TVRI dan Tantangan Sekarang Ini

Hari ini, 48 Tahun yang lalu, bangsa Indonesia resmi memiliki stasiun Televisi sendiri, dan sekaligus menorehkan diri sebagai negeri Asia ke-empat yang memiliki media penyiaran setelah Jepang, Philipina dan Thailand. TVRI pertamaka kali mengudara dengan menyiarkan upacara HUT Kemerdekaan 17 Agustus 1962, yang oleh Bung Karno disebut tahun kemenangan, –“ A Year Of Triumph”, menempatkan stasiun TV milik republik ini sebagai alat revolusi.

Karena itu, sejak kemunculannya, TVRI tidak dapat dipisahkan dari perjuangan bangsa Indonesia untuk menuntaskan revolusi yang belum selesai. Selain itu, untuk kepentingan politik internasional, Bung Karno menempatkan TVRI sebagai medium memperkenalkan bangsa Indonesia kepada bangsa-bangsa lain di dunia. Di dalam negeri, TVRI berperan sebagai media komunikasi untuk membangun ‘nation and character building’.

Akan tetapi, semua itu menjadi ‘berantakan’ seketika tatkala diktator Soeharto berhasil mengambil-alih kekuasaan. Di tangan Soeharto, TVRI dijadikan “kuda tunggangan” pemerintah untuk menghipnotis mayoritas rakyat, melakukan pembodohan massal, dan memukul mundur pembangunan jiwa-bangsa. Guna mencapai tujuan tersebut, Soeharto menempatkan TVRI langsung berada di bawah Departemen Penerangan.

Setelah Soeharto jatuh, TVRI termasuk salah satu aspek yang harus direformasi, dan karenanya, mendapatkan perombakan yang sangat drastis pula. Bulan Juni 2000 lalu, diterbitkan PP No. 36 tahun 2000 tentang perubahan status TVRI menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan), yang secara kelembagaan berada di bawah pembinaan dan bertanggung jawab kepada Departemen Keuangan RI. Setelah itu, pada tahun 2002, pemerintah menerbitkan PP No.9 tahun 2002 yang mengubah status TVRI menjadi Perseroan Terbatas (PT).

Terakhir, melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2002, TVRI ditetapkan sebagai Lembaga Penyiaran Publik yang berbentuk badan hukum yang didirikan oleh negara, yang difungsikan untuk melayani informasi demi kepentingan publik, bersifat netral, mandiri dan tidak komersial. Namun, tidak seperti ABC (Australia), BBC (Inggris), dan NHK (jepang) yang juga dikelolah sebagai lembaga penyiaran publik, TVRI malah terlempar jauh di belakang percaturan media swasta.

Kini, di tengah “pergumulan” industri media, TVRI seolah-olah semakin hari semakin tersingkir dari hadapan rakyat Indonesia. Acara yang ditayangkan TVRI nampak kurang menarik, sehingga membuat banyak pemirsanya “hijrah” ke chanel TV Swasta. Ini mudah dimengerti, bahwa media swasta bukan saja ditopang oleh kekuatan finansial yang luar biasa, tapi juga karena manajemen yang profesional.

Lebih para lagi, TVRI semakin kehilangan visi-misinya sebagai media milik Republik, yang eksistensi dan tujuannya adalah untuk kepentingan nasional. Seperti juga slogan TVRI sekarang ini,  Makin Dekat di Hati, yang memperlihatkan ambiguitas, TVRI pun semakin kehilangan arah dan tujuannya.

Dalam situasi sekarang ini, dimana peran media TV semakin menentukan dalam perang informasi, maka TVRI seharusnya menjadi barisan terdepan untuk mewakili kepentingan bangsa Indonesia. Karena tujuan itu, maka TVRI mutlak melakukan perombakan manajemen pengelolaan agar lebih profesional dan modern.

Di samping itu, TVRI perlu menegaskan kembali perannya sebagai alat ‘nation and character building’, misalnya menjadi media informasi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, membangkitkan semangat dan patriotisme rakyat, dan menjadi benteng dalam menghadapi budaya imperialis.

TVRI juga harus memulai mengangkat dan mempromosikan kembali kebudayaan nasional, yaitu kebudayaan berbagai suku bangsa yang ada di seluruh nusantara. Ini penting sebagai alat menunjukkan identitas nasional.

Ya, karena tujuan-tujuan mulia di atas, maka pemerintah tidak bisa berpangku tangan membiarkan manajemen TVRI bekerja sendirian. Kedepan, pemerintah seharusnya memberikan dukungan anggaran yang jelas, supaya TVRI tidak bergantung pada “belas kasihan” pihak swasta. Kita berharap TVRI bisa kembali sebagai alat revolusi, disamping menantikan pertumbuhan media-media alternatif yang memihak pada rakyat.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • suratman

    Apalagi anggaran tvri mendapat bintang dari dprri menjadikan tvri semakin terpuruk..harusnya Presiden lgsg turun tangan..karena tvri langsung bertanggung jawab kpd presiden.smg tvri tidak kehilangan kreativitas dan bermanfaat untk bangsa indonesia..