Mengagumi Kekayaan Budaya Bangsa Di Museum La Galigo

Bangsa kita benar-benar pernah punya masa gemilang.  Ini bisa dilihat pada warisan budaya yang ditinggalkannya. Salah satunya adalah kekayaan budaya yang tersimpan rapi di museum La Galigo.

Museum La Galigo sendiri berada di area benteng Fort Rotterdam. Benteng peninggalan kolonialisme Belanda itu terletak di kota Makassar. Tepatnya di depan pelabuhan laut Makassar. Nah, beberapa bangunan dari gedung itu diperuntukkan sebagai museum.

Nama La Galigo diambil dari nama karya sastra klasik Bugis. Konon, ini merupakan karya sastra terpanjang di dunia. Museum ini menyimpan ratusan koleksi warisan budaya kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan di masa lalu.

Museum ini dibagi dalam beberapa ruangan. Saya tidak tahu persis berapa jumlah ruangan yang diperuntukkan untuk museum ini. Koleksi itu dikelompokkan untuk beberapa kategori: arkeologi, etnografi, filologika, historika, keramologika, numismatika, dan karya seni rupa.

Jejak-jejak peradaban di Sulsel sejak zaman berburu (zaman paleolitik) hingga jaman modern bisa ditemui di museum ini. Anda bisa melihat berbagai jenis kapak kuno dan mata panah peninggalan masyarakat berburu. Anda juga bisa menyaksikan beberapa patung-patung peninggalan masyarakat Megalitik.

Juga, pada bagian lain museum, beberapa peninggalan kerajaan besar di Sulsel, khususnya peninggalan kerajaan Gowa dan Bone. Diantaranya: mahkota, keris, selempang, bendera, senjata dan naskah-naskah kuno.

Salah satu ruangan museum itu menyimpan koleksi peninggalan masyarakat pertanian. Di situ bisa dilihat alat pertanian tradisional: rakkala’ (bajak), lesung (tempat menumbuk padi), bingkung (cangkul), salaga (alat mengatur bongkahan tanah di sawah), parang, sabit, dan lain-lain.

Anda juga bisa melihat peninggalan masyarakat pesisir: bagang (perangkap ikan), lepa-lepa (perahu nelayan), dan lain-lain. Nah, salah satu yang paling mengagungkan adalah replika perahu Pinisi. Konon, perahu ini pertama kali diproduksi saat Sawerigading, putra mahkota kerajaan Luwu, guna dipergunakan berlajar menuju ke negeri Tiongkok untuk mempersunting seorang putri bernama We’cudai.

Perahu pinisi ini terbuat dari kayu, punya dua tiang utama, dan 7 helai layar. Pada masanya, pinisi merupakan simbol kejayaan pelaut-pelaut Bugis-Makassar dalam mengarungi lautan.

Ada juga koleksi rumah adat masyarakat sulawesi selatan: Saoraja (bugis) ballak lompoa (makassar), bola (bugis), ballak (makassar), Sao pitik (bugis), taratak (makassar), tongkonan (Toraja), dan lain-lain. Koleksi lain berupa dapur, alat tenun, tempat perkawinan, pakaian, kain tenun, alat musik dan lain-lain.

Di bagian lain, anda juga bisa menyaksikan koleksi alat transportasi darat masyarakat sulsel di masa lalu, seperti sepeda, bendi, dan lain-lain. Berbagai koleksi itu terlihat sangat unik dan kelihatan asli.

Memasuki museum La Lagaligo anda cukup mengeluarkan sumbangan sebesar Rp5000 untuk kepentingan perawatan gedung.

Dengan melihat koleksi-koleksi museum ini, sekalipun itu hanya sebagian dari sekian banyak warisan kebudayaan bangsa di masa lalu, kita akan merasa bangga dan kagum dengan keunggulan kebudayaan masyarakat kita di masa lalu.

Andi Nursal

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut