José Antonio Abreu, Sang Pengagas Revolusi Musik di Venezuela

Tanggal 24 Maret lalu, Venezuela kehilangan salah seorang maestro besar dalam musik: José Antonio Abreu. Dia adalah penggagas revolusi musik di Venezuela.

Abreu lahir pada 7 Mei 1939. Di usia masih belia, 9 tahun, dia sudah belajar musik. Tahun 1957, dia masuk akademi musik di Caracas, untuk memperdalam pengetahuan tentang piano, komposisi dan konduktor.

Uniknya, kendati hidupnya banyak jatuh cinta pada musik, Abrau justru meniti jalan hidupnya sebagai ekonom. Dia lulus sebagai sarjana ekonomi dari universitas ternama di Venezuela, Universidad Católica Andres Bello. Hingga mendapat gelar Professor ekonomi dan mengajar di Universidad Simón Bolívar.

Tahun 1960-an, dia terjun dalam politik dan sempat menjadi seorang legislator. Puncak karir politiknya adalah pernah menjabat Menteri Kebudayaan di tahun 1988.

Yang menarik, di tengah-tengah kesibukannya sebagai seorang politisi dan pengajar, dia tetap punya perhatian pada pengembangan musik di Venezuela.

Karena itu, di tahun 1975, dia menjadi penggagas berdirinya sebuah proyek musik yang disebut El Sistema. Mimpi Abreu saat mendirikan El Sistema sangat sederhana: memberikan pendidikan musik kepada setiap rakyat Venezuela, terutama kaum miskin dan marginal.

Bagi Abreu, musik harus menjadi hak milik seluruh rakyat, tidak terkecuali kaum miskin. Musik tidak boleh menjadi hak eksklusif segelintir orang. Karena itu, dia mendirikan El Sistema untuk memastikan setiap rakyat Venezuela bisa belajar musik.

Saat Abreu mendirikan El Sistema pada 1975, kondisi Venezuela sangat memprihatinkan. Meski saat itu sedang periode booming minyak, tetapi lebih dari 60 persen rakyat Indonesia terseret dalam kemiskinan. Rezeki dari minyak hanya dinikmati segelintir tangan, yakni korporasi asing dan elit Venezuela.

Kondisi itu berdampak pada kebudayaan. Sejak itu, orang-orang miskin tidak bisa lagi mengakses museum, galeri, teater, sekolah musik, dan pertunjukan-pertunjukan musik. Musik klasik hanya milik segelintir elit dan kalangan berpunya.

Kondisi itulah yang menggerakkan Abreu untuk mendirikan El Sistema. Dia memulai El Sistema hanya dengan 11 orang murid. Namun, siapa sangka, El Sistema berkembang sangat pesat ke seantero Venezuela hingga ke seluruh dunia. Di tahun 2015, sekolah musik ini sudah menampung 700.000 murid dari seantero Venezuela. Sebanyak 80 persen diantaranya berasal dari keluarga miskin.

Tak hanya itu, El Sistema juga sudah mendirikan 400 pusat musik dan 500 kelompok orkestra yang tersebar di berbagai pelosok Venezuela. Sepanjang pendiriannya, El Sistema sudah memberikan pendidikan musik gratis kepada 3 jutaan anak di Venezuela.

Yang menarik, untuk memberikan pendidikan musik kepada setiap anak Venezuela, El Sistema tidak memungut bayaran. Juga tidak menerapkan seleksi atau audisi. Siapapun berhak mendaftar dan belajar di sekolah musik rakyat ini.

Sekolah-sekolah El Sistema, yang disebut núcleos, berdiri di perkampungan-perkampungan miskin (barrio). Anak-anak miskin belajar menggunakan alat musik hingga orkestra. Sejak itu, nama-nama maestro seperti Mozart, Beethoven, Chopin, dan Liszt, tidak asing lagi bagi rakyat miskin Venezuela.

“Sebagai seorang pemusik, saya punya mimpi ingin melihat anak-anak Venezuela memainkan Mozart. Kenapa tidak?” kata Abreu kepada New York Times, di tahun 2012.

Dan memang, sejak kehadiran El Sistema, alat musik macam biola, cello, flute, klarinet, dan akordeon, bukan lagi alat musik elit di Venezuela. Barang-barang itu sudah biasa ditenteng anak kecil keluar masuk barrio di Venezuela.

Yang menarik lagi, El Sistema tidak hanya memberi musik kepada anak-anak normal, tetapi juga kepada penyandang disabilitas. Mereka punya grup paduan suara yang terdiri dari anak-anak yang tuli, buta, atau penyandang cacat lainnya.

“Hari ini kami katakan, seni musik di Amerika latin bukan lagi monopoli elit, tetapi sudah menjadi hak sosial, hak seluruh rakyat,” kata Abreu saat menerima penghargaan Ted Prize tahun 2009.

Bagi Abreu, musik bukan hanya soal seni dan kreatifitas, tetapi juga alat pembangunan manusia. Motto El Sistema: musik untuk perubahan sosial. Melalui musik, anak-anak belajar tentang kerjasama, harmoni dan solidaritas.

Begitu Chavez berkuasa di tahun 1999, El Sistema makin berkembang pesat. Pemerintahan Chavez mendanai hampir 90 persen kegiatan El Sistema.

Bahkan, untuk terus memassalkan musik ke tengah rakyatnya, Chavez meluncurkan misi sosial bernama Misión Musica, yang memberikan pengetahuan dan teknik bermusik kepada anak-anak dan kaum muda Venezuela.

Chavez juga mendukung penuh Simon Bolivar Youth Orchestra, yang merupakan jebolan El Sistema. Orkestrasi Simon Bolivar sudah punya jam terbang untuk tampil di AS dan berbagai negara di Eropa.

Konduktor Simon Bolivar Orkestra, Gustavo Dudamel, masuk dalam daftar 10 kondutor terbaik dunia. Ia disejajarkan dengan Arturo Toscanini (1867-1957), Leonard Bernstein (1918-1990), André Previn, Sir Simon Rattle, Herbert von Karajan (1908-1989), Marin Alsop, Sir Malcolm Sargent (1895-1967), Sir Thomas Beecham (1879-1961), dan Sir Georg Solti (1912-1997).

Komposer sekaligus pendiri Twilite Orchestra, Addie MS, memasukkan Gustavo Dudamel, jebolan El Sistema, dalam daftar enam komposer musik klasik yang paling menginspirasi dirinya.

El Sistema sendiri sudah mendapat banyak penghargaan, termasuk dari Royal Swedish Academy dan UNESCO. Abreu sendiri pernah dinominasikan untuk penghargaan nobel perdamaian.

Berbagai keberhasilan dan capaian itu membuktikan klaim Abreu, bahwa “musik bagi kaum miskin tidak berarti memiskinkan musik itu.” Sebaliknya, dia menegaskan, “hak atas musik adalah hak azasi manusia yang paling suci.”

Kini Abreu sudah berpulang. Bangsa Venezuela kehilangan seorang penggagas revolusi musik di Negerinya. Dan untuk menghormati sang Maestro, Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyatakan hari berkabung nasional.

“Kami sangat terharu akan kepergianmu….Maestro Abreu,” kata Presiden Maduro dalam siaran televisi Negara.

Selamat jalan, sang Maestro.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut