Bung Karno, Insinyur Yang Memilih Jalan Penderitaan

Bung Karno adalah seorang insinyur. Gelar itu didapatkannya dari Sekolah Teknik Tinggi di Bandung. Saat bung Karno masuk sekolah teknik itu, jumlah murid dari kalangan pribumi cuma 11 orang. Maklum, di jaman itu, pintu sekolah tinggi belum terbuka untuk rakyat jelata.

Ilmu Bung Karno adalah spesialis pekerjaan jalan raya dan perairan. Ia membuat tesis tentang konstruksi pelabuhan dan jalanan air. Dengan tesis itu, ditambah kemampuannya dalam teori perencanaan kota, Bung Karno mendapat banyak tawaran pekerjaan.

Tawaran pertama datang dari almamaternya, yakni jabatan asisten dosen. Bung Karno pun segera menolak tawaran itu. Ia juga mendapat tawaran bekerja di pemerintahan kota. Itupun segera ditolaknya.

Hingga suatu hari, seorang dosen yang paling dihormatinya, Professor Ir. Wolf Schoemaker, memintanya terlibat dalam pembangunan perumahan bupati di Bandung. Awalnya Bung Karno menolak tawaran itu dengan halus. Ia menyampaikan alasan penolakannya kepada sang Professor.

“Saya tidak yakin di kemudian hari akan menjadi pembangun rumah. Tujuan saya ialah untuk menjadi pembangun dari suatu bangsa,” kata Soekarno menjelaskan idealismenya kepada professor yang dihormatinya itu.

Soekarno juga menjelaskan soal prinsip gerakan yang dianutnya, yaitu non-kooperasi. Baginya, gerakan bekerjasama dengan pemerintah dengan mengemis-ngemis sudah usang dan hanya menghasilkan janji-janji yang tidak ditepati. Karena itu, bagi Soekarno, sudah saatnya percaya kepada diri sendiri.

Si professor tetap merayu. Ia tetap berharap hati bekas muridnya segera luluh. Akan tetapi, rupanya hati Bung Karno malah makin mengeras. Bung Karno tetap menolak bekerjasama, supaya tetap bebas dalam berfikir dan bertindak.

“Kalau saya bekerjasama dengan pemerintah, secara diam-diam saya membantu politik penindasan dari rejim mereka yang otokratis dan monopolistis itu. Pemuda sekarang harus merombak kebiasaan menjadi pegawai kolonial setelah memperoleh gelarnya. Kalau tidak begitu, kami tidak akan merdeka selama-lamanya,” ujar Bung Karno.

Tetapi sang professor tidak berhenti membujuk. “Jangan terima pekerjaan jangka lama,” katanya, “tetapi buatlah satu rumah ini saja untuk bupati.”

Bung Karno tak bisa mengelak lagi. Ia pun menerima tawaran itu: membangun rumah untuk Bupati. Pekerjaan itu berhasil diselesaikannya dengan baik dan sukses. Ia pun dibanjiri tawaran pekerjaan serupa. Departemen Pekerjaan Umum menawarkan pekerjaan tetap kepadanya. Tetapi, Bung Karno yang saat itu sangat butuh uang untuk menopang hidupnya bersama sang istri, tetap saja menolak. Ia tetap teguh pada prinsip perjuangannya: non-kooperasi.

Suatu hari, Bung Karno sangat perlu uang dan pekerjaan. Ia dan istrinya, Inggit Ginarsih, benar-benar kekurangan. Kepada setiap tamunya ia hanya menyuguhkan secangkir teh encer tanpa gula. Betapa sulit dan sukarnya kehidupan keluarga baru itu.

Begitu Yayasan Ksatrian–sekolah yang diasuh oleh Dr. Setiabudi—membuka lowongan, Bung Karno pun mengajukan lamaran. Bung Karno pun diterima mengajar di sekolah kaum nasionalis itu.

Bung Karno, yang tidak punya pengalaman mengajar, mencoba menggunakan gayanya sendiri untuk mengajar. Ketika ia mengajarkan sejarah, misalnya, yang diajarkan bukan menghafal nama-nama, tahun dan tempat. Bung Karno berusaha menceritakan peristiwa sejarah itu dengan metode sandiwara. “Kalau aku bercerita tentang Sun Yat Sen, aku betul-betul berteriak dan memukul meja,” katanya kepada Cindy Adams, penulis buku otobiografinya, saat mengingat kejadian itu.

Suatu hari, ketika sedang mengajarkan soal imperialisme, ia mengupas tuntas persoalan ini dan mengutuknya. Sayang, ketika Bung Karno sedang asik menjelaskan imperialisme kepada muridnya, penilik sekolah bangsa Belanda memperhatikannya. Hari itu juga karier Bung Karno sebagai guru langsung berakhir.

Pada tahun 1926, Bung Karno membuka biro tekniknya yang pertama, dengan merangkul kawan sekelasnya, Ir. Anwari. Tetapi biro arsitek ini tidak berjalan lama dan memang tidak pernah berfungsi sebagaimana mestinya. Jiwa Bung Karno sudah terlanjur terpanggil untuk terlibat dalam perjuangan politik melawan kolonialisme.

“Aku tidak menjadi guru. Aku menjadi juru kotbah. Mimbarku adalah pinggiran jalanan. Kumpulanku? Massa rakyat menggerumut yang sangat merindukan pertolongan,” kata Bung Karno.

Pada tahun 1926 itu, Bung Karno sudah terjun dalam pergumulan teori yang cukup serius: ia mempelajari nasionalisme, marxisme, dan islamisme. Ia telah mendirikan sebuah perkumpulan berupa study club di bandung. Di dalamnya tergabung pula intelektual-intelektual muda yang baru pulang dari negeri Belanda.

Bung Karno benar-benar tenggelam dalam pergerakan. Sampai-sampai ia lupa akan biro tekniknya, bahkan lupa  pada Inggit Ginarsih. “Di malam terang bulan yang penuh gairah, aku bahkan lebih memikirkan isme daripada memikirkan Inggit. Pada waktu muda-mudi yang lain menemukan kasihnya satu sama lain, aku mendekam dengan Das Capital. Aku menyelam lebih dalam dan lebih dalam lagi,” kenang Bung Karno.

Begitulah, Bung Karno tidak pernah lagi punya pekerjaan tetap. Pada tahun 1932, sesudah keluar dari penjara Sukamiskin, Bung Karno membangun biro arsitek baru lagi. Kali ini ia menggandeng kawannya yang lain, Ir. Rooseno. Tetapi biro arsitek itu tidak berkembang, sebab orang lebih tertarik kepada arsitek Tionghoa dan Belanda.

Sebagai pimpinan partai, Partindo, Bung karno mendapat tunjangan 70 rupiah sebulan. Penghasilan itu tidak-lah mengcukupi kebutuhannya saat itu. Terlebih, ia tinggal serumah dengan kawan seperjuangannya, Maskun. Maskun sendiri sudah punya istri. Dua pasangan ini tinggal serumah. Tempat tidur mereka hanya dipisahkan oleh dinding bilik. Dan, kedua pasangan ini pun tidur tanpa dialasi kasur.

Begitulah Bung Karno memilih “kesulitan” sebagai pilihan perjuangan. Ia tidak memikirkan sedikitpun soal-soal duniawi. Bung Karno mengatakan: “Hanya orang-orang yang tidak pernah menghirup nasionalisme yang dapat melibatkan dirinya dalam soal-soal duniawi.”

Bung Karno memilih kemerdekaan sebagai makanan hidupnya. Ia, seorang insinyur, rela menderita demi kemerdekaan negerinya. Masihkan ada kaum nasionalis yang berfikiran seperti Bung Karno ini?

IRA KUSUMAH

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut