Jembatan Emas Dan Revolusi Multikompleks

Banyak orang beranggapan, kalau Indonesia sudah merdeka, maka tugas nasional kita sudah selesai. Tugas kita selanjutnya adalah mengkonsolidasikan kemerdekaan nasional itu dan mengisinya dengan pembangunan.

Segampang itukah? Tidak. Menurut Soekarno, kemerdekaan itu bukanlah garansi untuk datangnya kemakmuran dan kesejahteraan. Artinya, jangan bermimpi bahwa kemerdekaan itu akan serta merta menghadirkan “masyarakat serba enak dan nyaman”.

Seterusnya, Soekarno berpendapat, kemerdekaan itu sekedar jembatan emas. Maksudnya, kemerdekaan itu cuma “ruang leluasa” bagi kita untuk memperjuangkan atau menyusun cita-cita kemakmuran. Dengan adanya kemerdekaan, kata Soekarno, kita punya kebebasan untuk menjalankan urusan politik, ekonomi, dan sosial sesuai konsepsi nasional kita.

Tetapi itu bukanlah sebuah proses yang gampang. Soekarno mengingatkan, kolonialisme yang “overheersen” (memerintah) bisa saja menghilang, namun imperialisme yang “beheersen” (menguasai) masih bercokol. Maksudnya, kolonialisme dalam bentuk fisik, yakni administratur kolonial, bisa saja angkat kaki dari negeri ini. Namun, pengaruhnya di lapangan ekonomi, politik, dan sosial-budaya tidak serta merta menghilang.

Malahan, dalam banyak kasus, kolonialisme lama bertransformasi ke dalam bentuk kolonialisme yang halus. Mereka melembagakan penguasaan tidak langsung serta halus melalui bidang politik, ekonomi, sosial, militer, dan teknik. Ini dilakukan melalui intervensi lembaga-lembaga internasional buatan imperialis maupun rezim-rezim boneka yang dibuat di negara bekas jajahan.

Soekarno sangat menyadari bahaya itu. Karena itu, dia selalu mewanti-wanti, bahwa revolusi kita belum selesai. Kalau belum ada penjungkirbalikkan terhadap susunan masyarakat lama, itu berarti tujuan revolusi belum tercapai. Kalau imperialisme dan kapitalisme masih bercokol, maka masyarakat adil dan makmur tentu tidak akan bisa dicapai.

Supaya sistem imperialisme dan kapitalisme bisa dijungkirbalikkan, dan masyarakat adil dan makmur bisa dicapai, Soekarno mencanangkan revolusi total alias revolusi multikompleks.

Soekarno berusaha memberi pengertian pada revolusi multikompleks ini. Pertama, revolusi ini bisa disebut revolusi panca-muka. Kenapa disebut panca-muka? Karena revolusi ini menggabungkan lima revolusi sekaligus: revolusi nasional, revolusi politik, revolusi ekonomi, revolusi sosial, dan revolusi kebudayaan.

Kedua, revolusi ini berjalan secara simultan. Artinya: Lima revolusi di atas, yakni revolusi nasional, revolusi politik, revolusi ekonomi, revolusi sosial, dan revolusi budaya, berjalan secara berbarengan atau sekaligus. Revolusi multikompleks ini berjalan setelah kemerdekaan diraih. Selain menghancurkan total sisa-sisa struktur sosial lama, revolusi multikompleks ini juga menyiapkan landasan untuk masyarakat baru.

Nah, apa esensi dari kelima revolusi itu?

Revolusi nasional bermakna pembebasan nasional 100% dari segala bentuk imperialisme dan kolonialisme. Revolusi nasional ini hendak membentuk sebuah nasion yang benar-benar merdeka, berdaulat, dan mandiri.

Revolusi politik bermakna perombakan total terhadap sistem politik lama, yakni sistem politik feudal (aristokratis) dan kolonialistik, menjadi sistem politik demokratis-kerakyatan (sosio-demokrasi).

Revolusi ekonomi bermakna proses pelikuidasian sistem ekonomi kolonialistik, yang selama 350-an tahun menghisap rakyat Indonesia, menjadi sistem ekonomi nasional yang merdeka. Revolusi ini akan mengakhiri kekuasaan modal kolonial di segala lapangan ekonomi.

Revolusi sosial bermakna proses pengjungkirbalikkan struktur sosial masyarakat lama, yakni sisa-sisa feodalisme dan kapitalisme, menjadi struktur sosial yang “sama rata-sama rasa”. Kata Soekarno, revolusi ini menghendaki perubahan relasi produksi lama menjadi relasi produksi baru.

Revolusi budaya berarti penghancuran berbagai bentuk sisa-sisa kebudayaan feudal dan kebudayaan imperialistik. Selanjutnya, revolusi ini akan melahirkan kebudayaan baru, sebuah kebudayaan progressif, yang berlandaskan pada kepribadian luhur bangsa Indonesia.

Hasil akhir dari revolusi multikompleks ini, kata Soekarno, adalah sebuah masyarakat Indonesia baru, yakni masyarakat baru tanpa “exploitation de I’homme par I’homme” (penghisapan manusia atas manusia) dan  “exploitation de nation par nation” (penghisapan bangsa atas bangsa).

Timur Subangun, Kontributor Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut