Kelaparan, Korupsi Dan Perang

Back To 1942

Back to 1942 (Yi Jiu Si Er)

Sutradara: Feng Xiaogang
Penulis naskah: Liu Zhenyun (novel)
Tahun produksi: 2012
Durasi: 2 jam, 25 menit
Pemain : Xu Fan, Zhang Guoli, Chen Daoming, Zhang Hanyu, dan Adrien Brody

Tahun 1942, Henan dilanda kelaparan hebat. Sekitar 3 juta rakyatnya mati kelaparan. Sementara jutaan lainnya mengungsi ke provinsi tetangganya: Shaanxi. Inilah kisah kelam Tiongkok sebelum memasuki Revolusi 1949.

Sutradara Tiongkok, Feng Xiaogang, mengangkat kembali kisah memilukan itu ke layar lebar melalui film “Back To 1942”. Dengan film ini, Feng seakan ingin mengajak bangsa Tiongkok untuk melihat masa lalunya. Saat itu, Tiongkok masih di bawah kekuasaan nasionalis Koumintang.

Tokoh utama film ini adalah tuan tanah kaya bernama Fan (Zhang Guoli). Awalnya, sebagai tuan tanah kaya, Fan masih punya banyak kekayaan dan makanan untuk menghidupi keluarganya. Namun, keadaannya mulai berubah setelah bandit datang ke desa dan merampoknya.

Fan kemudian memutuskan mengungsi. Ia membawa serta istri, anak perempuan, dan menantunya. Di tengah jalan, ia bertemu dengan keluarga petani sedesanya, Xialu (Feng Yuanzheng).  Mereka pun bergabung dengan jutaan pengungsi lainnya.

Film ini sebetulnya berusaha mengangkat tiga hal: kelaparan, korupsi, dan perang. Sutradara Feng Xiaogang berusaha menarik hubungan ketiga hal itu melalui tiga setting berbeda: perjuangan pengungsi di perjalanan, pejabat pemerintah dan militer yang korup, dan ancaman serbuan fasis Jepang.

Setelah berjalan puluhan hari, para pengungsi mulai menemui banyak masalah. Bekal makanan makin menipis. Banyak pengungsi bertahan dengan memasak kulit kayu. Namun, kendati demikian, pemerintah tak kunjung memberi bantuan.

Gubernur Henan saat itu, Li Peiji, sedang dibebani tugas mencari beras untuk pasukan tentara. Di sisi lain, ia sangat sadar, bahwa rakyat jauh lebih butuh makanan ketimbang tentara itu. Dengan berbagai cara, ia berusaha melobi agar permintaan tentara itu dibatalkan.

Pemerintah tertinggi Tiongkok saat itu, Jenderal Chiang Kai-shek, sibuk bermanuver dengan negara-negara barat—Inggris, AS, dan Uni Soviet—dalam kerangka melawan Jepang. Bawah-bawahannya sengaja menyembunyikan kasus kelaparan di Henan.

Ironisnya, sibuk bermanuver dengan barat, Jenderal Chiang memerintahkan penarikan pasukan dari Henan; berarti membiarkan pengungsi menjadi mangsa pasukan Jepang.

Kehidupan pengungsi kian memburuk. Setelah berpuluh-puluh hari di jalanan, tanpa bahan makanan, bahaya baru mengintai mereka: serangan udara Jepang. Lebih parah lagi, tentara Jepang tak membedakan antara tentara dan sipil. Semuanya dibombardir.

Di film itu diperlihatkan kelakuan buruk tentara Koumintang. Bukannya melindungi rakyat dari serangan Jepang, mereka malah sibuk merampas barang-barang milik pengungsi, seperti beras dan gerobak/pedati. Tindakan tidak terpuji ini membuat rakyat tak simpatik terhadap Koumintang.

Di bagian lain, diceritakan tentang koresponden majalah TIME, Theodore H. White (Adrien Brody), yang saat itu berusaha melihat langsung kejadian di Henan dan kehidupan pengungsi. Pada kenyataannya, ia menemui kenyataan yang lebih buruk. Ia memotret kejadian anjing memakan bangkai manusia.

Namun, pemerintah pusat tetap bergeming. Bahkan, Jenderal Chiang menyangkal kejadian di Henan. Ia bahkan mengancam menutup koran-koran yang mengangkat kejadian itu. Foto-foto Theodor White juga tak begitu mengubah pendiriannya.

Namun, lama-kelamaan kejadian itu “tercium” juga di dunia internasional. Majalah TIME mengangkatnya. Dan setelah terpojok, juga karena tekanan internasional, pemerintah pusat akhirnya mengirim bantuan beras 80 juta pound untuk kelaparan di Henan.

Tetapi, masalah tak juga menjauh. Pejabat korup segera membisniskan bantuan itu. Tak hanya itu, pejabat militer juga turut andil untuk meminta jatah beras dan kemudian menjualnya. Ujung-ujungnya: beras bantuan tak juga sampai ke korban bencana.

Sementara pengungsi berjuang keras untuk mendapat seliter beras, bahkan sampai menjual istri dan anak perempuannya, pemerintah dan pejabat militer sibuk “menyelewengkan” bantuan. Pejabat pusat juga seakan tutup mata dengan korupsi itu.

Itulah pesan yang diangkat oleh film Feng Xiaogang. Dan, tentu saja, pesan itu sangat relevan dengan Tiongkok sekarang. Bukankah korupsi menjadi musuh pokok rakyat dan pemerintahan komunis di Tiongkok saat ini?

Memang, ada beberapa kelemahan di film ini. Dari alur cerita yang berat hingga ke kualitas gambar. Sutradara Feng Xiaogang mengaku tiga kali gagal saat memulai proyek film ini. Usaha pertamanya di tahun 2000, kemudian tahun 2002, dan terakhir 2004. Semuanya gagal. Barulah proyek keempatnya, di tahun 2010, yang berhasil. Film ini sebagian besar didasarkan pada memoir Liu Zhenyun, anak dari salah satu pengungsi Henan, di tahun 1942 itu.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut