Duka Dua Gadis Manis Putri Seorang TKW

Kecamatan Ledokombo, kabupaten Jember. Kecamatan itu terkenal gersang dan hampir terbelakang. Akses pendidikan yang cukup susah membuat penduduknya lebih banyak memilih bekerja di kota-kota besar ataupun menjadi tenaga kerja wanita (TKW) atau tenaga kerja Indonesia (TKI).

Namun, dewasa ini, anak-anak Ledokombo kembali bersemangat untuk mencintai kampungnya dan berusaha sekuat tenaga untuk menggapai cita-cita dengan melanjutkan sekolah mereka meski harus merelakan sang Ibu untuk pergi ke luar negeri menjadi TKI.

Dewi Damayanti, pelajar kelas 7 Sekolah Menengah Pertama (SMP) Nasional Jember adalah salah satunya. Gadis berperawakan sedang, rambut sebahu dengan kulit coklat itu mengaku kerap sedih karena ditinggal sang Bunda ke luar negeri.

Sejak empat tahun lalu, Dewi sapaan akrab gadis manis itu telah berpisah dengan bunda tercintanya. “Ibu saya ingin saya terus sekolah. Karena itu ia pergi ke Hongkong,” ujarnya seraya menerawang.

Matanya terlihat berkaca-kaca. Di usianya yang masih belia, ia harus hidup berjauhan dengan sang ibu. Dewi yang merupakan salah satu anak didik dari Farha Ciciek dan sang suami, Suporahardjo dalam kelompok belajar dan bermain Tanoker (dalam bahasa madura berarti kepompong. Red) kini tak pernah lagi meratapi nasibnya.

Ia merasa harus terus berjuang demi impian sang Ibu yang juga sedang berjuang di negeri orang. Sejak ibunya pergi Dewi bersama neneknya, sementara ayahnya telah menikah lagi dan memiliki keluarga baru.

Sayup-sayup terdengar gumaman dari bibirnya, “Ibu saya cantik” gumam Dewi. Ia terus berusaha menghadirkan bayang-bayang wajah sang Ibu. Jika dihitung mundur, Dewi memang masih terlalu kecil ketika itu. Ia baru berusia 8 tahun ketika bundanya pergi.

Tak hanya Dewi yang merasakan kerasnya menempuh hidup tanpa sang ibu disampingnya. Ada pula Nur Halimah yang juga ditinggal sang ibu pergi. Ibu gadis manis yang kerap disapan Nunung itu hijrah ke Arab Saudi untuk menjadi TKW.

Baru saja pulang ke daerah asalnya, enam bulan lalu, ibunya pergi diam-diam di shubuh buta. “Ibu tidak ingin saya dan adik menangis melihat kepergiannya, ia hanya meninggalkan surat sebelum pergi” ujarnya terbata-bata.

Ia pun terpaksa bertahan bersama adiknya yang berumur 5 tahun dalam asuhan neneknya, karena sang ayah tak juga memperoleh pekerjaan tetap di kampungnya. Nunung masih bersyukur ibunya tidak mengalami siksaan seperti TKI lainnya, namun ia selalu menyimpan khawatir ketika media ramai membicarakan kasus kekerasan yang menimpa TKI.

Nunung dan Dewi, dua anak yang beranjak dewasa itu hingga kini tak pernah tahu mengapa ibunya pergi keluar negeri. Mengapa kemudian ayahnya menikah lagi sementara sang ibu sedang ertarung nasib di negeri orang? Mengapa bukan ayahnya yang membiayai sekolahnya? Pertanyaan itu masih terus mengekor di benak kedua gadis kecil itu.

Dewi mengaku ingin menjadi dokter, sedangkan Nunung mengaku ingin menjadi Guru. Tak sedikitpun terlintas di benak mereka untuk mengikuti jejak ibunya menjadi TKW. “Ibu masih 3 hingga 4 tahun lagi disana karena sudah dikontrak. Saya kangen sekali. Kalau ibu pulang nanti, saya nggak mau dia pergi lagi,” tukas Nunung dengan berlindang air mata. (phi)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut