Ketika Agama Jadi Candu

Masih ingat kata-kata Karl Marx: agama adalah candu bagi massa-rakyat. Anda bisa tidak setuju dengan pernyataan filsuf Jerman itu, tetapi banyak praktik keberagamaan di berbagai pojok dunia ini yang membenarkannya.

Itu juga yang terjadi di Irlandia di tahun awal abad 20.  Saat itu, agama menjadi senjata untuk menegakkan kedamaian hidup para kapitalis dan tuan tanah. Siapapun yang hendak menggugat tatanan itu akan segera dicap sebagai “komunis”.

Sutradara film Inggris Ken Loach berusaha mengangkat zaman gelap Irlandia itu ke layar lebar melalui film berjudul: Jimmy Hall (2004). Film berdurasi 106 menit itu menceritakan perjuangan seorang seniman kiri, Jimmy Gralton, dalam melawan kesewenang-wenangan tiga serangkai: tuan tanah, kapitalis dan kaum agamawan.

***

Siapa sebenarnya Jimmy Gralton ini?

Jimmy lahir di Effernagh, negara Leitrim, Irlandia, pada 1886. Dia adalah anak petani miskin. Kemiskinan juga yang membuatnya putus sekolah pada usia 14 tahun. Namun, berkat ibunya yang menjalankan perpustakaan keliling, Jimmy kecil banyak membaca.

Seperti banyak pemuda-pemuda miskin Irlandia lainnya, Jimmy sempat bermigrasi ke Inggris untuk mencari pekerjaan. Dia sempat menjadi tentara Inggris, tetapi menolak untuk dikirim memerangi India. Dia kemudian bekerja sebagai buruh pelabuhan. Hingga, pada 1900-an, dia pindah bekerja ke New York, Amerika Serikat.

Jimmy pulang kampung di tahun 1921. Saat itu Irlandia sedang dilanda pemberontakan sosial. Di desa-desa, termasuk di kampung halamannya Jimmy, terjadi pergolakan antara petani melawan tuan tanah. Banyak petani penyewa yang diusir paksa oleh tuan tanah.

Dia menggabungkan diri dengan Komite Aksi Langsung (Direct Action Comitte) Leitrim, sebuah komite perjuangan lokal untuk membantu petani dan penyewa yang terusir dari tanahnya. Dia juga bergabung dengan Grup Pekerja Revolusioner, cikal baka Partai Komunis Irlandia, di Leitrim.

Yang menarik, Jimmy membuat sebuah tempat pertemuan yang menyerupai aula. Dia menamai aula itu dengan menggabungkan nama dua tokoh pemimpin pemberontakan Paskah di Irlandia (Easter Rising) tahun 1916, yaitu Patrick Pease dan Patrick Pearse dan James Connoly: Pearse-Connoly Hall.

Ini bukan aula sembarang aula; ini aula perlawanan. Di aula itu orang berdansa dan belajar segala hal: menari, menyanyi, melukis, menjahit, tinju dan lain-lain. Di situ juga orang berdikusi soal-soal politik dan persoalan-persoalan rakyat.

Itulah yang membuat para kapitalis dan tuan tanah, yang disokong oleh gereja Katolik, sangat ketakutan dengan aula itu. Mereka menyebutnya rumah setan.

Tahun 1922, Jimmy dipaksa pergi dari kampung halamannya menuju New York, Amerika Serikat. Dia tinggal di sana selama 10 tahun. Dan baru pulang kampung setelah negeri Paman Sam dicekik depresi ekonomi besar.

***

Film Jimmy Hall berkisah seputar kepulangan Jimmy (Barry Ward) ke kampung halamannya di tahun 1932. Saat itu, Irlandia baru saja beralih kekuasaan ke tangan Eamon de Valera, seorang pemimpin perang kemerdekaan dan penentang hukum Inggris.

Pemerintahan de Valera memberi harapan. Setidaknya bagi Jimmy dan banyak kaum progressif. Itulah, antara lain, alasan kuat yang mendorong Jimmy kembali ke kampung halamannya: semuanya sudah berubah.

Tetapi kenyataan tidak demikian. Perampasan tanah petani oleh tuan tanah terus terjadi. Banyak petani penyewa yang terusir dari tanah dan gubuknya lantaran telat membayar sewa. Sementara kaum muda, yang sebagian menganggur, tidak menemukan ruang bebas untuk mengekspresikan diri. Di sisi lain, konservatisme masih mencekik kuat kehidupan rakyat.

Awalnya, Jimmy berharap kepulangannya untuk hidup damai sekaligus berbakti kepada ibunya. Namun, mana ada manusia progressif-revolusioner di dunia ini yang bisa diam melihat penindasan? Itulah yang membuat Jimmy membangun kembali aulanya.

Singkat cerita, aula kembali berjalan: dansa, musik, melukis, tinju, diskusi politik, hingga pertemuan-pertemuan politik. Anak-anak muda desa seakan menemukan oase baru di tengah keringnya kehidupan akibat dicekik oleh krisis ekonomi dan konservatisme.

Tetapi gereja dan kaum konservatif tidak senang. Pater Sheridan (Jim Norton), pemimpin gereja setempat, merupakan orang yang tidak suka dengan Jimmy dan aula-nya itu. Dia menganggap Jimmy dan Aulanya sebagai ancaman terhadap ketertiban sosial dan norma-norma gereja Katolik.

Pater Sheridan tahu betul bahaya Aula itu. “Pertama menari, kemudian buku. Dimulai dengan kakinya, kemudian naik ke otaknya,” kata Pater Sheridan. Dan itu memang betul: dansa/tarian membebaskan kaki. Setelah kaki terbebas, maka kepala/otak pun menuntut bebas. Dan ketika otak dibebaskan, maka ia mulai mempertanyakan dan menggugat segala hal. Termasuk menggugat tatanan yang tidak adil.

Tetapi Pater Sheridan ini menarik. Di satu sisi, dia sangat anti-komunis. Tetapi di sisi lain, dia sadar ada kemiripan antara seruan-seruan komunisme dengan agama (khususnya Katolik). Seperti slogan komunis yang terkenal “dari setiap orang berdasarkan kemampuannya, menjadi setiap orang berdasarkan kebutuhannya” itu mirip dengan “cintailah sesama manusia seperti kau mencintai dirimu”. Ya, sama-sama menggerakkan seruan persaudaraan.

Namun, bagi Pater Sheridan, komunisme adalah ancaman bagi ketertiban sosial. Komunisme, dengan perjuangan kelasnya, mengganggu tatanan sosial yang mapan, membuat si kaya dan si miskin bermusuhan, buruh berhadapan dengan pengusaha, dan petani menentang tuan tanah.

Yang lebih berbahaya, kata Pater Sheridan, Gralton dan gerombolannya adalah komunis. Mereka atheis. Mereka mengingkari keberadaan Tuhan, Trinitas dan kelahiran dari Sang Perawan.

“Jadi, kami memberi kalian pilihan: Yesus atau Gralton?” tegas Bapa Sheridan dalam khotbahnya.

Begitulah upaya Gereja, yang merasa punya tugas dan wewenang untuk mencegah ancaman terhadap keutuhan masyarakat, mencegah orang-orang, terutama kaum muda, mendekati Jimmy Gralton dan Aulanya.

Itulah yang disebut oleh Marx dalam risalahnya,  A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right, yang ditulis 172 tahun yang lampau: “Penderitaan religius, pada saat yang bersamaan, adalah ekspresi dari penderitaan riil dan protes terhadap penderitaan riil tersebut. Agama adalah keluh-kesah makhluk tertindas, jantung-hati dari dunia yang tak berperasaan, dan jiwa dari situasi yang tak berjiwa. Agama adalah candu bagi massa-rakyat.”

Yang dikritik Marx bukan ajarannya, tetapi praktek keagamaan yang melanggengkan penindasan. Agama yang bertugas menjaga ketertiban sosial demi kenyamanan sang penindas. Agama yang menidurkan kaum tertindas di bawah janji-janji surga demi melanggengkan eksploitasi dan keserahan sang penindas.

Saking konservatifnya agama saat itu, musik jazz pun dimusuhi. Hanya karena musik Jazz berasal dari Afrika dan mengobarkan kemarahan dan goyangan pinggul.

Namun, bagi Jimmy, konsep keutuhan masyarakat itu–yang didasarkan pada kepercayaan yang sama dan kepentingan yang sama–sangat absurd. “Bagaimana mungkin kepentingan pekerja tambang atau pekerja industri bisa sama dengan pemiliknya (kapitalis)? Bagaimana mungkin kepentingan Tuan tanah bisa sama dengan petani tak bertanah?” katanya.

Dia juga mengutuk anggapan bahwa kemiskinan dan kesengsaraan itu takdir atau kehendak Tuhan. Katanya, kemiskinan itu hasil dari perbuatan manusia, buah dari sebuah sistim yang penuh eksploitasi dan keserakahan.

“Kita harus berdaulat atas hidup kita sendiri. Kerja untuk kebutuhan, bukan untuk keserakahan. Dan bukan hanya bertahan hidup layaknya anjing, tetapi untuk hidup dan menikmatinya. Bisa menari, bernyanyi, layaknya manusia bebas,” kata Jimmy.

Singkat cerita, aktivitas Jimmy dan Aulanya terus mendapat tekanan dari gereja dan milisi fasis. Mulai dari intimidasi hingga teror. Hingga, pada suatu malam menjelang Natal, Aula yang kaya dengan kreatifitas itu terbakar untuk kedua kalinya.

Jimmy sendiri akhirnya dideportasi paksa ke AS. Dia dinyatakan sebagai “orang asing ilegal” di kampung halamannya sendiri, di negeri yang menjadi tanah-airnya, tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Dia dilarang pulang ke negerinya hingga ajal menjemputnya 29 Desember 1945.

***

Film ini memang politis, seperti film hasil garapan Ken Loach yang lainnya. Dan ini bukan satu-satunya karya besar Ken Loach tentang Irlandia dan perjuangan rakyatnya. Pada tahun 2006, dia melahirkan film berjudul The Wind that Shakes the Barley, yang berkisah tentang perjuangan kemerdekaan Irlandia.

Yang menarik, kendati sangat politis, film-film Ken Loach tidak hambar dari kisah cinta. Termasuk di film Jimmy Hall ini. Ada kisah cinta tak terpatahkan antara Jimmy dengan kekasihnya, Oonagh (Simone Kirby). Kendati berulangkali terpisahkan karena persoalan politik, cinta keduanya tetap berkobar di hati masing-masing.

Kusno

Jimmy Hall (2014) | Durasi: 106 menit | Negara: Inggris, Irlandia, Perancis | Sutradara: Ken Loach | Pemain: Barry Ward, Simone Kirby, Jim Norton, Francis Magee, Aileen Henry dan lain-lain

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut