Aksi Mengecam Rejim Kebohongan Berakhir Bentrok

Bentrokan pecah antaran mahasiswa dan aparat kepolisian di depan Istana negara, sore tadi (24/01), yang menyebabkan tiga demonstran ditangkap dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Sejak awal, mahasiswa berusaha menyampaikan tuntutannya di depan istana merdeka, tempat Presiden SBY berada, tetapi dihadang oleh aparat kepolisian. Karena tetap tidak dibolehkan menggelar aksinya di depan istana merdeka, seratusan mahasiswa ini pun berusaha menerobos barikade polisi.

Bentrokan tidak dapat dihindarkan. Dua orang demonstran, yaitu Hengky Mattan (LMND) dan Tigor Hutapea (GMKI), sempat ditangkap tetapi kemudian dibebaskan kembali. Sementara Ahmad, aktivis HMI-MPO, mengalami pendarahan di bagian kaki, dan Rivaldo (Kamtri) mengalami memar di bagian muka.

Sementara itu, sejumlah demonstran menderita luka-luka akibat terkena pukulan ataupun tendangan aparat kepolisian. Bahkan, ketua PB HMI, Nur Fajrianto, sempat diinjak-injak oleh aparat kepolisian.

Polisi bertindak berlebihan

Menurut ketua umum LMND Lamen Hendra Saputra, tindakan kepolisian saat menangani aksi mahasiswa terlihat sangat berlebihan, padahal mahasiswa hanya mau menyampaikan aspirasi di depan istana negara.

“Jika Polisi mau memberikan kami sedikit ruang di depan istana negara, supaya tuntutan kami juga bisa terdengar oleh SBY, maka bentrokan ini sebetulnya dapat dihindarkan,” katanya.

Pihaknya juga menyesalkan perlakuan keras aparat kepolisian kepada sejumlah massa mahasiswa. “Ada seorang aktifis LMND yang mengalami pergeseran di rahangnya.”

Mengecam rejim kebohongan

Dalam pernyataan sikapnya, mahasiswa mendesak agar rejim SBY menghentikan proses pembohongan kepada rakyat, dan segera mewujudkan cita-cita perubahan untuk masa depan indonesia.

Aliansi, yang terdiri dari sejumlah organisasi mahasiswa seperti LMND, PB-HMI, PMKRI, IMM, GMKI, BEM Nusantara, HMI-MPO, SMI, KMHDI, dan lain-lain, juga mengecam SBY karena gagal mensejahterakan rakyat, menggadaikan kedaulatan bangsa, mengapuskan subdisi sosial, dan menjual aset negara.

Menurut mahasiswa, SBY telah memanipulasi angka statistik untuk menjaga popularitas pemerintahannya, sementara kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa rakyat semakin miskin dan sengsara.

Untuk itu, mahasiswa hendak memperjuangkan indonesia yang terbebas dari penjajahan gaya baru, menegakkan supremasi hukum tanpa diskriminasi, dan menegakkan kehidupan demokratis.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut