Walikota ‘Merampok’ Demi Rakyatnya

Inilah kisah Robin Hood di jaman modern. Seorang walikota mengorganisir dan memimpin aksi perampokan supermarket. Yang dirampok adalah bahan makanan. Hasil rampokan itu dibagi-bagikan untuk rakyat miskin.

Walikota itu bernama Juan Manuel Sanchez Gordillo. Ia menjabat Walikota di Marinaleda, sebuah kota kecil di Andalusia, Spanyol. Kota ini hanya berpenduduk 2700 orang. Benar-benar sebuah kota kecil.

Gara-gara aksinya itu, media mainstrem menyebut Gordillo sebagai “Robin Hood”. Bagi Gordillo, aksinya ini merupakan jawaban atas krisis kapitalisme yang sedang melilit negeri matador itu.

Untuk diketahui, sejak terjadinya krisis ekonomi, jumlah kemiskinan di Spanyol sudah meroket hingga 15%. Sedangkan tingkat pengangguran sudah menghampiri 25%. Tak sedikit pula rakyat Spanyol yang kehilangan pekerjaan, rumah, pensiun, dan berbagai layanan dasar lainnya akibat kebijakan penghematan.

Dalam suatu kejadian minggu lalu, tujuh orang ditangkap karena ikut dalam aksi perampokan. Semuanya anggota serikat buruh. Mereka menumpuk bahan makanan di troli supermarket dan keluar begitu saja tanpa membayar.

Pada saat kejadian, Gordillo berada di luar supermarket. Ia menyandang megaphone dan memberikan semangat. Warga kota pun bersorak-sorai memberikan dukungan atas  aksi itu.

Gordillo bilang, “krisis ini punya wajah dan nama. Di sini ada banyak keluarga yang tak punya kemampuan untuk makan. Maklum, tingkat kemiskinan di Andalusia merupakan yang tertinggi di Spanyol. Sedangkan pengangguran di Andalusia mencapai 34%.

Namun, aksi Gordillo itu tak dapat dihentikan polisi. Ia tak bisa ditangkap. Maklum, ia punya kekebalan politik sebagai anggota parlemen. Gordillo sendiri merupakan politisi partai kiri, Izquierda Unida.

Gordillo adalah kebalikan dari politisi di Indonesia. Di Indonesia, para pejabat justru berlomba-lomba merampok kekayaan rakyatnya untuk memperkaya diri sendiri.

Berangkat dari utopia

Una Utopia Hacia La Paz (Dalam utopia menuju perdamaian)! Itulah slogan kota Marinaleda. Di bawah kepemimpinan Gordillo, rakyat Marinaleda sedang berjuang mengubah utopia menjadi kenyataan.

Gordillo dilahirkan di Marinaleda tahun 1949. Saat itu, masih di bawah kediktatoran Franco, rakyat Marinaleda sangat menderita. Sebagian besar kekayaan, terutama tanah, terkonsentrasi di tangan segelintir orang. Andalusia—mirip dengan Amerika latin—ditandai dengan 2% tuan tanah menguasai 50% tanah.

Pasca kematian Franco di tahun 1975, Marinaleda berusaha merumuskan sendiri jalan hidupnya. Serikat buruh baru berdiri, juga partai politik. Gordillo sendiri memimpin Sindicato de Obreros del Campo (Serikat Pekerja Pertanian/SOT).

Ia memimpin aksi pendudukan tanah-tanah milik tuan tanah dan perusahaan-perusahaan besar. Sesekali polisi datang dan mengusir mereka. Lalu, para anggota serikat memblokir jalan. Bahkan pernah memblokir bandara di Malaga dan Sevilla. Gara-gara itulah Gordillo sering keluar-masuk penjara.

Pada tahun 1979, sebuah pemilu lokal berlangsung di Marinaleda. Gordillo bersama aktivis lainnya mengorganisir blok politik: Colectivo de Unidad de los Trabajadores – Bloque Andaluz de Izquierdas (Blok Kiri Andalusia/CUT). Dengan alat politik itulah Gordillo bertarung di Pilkada Marinaleda.

Ia menang dalam pilkada itu. Ia sudah memerintah Marinaleda selama tiga dekade lebih. Ia sukses dengan konsep koperasi pertaniannya. Setiap pekerja dibayar secara merata dengan €47 untuk enam jam kerja atau setengah hari. Di Marinaleda tidak ada pengangguran.

Selain pertanian, pemerintah kota juga berhasil membangun sistim perumahan sosialis. Sebagian besar rumah dibangun secara kolektif oleh warga setempat dan kemudian dimiliki dengan harga sangat murah. Tanah dan material rumah disediakan dan dibiayai oleh pemerintah.

Kota Marinaleda juga punya sekolah modern, pusat kesehatan modern, pusat olahraga, pusat kebudayaan, kolam renang, stadion sepak bola, dan lain sebagainya. Taman Kanak-Kanak atau Play Group terbuka dari 07.00 pagi hingga pukul 16.00 sore. TK itu menyediakan sarapan pagi dan makan siang.

Kota ini juga punya stasiun radio dan televisi, yang dirancang untuk melawan dominasi media mainstream. TV/Radio tidak hanya menyajikan hiburan, seperti music, chating, berita, budaya, dan lain-lain, tetapi juga menawarkan ideologi alternatif berupa kerjasama, solidaritas, dan kolektifisme. TV/Radio Marinaleda aktif memberikan dukungan kepada perjuangan rakyat Palestina, Amerika latin, dan berbagai tempat lain di seluruh dunia.

Di kantor Walikota Marinaleda terpasang gambar Che Guevara. Maklum, Gordillo adalah pengagum berat pejuang Amerika latin tersebut. Nama-nama seperti Salvador Allende, Federico García Lorca dan Pablo Neruda tidak asing lagi bagi kota kecil tersebut.

Ada satu hal lagi yang membuat Marinaleda sangat unik: kota kecil ini tidak punya polisi. Urusan keamanan diserahkan kepada rakyat. Jadinya, kota ini bisa menghemat anggaran sebesar €260,000.

Melawan Krisis

Gordillo, yang suka mengenakan syal Palestina itu, merupakang walikota paling keras menentang kebijakan reaksioner pemerintahan sayap kanan Spanyol. Ia menyerukan kepada walikota-walikota se-Spanyol untuk menentang kebijakan penghematan.

Gordillo juga berencana untuk memimpin longmarch dari Jodar, salah satu kota yang paling terpengaruh oleh krisis ekonomi saat ini, ke kota-kota Spanyol lainnya, untuk mencoba meyakinkan para pejabat lain supaya melawan kebijakan pemerintahan nasional yang kapitalistik. Akhir-akhir ini, Gordillo juga terlibat dalam aksi-aksi protes menentang penghematan.

Krisis kapitalisme terus merongrong spanyol. Gordillo sangat sadar akan hal itu. Bagi Gordillo, selama kapitalisme masih berjaya, kesejahteraan rakyat hanyalah sebuah utopia belaka. Karena itu, seperti dikatakan Gordillo kepada Hugo Chavez, hanya penghapusan kapitalisme-lah jalan keluar untuk pembebasan manusia.

Seperti tertulis di sebuah dinding gedung pertemuan di Marinaleda: Kebebasan tanpa kesetaraan tak berarti apa-apa. Dan demokrasi tanpa kesejahteraan adalah omong-kosong belaka.

Timur Subangun, anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Yanti

    Menurut saya tidak ada yang hebat dari aksi Juan Manuel Sanchez Gordillo yang meminta warganya merampok untuk mengakhiri krisis dan kemiskinan. Lebih memperlihatkan kegagalannya keluar dari kefrustasian dari pada memperlihatkan kemampuannya mengatasi masalah. Lalu bukankah tidak ada bedanya kemudian antara penghisap dan yang dihisap? Sama-sama merampok. Cara-cara demikian tidak akan menghasilkan perubahan apa-apa.