembari menyanyikan lagu John Lennon “Imagine”, sebagai bentuk solidaritas untuk korban pemerkosaan.

Sementara, pada tanggal 2 Januari lalu, ribuan pengacara India turun ke jalan untuk menyatakan penolakan menjadi pembela pelaku pemerkosaan terhadap perempuan muda itu.

Kelompok hacker progressif, Anonymous, telah menyerang website kepolisian India sebagai bentuk protes atas lambannya proses penanganan terhadap pelaku pemerkosaan.

Sejumlah jalur kereta api yang menuju ke Ibukota India, New Delhi, ditutup beberapa hari untuk mencegah mengalirnya demonstran menuju ke kantor-kantor dan pusat pemerintahan.

Anggota parlemen India dari Partai Komunis, Brinda Karat, bilang, “kematian perempuan pemberani itu telah membangunkan India.” Maklum, kasus pemerkosaan, pelecehan, dan kekerasaan terhadap perempuan di India cukup tinggi.

Kelompok perempuan India menyebutkan, kasus perkosaan terjadi hampir setiap 20 menit di negerinya. Di Ibukota India, New Delhi, ada 635 kasus pemerkosaan dalam setahun.

Catatan Biro Arsip Kejahatan India menyebutkan, kasus pemerkosaan di India melonjak tajam 873,3% sejak tahun 1971 hingga 2011. Pada tahun 1971, jumlah kasus pemerkosaan tercatat 2.487 kasus. Namun, pada tahun 2011, jumlahnya sudah mencapai 24.206 kasus.

Sebuah survei PBB pada tahun 2010 mengungkapkan, sebanyak 80% perempuan di New Delhi mengaku pernah menghadapi pelecehan seksual, baik verbal, visual, maupun fisik.  Kondisi transportasi umum, yang penuh sesak dengan penumpang, menjadi tempat yang paling sering terjadi pelecehan seksual. Sebanyak 54% perempuan India merasa tidak aman ketika berada di atas transportasi umum ataupun di halte.

Banyak yang berpendapat, tingginya kasus pemerkosaan di India dipicu oleh minimnya jumlah polisi, atau perhatian polisi, dalam mengamankan perempuan yang beraktivitas di luar. Ada juga yang menyalahkan maraknya penggunaan alkohol.

Namun, di atas segalanya, aktivis perempuan India berpendapat, tingginya kasus pemerkosaan tidak terlepas dari sistem ekonomi-politik yang masih sangat patriarkal. Cara pandang patriarkal ini, yang masih eksis di berbagai lini kehidupan rakyat India, selalu menempatkan perempuan lebih rendah dari kaum pria.

Sanksi terhadap pemerkosa juga banyak disoroti di India. Maklum, dalam banyak kasus, sanksi terhadap pelaku pemerkosaan di India sangat ringan. Akibatnya, banyak pelaku pemerkosaan merasa tindakannya tidak begitu dirintangi oleh aturan hukum.

Banyak kaum perempuan, khususnya kaum muda, mengusulkan agar pelaku pemerkosaan dihukum mati. Namun, ada pula yang mengusulkan agar pelaku pemerkosaan cukup dikebiri. Sedangkan yang lain mendesak agar penegakan hukum terhadap pelaku pemerkosaan ditingkatkan.

Namun, terlepas dari perdebatan di atas, kemarahan nasional rakyat India yang sudah berlangsung berminggu-minggu ini menegaskan satu hal: pemerkosaan tak lagi dianggap persoalan kaum perempuan semata, tetapi sudah dianggap persoalan bangsa.

Yang marah bukan perempuan saja, tetapi sebuah bangsa. Keberanian perempuan muda itu, yang telah pergi dengan mewariskan semangat keberaniannya, telah membangunkan bangsa India. Pemerkosaan terhadap perempuan adalah pemerkosaan terhadap bangsa itu sendiri. Karena itu, India masih punya harapan.

Bagaimana dengan Indonesia? Bukankah kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual di Indonesia juga sangat parah? Mungkingkah bangsa ini mau bertindak dan bergerak bersama-sama mengutuk dan mengakhiri perbuatan bejat itu?

Anna Yulianti, warga Jakarta yang tertarik dengan isu sosial, perempuan, dan Hak Azasi Manusia (HAM).

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut