Kepada Kaum Intelektual

Baru-baru ini sejumlah kelompok intelektual atau cendekiawan di Indonesia melakukan konsolidasi. Di antaranya adalah Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang baru memilih Presidium pada awal bulan ini, Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) yang baru mengukuhkan Presidium terpilihnya, dan pertemuan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) di Jakarta minggu lalu. Yang terakhir disebut merupakan perkumpulan ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang berprestasi dan berprofesi di manca negara, yang dalam pertemuan itu akan mencari solusi atas permasalahan bangsa sesuai bidangnya masing-masing. Memang, I-4 merupakan suatu inisiatif yang relatif baru, dibentuk oleh perkumpulan mahasiswa dan pelajar di luar negeri pada 2009. Sementara ICMI telah berusia 20 tahun dan ISKA bahkan telah berdiri sejak 1958. Wajarlah bila kedua perkumpulan intelektual ini bertaburan tokoh-tokoh politik dan pengusaha yang berkuasa di negeri ini.

Di sini istilah intelektual atau cendekiawan secara singkat dapat dijelaskan sebagai kaum yang kontribusi utamanya adalah menggunakan kemampuan intelek atau akal dan pengetahuannya dalam memproduksi dan menyebarluaskan gagasan-gagasan. Maka, meskipun pengertian ini cenderung merujuk kepada kalangan terpelajar atau akademisi, namun dalam kenyataannya cakupannya lebih luas dari itu. Sejarah menunjukan kaum intelektual hebat yang bukan dihasilkan dari bangku universitas melainkan dari pengalaman dan keuletan dalam belajar. Sebutlah sastrawan raksasa Indonesia yang menjadi satu-satunya calon penerima Nobel Sastra dari Indonesia, alm. Pramoedya Ananta Toer.

Peran kaum intelektual dalam sejarah dan kelahiran Indonesia sangatlah penting. Hampir seluruh pemimpin perjuangan kemerdekaan berasal dari kalangan terpelajar yang meskipun jumlahnya kecil dibandingkan penduduk pada saat itu, mereka mampu mengidentifikasikan dirinya dengan rakyat yang tertindas dan terjajah dan kemudian mendedikasikan hidupnya kepada pergerakan rakyat. Inilah yang menjadi kisah hidup “Sang Pemula”, Tirto Adisuryo, sebagai perintis kebangkitan nasional yang menyebarluaskan gagasannya melalui jurnalisme. Pola kaum terpelajar yang bertransformasi menjadi tokoh pembela rakyat pun terus berlanjut lewat Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara, Tan Malaka, Syahrir, Hatta, Sukarno dan masih banyak lagi lainnya. Mengingat kenyataan sejarah ini kita pun susah untuk tidak membandingkannya dengan keadaan kaum terpelajar saat ini.

Institusi pendidikan tinggi saat ini memang telah mengalami perubahan yang mendalam. Di bawah sistem neoliberalisme yang semakin mensubordinasikan pendidikan kepada kepentingan ekonomi, baik dalam mengkomersialkan pendidikan maupun sebagai pemasok dalam pasar tenaga kerja ahli, mahasiswa semakin ditekan secara ekonomi dan dilucuti dari kegiatan-kegiatan yang membuat mahasiswa mampu memahami persoalan masyarakat sesungguhnya. Hubungan yang semakin erat dan gamblang antara institusi pendidikan dengan korporasi telah berhasil mencetak kaum terpelajar yang menjadi sekrup-sekrup korporasi – tentunya di sini terdapat juga pengecualian. Hal ini jauh berbeda dari kenyataan seratus tahun lalu, ketika pendidikan mampu mencerahkan dan membuka mata kaum terpelajar terhadap kondisi masyarakat yang sesungguhnya.

Patut dipertanyakan sejauh apa kaum intelektual saat ini memandang persoalan di atas. Bila melihat sepak terjang dan wacana yang diangkat oleh kelompok-kelompok intelektual yang disebut di atas, belum terlihat kepedulian dalam membendung proses penjinakan intelektual yang berlangsung di negeri ini. Perdebatan yang berlangsung dalam presidium ICMI, misalnya, justru berkisar seputar kenetralan atau menjaga jarak dari kepentingan politik yang ada. Tentu saja, perdebatan ini hanya basa basi karena dalam kenyataannya kelompok intelektual tersebut biasa membina hubungan hangat dengan kekuatan politik yang berkuasa.

Harapan justru terlihat dari kelompok-kelompok intelektual yang relatif lebih kecil namun berani mengambil sikap dalam menggugat kekuasaan penjajahan baru di Indonesia. Mereka dapat dibilang sebagai kaum terpelajar yang tidak rela menjadi sekrup-sekrup intelektual bagi mesin korporasi yang menghisap dan memiskinkan bangsa ini. Di antara mereka adalah Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) sebagai kumpulan pakar ekonomi yang berhaluan anti-neoliberal, Serikat Dosen Progresif (SDP), dan Komunitas Marx di STF-Driyarkara.

Upaya kaum intelektual ini dalam mendobrak pragmatisme dan oportunisme kaum intelektual di Indonesia sangat patut dihargai. Upaya ini perlu dilipat-gandakan dan diperluas hingga melampaui lingkaran kaum terpelajar dan menjangkau segmen masyarakat lainnya, karena perjuangan intelektual bukanlah monopoli kaum akademisi dan tidak akan berkembang maju bila terbatas di lingkaran yang sempit. Setiap orang perlu mengambil bagian dalam pertarungan gagasan karena, sebagaimana ditunjukan oleh sejarah, transformasi pemikiran (contohnya dari logika uang ke logika manusia, dari individualisme ke gotongroyong) sangat penting dalam melandasi transformasi masyarakat. Sebagaimana dikatakan oleh Bung Karno dalam pidatonya pada 1 Juni 1945 bahwa Pancasila, “weltanschauung” bangsa Indonesia telah diperjuangkan selama puluhan tahun sebelum kemerdekaan itu tiba. Kini, bangsa Indonesia justru semakin membutuhkan kaum intelektual yang akan memimpin perjuangan tersebut.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut