Kemerdekaan Dan Kemenangan!

Inilah momentum yang jarang terjadi: hari peringatan proklamasi kemerdekaan berhimpitan dengan hari raya Idul Fitri. Dan, jika kita tengok sejarah, proklamasi kemerdekaan juga dilakukan dalam bulan suci Ramadhan.

Dua momentum itu, yakni Proklamasi kemerdekaan dan perayaan Hari Kemenangan, punya makna besar dalam kehidupan berbangsa. Kita tahu, proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 barulah pengumuman (proclamare) atas hilangnya yang lama dan lahirnya yang baru.

Yang menghilang adalah keterjajahan. Sedangkan yang baru adalah sebuah negara baru sebagai wadah memperjuangkan cita-cita kolektif: masyakarakat adil dan makmur. Meski begitu, Bung Karno mengakui, proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 barulah kemerdekaan politik.

Nantinya, kemerdekaan politik itu menjadi jalan bagi bagi kita untuk memerdekakan bangsa di segala bidang (ekonomi, sosial-budaya, dan lain-lain). Jadi, tugas mengisi kemerdekaan sebetulnya dapat dimaknai sebagai tugas melengkapi kemerdekaan politik dengan kemerdekaan di segala bidang itu.

Coba kita lihat sekarang. Tak terasa usia proklamasi kemerdekaan sudah menghampiri 67 tahun. Sayang, bentangan waktu yang cukup panjang ini seakan tak memberi kemajuan berarti bagi bangsa kita. Bahkan, sejak era orde baru hingga pemerintahan SBY, bangsa ini terus tertatih-tatih didera keterpurukan.

Lihat saja, bangsa ini belum terbebas dari buta-huruf. Jutaan pemuda-pemudinya juga belum bisa mengenyam pendidikan. Padahal, salah satu tujuan nasional kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Lantas, apakah ekonomi nasional kita sudah merdeka? lihatlah, perekonomian kita makin jatuh dalam genggaman kapital asing. Sebagian besar kekayaan alam kita mengalir ke pundi-pundi perusahaan asing. Kita tak lagi sanggup memproduksi pangan yang cukup untuk kebutuhan rakyat kita.

Rakyat kita makin diguyur oleh produk dan jasa asing: buah-buahan, makanan, pakaian, komputer, alat telekomunikasi, perabot rumah tangga, peralatan mandi, kendaraan, mainan anak-anak, dan lain-lain. Hampir semua yang melekat di badan kita adalah barang-barang impor. Lantas, apa artinya kita merdeka jikalau sudah 67 tahun tak juga sanggup memproduksi kebutuhan rakyat kita?

Kita makin menjauh dari cita-cita kemerdekaan. Jika pada tahun 1945 kita masih punya kemerdekaan politik, maka sekarang ini kita seakan tak punya kemerdekaan sama sekali. Bayangkan, hampir semua kebijakan politik pemerintahan saat ini didiktekan oleh kekuatan-kekuatan dari luar. Ada begitu banyak produk kebijakan politik yang sengaja didiktekan dari luar dan sangat bertolak-belakang dengan kepentingan nasional kita.

Nah, kita juga merayakan hari Kemenangan. Kata “idul fithri” itu berarti “kembali ke fitrah”, yakni ‘asal kejadian’ atau ‘kesucian’. Dengan demikian, Idul Fitri bisa dimaknai kembali pada ajaran yang benar. Idul Fitri, kata intelektul islam Nurcholish Madjid, merupakan momentum untuk introspeksi, yakni kesempatan untuk bertanya jujur kepada diri kita sendiri.

Dengan demikian, makna “Hari Kemenangan” dalam konteks berbangsa bisa juga diletakkan pada introspeksi diri itu: benarkah praktek penyelenggaraan kehidupan berbangsa saat ini masih sejalan dengan cita-cita awal kita? Sebab, jikalau ternyata jawabannya “tidak”, maka kita perlu berjuang untuk fitrah. Dan fitrahnya bangsa Indonesia adalah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Untuk itu, jika kita masih mau punya cita-cita sebagai sebuah bangsa untuk melangkah kedepan, maka kita perlu kembali pada cita-cita Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai titik berangkat kita.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut