Kawah Putih: Pesona Negeri Di Awan

Aku seolah berada di negeri awan. Sepanjang mata memandang yang terlihat hanyalah gumpalan awan berwarna putih. Sesekali bilamana angin bertiup, awan-pun bergeser. Terbentanglah kawah cantik dan dinding cadas yang ditumbuhi pohon kayu khas gunung berapi, seperti rasamala, saninten, huru, samida dan pohon lokal lainnya.

Orang-orang spiritual menyebutnya tempat bersemayam para leluhur. Seorang penulis ada yang mengandaikannya ceceran sorga di muka bumi yang begitu tenang, anggun dan berwibawa.

Penat-penat setelah duduk lama di perjalanan seketika pulih kembali begitu mata disuguhkan panorama alam nan begitu indah. Pohon-pohon tinggi yang menjulang saling bergandengan diselimuti kabut putih. Langit seolah hanya sejengkal dari kepala.

Pikiran dibuat rileks. Ibarat hape lowbat, jiwa raga yang capek dengan aktifitas sehari-hari, seolah di-charger. Uih, hawa segar yang menyegarkan.

Rute kesana tidak begitu sulit. Dari Jakarta, masuk Tol Cipularang terus keluar di pintu Tol Kopo. Kemudian ambil arah Soreang menuju Kota Ciwidey. Di kanan kiri jalan yang naik turun dan berliku Anda akan disuguhkan hamparan kebun strawberry.

Sekitar 20-30 menit dari Kota Ciwidey petunjuk jalan akan memandu Anda menuju gerbang objek wisata Kawah Putih.

Dari pintu gerbang ke lokasi kawah putih jaraknya sekitar 5,6 Km dan hanya 10 hingga 15 menit bila menggunakan kendaraan. Medannya menanjak. Cukup curam dan sempit. Salah-salah, kendaraan Anda bisa mundur karena tak mampu naik.

Bila tidak punya kendaraan pribadi, dari Kota Bandung Anda bisa menumpangi angkutan umum tujuan Ciwidey. Dari Ciwidey disambung angkutan pedesaan tujuan Situ Patengan. Bilang saja sama sopirnya, “Mau ke kawah putih kang…” maka Anda akan diturunkan persis di pintu gerbangnya.

Gunung Patuha

Kawah putih adalah danau yang berada di puncak Gunung Patuha, Kecamatan Ciwidey di ketinggian 2.434 meter di atas permukaan laut dengan suhu antara 8-22°C. Letusan Gunung Patuha pada sekitar abad X dan XII silam-lah yang membentuk kawah yang hanya berjarak sekitar 46 km dari Kota Bandung atau 35 km dari ibukota Kabupaten Bandung itu.

Konon kabarnya, Gunung Patuha berasal dari nama Pak Tua atau Patua. Ada juga yang menyebutnya Gunung Sepuh mengingat di sekitar kawasan kawah putih terdapat beberapa makam leluhur, seperti Eyang Jaga Satru, Eyang Rongga Sadena, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barabak, Eyang Baskom, dan Eyang Jambrong.

Salah satu puncak Gunung Patuha yakni Puncak Kapuk—disebut-sebut sebagai tempat pertemuan para leluhur yang dipimpin oleh Eyang Jaga Satru. Katanya, di tempat ini secara gaib terlihat sekumpulan domba berbulu putih. Masyarakat setempat menyebutnya domba lukutan.

Dahulu kala, lokasi indah tersebut terkenal angker. Burung akan mati bila melintas di atas kawah. Manusia-pun enggan untuk menjamahnya. Sepenglihatanku memang tak satupun burung berterbangan di sana.

Sejarah meriwayatkan, misteri keindahan kawah putih baru terungkap pada tahun 1837 ketika seorang peneliti botanis Belanda kelahiran Jerman, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864) melakukan penelitian.

Jika warga setempat bergidik memasuki hutan berkabut itu, sebagai seorang ilmuwan, Junghuhn tidak begitu saja mempercayai keangkerannya. Setelah menanjak menembus hutan Gunung Patuha, dia terpana saat menemukan danau kawah yang begitu indah.

Layaknya kawah gunung berapi pada umumnya yang mengeluarkan semburan lava belerang dan gas, begitu pulalah kawah putih.

Penelitiannya itu kemudian berhasil mengungkap kandungan fumarol belerang yang sangat tinggi itulah yang menyebabkan burung-burung mati jika terbang di atas permukaan danau kawah putih.

Tidak sampai di situ, berkat penelitiannya juga, pada zaman pendudukan Belanda di kawah putih dibangun pabrik belerang Zwavel Ontgining-Kawah Putih. Pada zaman Jepang, usaha tersebut dilanjutkan dengan nama Kawah Putih Kenzanka Gokoya Ciwidey dalam penguasaan militer Jepang.
Goa peninggalan bekas pertambangan belerang itu masih tersisa.

Hanya saja pengunjung tidak bisa masuk karena dipalang pakai kayu. Jangankan masuk, berdiri lama-lama di depan goa itu saja dilarang.

Kendati ‘ceceran sorga’ itu sudah ditemukan sejak 1837, masyarakat luas baru bisa menikmati keindahannya sejak tahun 1987 setelah PT Perhutani (Persero) Unit III Jabar dan Banten mengembangkannya menjadi obyek wisata.

Pecinta fotografi akan menemukan alamnya disini. Tiap sudut merupakan angel yang bagus untuk dijepret.

Jangan lupa mengenakan jaket tebal, meski setelah ditusuk hawa dingin Anda bisa menikmati segelas bandrek panas yang dijajakan warung-warung kecil di lereng Gunung Patoha.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut