Kecenderungan Gerakan Moral

Beberapa minggu setelah tokoh lintas agama melontarkan 9 kebohongan rejim SBY-Budiono, isu “perlawanan terhadap kebohongan” telah menggelinding kemana-mana. Dengan nuansa moral-nya yang sangat kuat, isu ini sangat mudah untuk ditangkap oleh masyarakat luas dan sektor-sektor sosial yang selama ini bertindak pasif.

Maklum, kaum agamawan adalah tokoh panutan dan punya pengikut yang sangat banyak, sehingga melanjutkan petuahnya dianggap bisa menyeret umatnya dalam “perlawanan”. Dengan maksud memancing sentimen perlawanan lebih luas, gerakan rakyat dan tokoh oposisi pun mengadopsi habis-habisan isu moral ini dan kemana-mana mempropagandakan “rejim kebohongan”.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa kritiknya kaum agawaman memang membuat “merah” telinga SBY-Budiono. Meskipun landasan kritik kaum agamawan itu berpijak pada persoalan-persoalan real yang dihadapi rakyat, tetapi penggunaan “narasi kebohongan” telah menonjolkan kecenderungan ideologis, bahwa persoalan bangsa ini adalah persoalan rejim baik dan buruk, rejim jujur dan pembohong.

“Kabut moralitas’ merupakan selubung ideologis untuk menghalangi rakyat mengenali akar dari persoalan secara jernih dan terang benderang. Neoliberalisme, sebagai sebuah solusi terhadap krisis kapitalisme di tahun 1970-an, hanya dapat dikenali dengan baik jika dihubungan dengan analisis terhadap relasi produksi yang melahirkannya: kapitalisme.

Untuk menjelaskan persoalan neoliberalisme ini, itu memang bukan perkara yang gampang. Meskipun mulut kita sudah berbusa-busa menjelaskan soal neoliberalisme dan kebusukannya, tetapi jumlah rakyat yang tersadarkan masih sangat kecil. Akan tetapi, akar persoalannya bukan pada analisa yang kurang tepat, melainkan pada persoalan kesabaran dan kemampuan untuk menemukan teknik propaganda dan berjuang yang lebih tepat.

Praktek neoliberalisme atau penjajahan kembali (rekolonialisme) sangatlah nyata dalam kehidupan kita; mulai dari penjarahan kekayaan alam, penghapusan subsidi, privatisasi BUMN, liberalisasi perdagangan, dan lain-lain. Atau, jika mau mengambil pengandaian yang sederhana, kita bisa mengutip pernyataan Thomas Sankara, pemimpin revolusioner Burkina Faso, yang berkata; “Jika anda mau mengetahui tentang imperialisme, maka lihatlah manakan di piring dan pakaian anda.” Salah satu ciri dari imperialisme, sebagaimana diterangkan oleh Lenin, adalah menjadikan negara jajahan sebagai pasar bagi hasil produksi negeri-negeri imperialis. Jadi, meskipun Burkina Faso bisa mendapatkan bahan baku dan memproduksi barang-barang itu di dalam negeri, tetapi ketentuan imperialis mengharuskan mereka mengimpor dari luar. Ini merupakan satu contoh.

Apa konsekuensi serius dari “meluasnya gerakan moral ini”? Jika di masa sebelumnya analisis kita sudah sampai kepada neoliberalisme atau imperialisme sebagai persoalan pokok bangsa ini, maka sekarang ini kita sudah mundur kembali kepada kategori moral; baik dan buruk, jujur dan pembohong.

Dan, pada tingkatan praktis, ini juga sama dengan memberikan kepemimpinan perlawanan kepada tokoh agama dan para pembawa misi suci. Kita tidak menolak partisipasi kaum agamawan dalam perjuangan, malahan kita akan menyambutnya dengan tangan terbuka. Tetapi, penentangan kita adalah ekspresi moralistik dalam melihat persoalan dan membangun gerakan.

Ada baiknya memperhatikan kutipan Bung Karno dalam tulisan “Mencapai Indonesia Merdeka”, dimana dikatakan; “Pergerakan lahir karena pada hakekatnya dilahirkan oleh tenaga-tenaga pergaulan hidup sendiri. Pemimpin pun bergerak karena hakekatnya tenaga-tenaga pergaulan hidup itu membikin ia bergerak. Bukan fajar menyingsing karena ayam-jantan berkokok, tapi ayam jantan berkokok karena fajar menyingsing..”

Dalam kutipan di atas, jelas sekali bahwa Bung Karno meletakkan pergerakan rakyat itu di atas sebuah basis meterial yang konkret, yaitu tenaga-tenaga pergaulan hidup, yaitu perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme pada saat itu. Dengan demikian, sebagaiman diterangkan Bung Karno, pergerakan kita bukan lagi suatu pergerakan yang onbewust (tidak sadar), tetapi suatu pergerakan yang bewust sebewust-bewustnya, insyaf seinsyaf-insyafnya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut