Keluar Dari Jeratan Utang

Utang punya sejarah yang terkait dengan kolonialisme. Begitu kolonialisme pura-pura pergi dari bumi Indonesia, mereka mewariskan utang sebesar 4 miliar dolar AS kepada Republik baru ini. Ironisnya, sebagian besar utang itu adalah biaya yang dikeluarkan belanda saat mempertahankan kolonialismenya di Indonesia.

Pada jaman orde baru, tepatnya tahun 1968, utang-utang itu di-reschedulling kembali dan baru dibayar lunas pada tahun 2003. Orde baru sendiri mewariskan utang sebesar Rp1.300 triliun. Artinya, jika dibagi dengan jumlah penduduk Indonesia saat itu, maka setiap orang Indonesia memikul utang sebesar Rp 6,5 juta per kepala.

Sekarang, di bawah pemerintahan SBY-Budiono, utang luar negeri Indonesia sudah mencapai Rp1.754,9 triliun. Kondisi utang itu dianggap sudah membahayakan. Menurut anggota DPR Arif Budimanta, keseimbangan primer menurun 7.000 persen dari Rp50, 79 triliun pada tahun 2005 menjadi hanya Rp0,73 Triliun pada tahun 2011. Pembayaran bunga utang lima tahun terakhir meningkat 200 persen dari Rp65, 2 triliun menjadi Rp116, 4 triliun pada tahun 2011.

Selain itu, kata politisi PDI Perjuangan itu, utang telah meningkat sebesar 40% dalam enam tahun terakhir. Selain itu, pembiayaan utang dalam APBN sudah mencapai 75,1 persen dari total pembiayaan. Akibatnya, sebagian besar anggaran untuk APBN hanya untuk membayar utang, sedangkan anggaran untuk pembangunan infrastruktur dan program sosial semakin menurun.

Selain itu, pada jaman Soeharto, pemberian pinjaman disertai penyerahan kekayaan alam kepada negeri-negeri imperialis. Sedangkan pasca orde baru, pemberian pinjaman disertai tekanan untuk menjalankan agenda neoliberal: pencabutan subsidi, privatisasi perusahaan negara dan layanan publik, liberalisasi perdagangan, deregulasi, dan lain sebagainya.

Satu dekade sudah neoliberalisme secara massif di Indonesia. Hasilnya: kemiskinan terus meningkat, pengangguran kian bertambah, korupsi merajalela, kekayaan alam terkuras habis, biaya hidup makin mahal, perekonomian nasional kian terdominasi oleh asing, dan industri nasional kian hancur.

Ekuador, sebuah negara kecil di Amerika Selatan, pernah mengalami nasib sama dengan Indonesia. Bahkan, dalam beberapa ukuran, utang Ekuador jauh lebih berbahaya dibanding dengan utang Indonesia saat ini.

Tetapi krisis utang Ekuador itu berhasil dihentikan oleh gerakan rakyat. Kebangkitan gerakan rakyat telah menggulingkan rejim neoliberal di negeri itu. Pada tahun 2006, Rafael Correa, seorang ekonom progressif, terpilih sebagai presiden baru.

Begitu terpilih sebagai presiden dan menempati jabatannya, ia segera mendeportasi pejabat Bank Dunia keluar dari negerinya. Ia mengumumkan tindakan politiknya itu secara terbuka di media massa. Terakhir, ia juga mengusir paksa pejabat IMF, Bob Traa, yang dijuluki sebagai “tak diinginkan” oleh rakyat Ekuador.

Enam bulan setelah menjabat, ia pun menyetujui pembentukan komisi audit utang (Comisión para la Auditoria Integral del Crédito Público – CAIC). Komisi ini diberi mandat setahun, bisa ditambah jika diperlukan, untuk menguji semua kontrak utang Ekuador sejak 1956-2006.

Lembaga ini terdiri dari empat wakil dari pemerintah, enam wakil dari gerakan sosial dan organisasi rakyat, dan tiga wakil dari organisasi internasional non-pemerintah. Komisi ini hanya memerlukan waktu 14 bulan untuk menyelesaikan tugasnya.

Hasilnya: ditemukan banyak penyimpangan dalam  proses negosiasi utang, pemberian pinjaman baru, dan bagaimana dana itu digunakan. Rekomendasinya adalah sebagian besar dari utang tersebut adalah tidak sah (illegitimate debt).

Correa belum puas. Ia memerintahkan komisi audit untuk kembali potensi “utang haram”, baik utang melalui multilateral (IMF, Bank Dunia, IDB, dll) maupun bilateral (negara-negara kreditor). Jelas, jika proses “utang haram” terbukti, maka pelakunya akan diproses secara hukum.

Ekuador bisa jadi contoh yang positif bagi Indonesia dalam membebaskan diri dari jeratan utang luar negeri. Jika hal itu berhasil dilakukan, sekaligus menghentikan proyek neoliberalisme di Indonesia, maka kesempatan kita untuk membangun negara kaya-raya ini semakin besar.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut