Kandidat Sayap Kiri Menangi Pemilu Peru

Kandidat sayap kiri, Ollanta Humala, dilaporkan memenangkan pemilu presiden putaran kedua Peru kemarin (5/6). Humala, yang juga bekas kolonel, dilaporkan menang secara tipis terhadap saingannya Keiko Fujimori, anak dari diktator Chile Alberto Fujimori.

Hasil perhitungan sementara menunjukkan bahwa Humala menang dengan selisih lima persen atas Keiko Fujimori. Sebelumnya, dalam putaran pertama, Ollanta Humala juga menang atas saingannya ini. Tetapi tidak mendapatkan suara di atas 50%, sehingga harus dilakukan pemilihan putaran kedua.

Dengan 81% suara yang sudah terhitung, Ollanta Humala mendapatkan 50,7% suara, sedangkan Keiko Fujimori mendapatkan 49,3%. Sementara itu, hasil pemilihan versi lembaga independen menyebutkan: Humala mendapatkan suara 51,3% suara, sedangkan Keiko Fujimori mendapatkan 48,7%.

Para pendukung Humala sudah turun ke jalan-jalan begitu mendengar berita kemenangan ini. Mereka mengadakan pesta kemenangan yang disebut sebagai “kemenangan rakyat”. Sementara itu, kandidat sayap kanan Keiko Fujimori bersedia mengakui kekalahan itu jika memang sudah resmi.

Ollanta Humala disebut mendapatkan dukungan suara sangat besar dari masyarakat pribumi di daratan tinggi Andes, yang selama ini tidak mendapat apapun dari eksplorasi tambang asing.

Selain itu, pendukung Humala adalah sebagian besar pejuang demokrasi, yang takut jika Keiko Fujimori meraih kemenangan, maka ayahnya (Alberto Fujimori) dibebaskan dari penjara dan demokrasi menjadi terancam.

Kemenangan rakyat dan Kubu Anti-Imperialis

Ollanta Humala adalah bekas kolonel yang berfikiran maju dan anti-imperialisme. Humala menggambarkan politiknya sebagai anti-neoliberal dan mendukung integrasi Amerika Latin. Tekanan pokok kampanyenya adalah distribusi kekayaan yang lebih adil kepada seluruh rakyat.

Selain itu, Humala menjanjikan akan menyusun konstitusi baru guna menjamin hak demokrasi rakyat, pendidikan dan kesehatan gratis, peran negara yang lebih besar dalam perekonomian, dan kontrol negara terhadap sumber daya alam.

Akan tetapi, meskipun dikenal dekat dengan Chavez, tetapi Humala berusaha mendefenisikan politiknya lebih moderat. Ia mengaku mengagumi gaya politik Lula Da Silva di Brazil. “model Venezuela tidak cocok untuk Peru,” katanya.

Presiden Bolivia, Evo Morales, langsung mengirimkan ucapan selamat atas kemenangan Humala ini. “Kemenangan besar Humala adalah hasil dari perjuangan rakyat untuk kedaulatan dan martabat,” katanya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut