Kaum Buruh Menghadapi Imperialisme

Sebentar lagi Kaum Buruh akan merayakan May Day atau Hari Buruh Sedunia. Persiapan-persiapan telah dimulai untuk perayaan ini. Terlepas dari bentuknya yang seringkali hanya seremonial, pada peringatan ini kembali terkuak pertanyaan mengenai tugas pokok gerakan buruh di era sekarang; yaitu imperialisme modern yang berasal dari perkembangan kapitalisme.

Kaum Buruh adalah kaum yang kehilangan akses kepemilikannya atas alat produksi, sehingga terpaksa menjual tenaga kerjanya kepada pemilik modal untuk ditukarkan dengan upah. Karenanya upah dapat disebut sebagai harga dari tenaga kerja. Tenaga kerja dalam sistem kapitalisme disamakan dengan komoditi, yaitu sejumlah kebutuhan (makanan, pakaian, tempat tinggal, dll) yang harus dipenuhi oleh seorang buruh untuk melanjutkan hidupnya. Kurang lebih demikian, Karl Heinrich Marx, mendefenisikan kelas buruh.

Pengertian kelas buruh tersebut bertalian dengan pengertian kapitalisme yang disampaikan oleh Soekarno dalam “Imperialisme dan Kapitalisme” sebagai berikut:

….Kapitalisme adalah stelsel (sistem) pergaulan hidup, yang timbul daripada cara produksi yang memisakan kaum buruh dari alat-alat produksi. Kapitalisme adalah timbul dari ini cara produksi, yang oleh karenanya, menjadi sebabnya meerwaarde (nilai) tidak jatuh di dalam tangannya kaum buruh melainkan jatuh di dalam tangannya kaum majikan. Kapitalisme, oleh karenanya pula, adalah menyebabkan kapitaalaccumulatie (akumulasi kapital), kapitaal-concentratie (konsentrasi kapital), kapitaalcentralisatie (sentralisasi kapital), dan industrieel reserve armee (tentara cadangan industri). Kapitalisme mempunyai arah kepada verelendung, yakni menyebarkan kesengsaraan.

Perkembangan kapitalisme di negeri-negeri maju, sejak awal kelahiran hingga kini, melahirkan persaingan-persaingan di antara mereka. Modal kecil dikalahkan oleh modal besar sehingga modal besar dapat memonopoli suatu perekonomian. Produksi melimpah tanpa daya beli, yang merupakan konsekuensi dari sistem kapitalisme sendiri, mengakibatkan keuntungan yang dihasilkan kapitalis semakin berkurang. Situasi ini mendorong mereka untuk temukan “tempat penghisapan baru” demi meningkatkan kembali keuntungan. Seperti yang pernah kami sebutkan, hal-hal yang paling dibutuhkan kapital asing di “tempat penghisapan baru” adalah bahan baku (misal: tambang, hasil kebun, hasil hutan), kemudian pasar untuk menjual produk-produk olahan, dan tenaga kerja murah. Dari sini mulai terjadi imperialisme kapital.

Kapitalisme di Indonesia tumbuh dari imperialisme modal asing yang mencari tempat penghisapan baru tersebut. Kaum Tani digusur dari tanahnya, atau dari kemampuannya berproduksi. Usaha kecil yang bermodal pas-pasan dan ketinggalan teknologi dibangkrutkan dalam persaingan. Perlahan mereka (yang kalah) pindah mencari penghidupan sebagai buruh upahan yang dibayar murah. Kapital monopolis asing berhasil menguasai mayoritas sumber kehidupan di negeri ini. Paska kemerdekaan, kapital asing masih berhasil temukan “mitra lokal” yang menjadi kepanjangan tangannya. “Mitra lokal” inilah yang berperan menghadirkan kembali penjajahan baru di bawah rezim militeristik orde baru, dan semakin dikukuhkan oleh penguasa sekarang.

Dari sedikit gambaran ini dapat ditemukan hubungan yang tidak terpisahkan antara kapitalisme dan imperialisme. Sementara, perjuangan Kaum Buruh bertujuan memutuskan seluruh selang penghisapan dari dirinya.

Namun, dalam tiap tahapan perjuangan, menuntut adanya pengutamaan, yang dalam konteks sekarang adalah perjuangan nasional (kebangsaan) untuk lepas dari imperialisme. Pengutamaan ini bukan untuk mentoleransi eksploitasi kapitalisme bangsa sendiri. Hal ini pernah disampaikan oleh Soekarno dalam esai berjudul “Kapitalisme Bangsa Sendiri?” sebagai berikut:

Mengutamakan perjuangan kebangsaan, itu TIDAK berarti bahwa kita tidak harus melawan ketamakan atau kapitalisme bangsa sendiri. Sebaliknya! Kita harus mendidik Rakyat juga benci kepada kapitalisme bangsa sendiri, dan dimana ada kapitalisme bangsa sendiri, kita harus melawan kapitalisme bangsa sendiri itu juga! Tetapi MENGUTAMAKAN perjuangan nasional, –itu adalah berarti, bahwa pusarnya, titik beratnya, aksennya kita punya perjuangan haruslah terletak didalam perjuangan nasional. Pusarnya kita punya perjuangan sekarang haruslah didalam memerangi imperialisme asing itu dengan segala tenaga nasional kita, dengan segala tenaga-kebangsaan, yang hidup didalam sesuatu bangsa yang tak merdeka dan yang ingin merdeka!

Dalam perlawanan ini Kaum Buruh dapat menempatkan tuntutan bagi perbaikan kesejahteraan dan bagi suatu kemenangan politik. Kesejahteraan dapat diperoleh apabila penjajahan ekonomi dihapuskan, karena akumulasi nilai tambah dapat terbendung di dalam negeri. Namun perjuangan buruh tidak semata-mata untuk tujuan kesejahteraan dirinya, melainkan untuk memastikan terwujudnya masyarakat Indonesia yang cerdas, merdeka, adil dan makmur, yang untuk itu dibutuhkan sebuah perjuangan politik.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut