Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Never Leave History!)

“Pelajarilah sejarah perjuanganmu sendiri yang sudah lampau, agar supaya tidak tergelincir dalam perjuanganmu yang akan datang,” demikian dikatakan Bung Karno sambil mengutip pujangga Skotlandia, Thomas Carlyle.  Jika kita menghayati kata-kata Bung Karno ini, maka kita akan segera menggerutu bila menyaksikan “perilaku anti-kebudayaan” pemerintah sekarang ini, yang telah menjual satu-persatu benda dan berbagai peninggalan bersejarah milik bangsa ini.

Baru-baru ini, rumah bersejarah yang terletak Dusun Kalijaya, Rengas Dengklok, Karawang, Jawa Barat, yang dulu tempat Bung Karno dan Bung Hatta singgah saat ‘penculikan” semalam oleh para pemuda revolusioner, sekarang hendak dijual oleh ahli warisnya. Kejadian serupa juga terjadi pada patung Jenderal Sudirman di Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan, Pacitan.

Bagaimana kita bisa menceritakan sejarah “penjahitan” bendera pusaka merah putih dalam semalam oleh Fatwati, istri Bung Karno, jika rumah tempat beliau melakukan itu sudah dipindah-tangankan kepada orang lain. Bagaimana generasi yang lebih muda bisa memahami sejarah perjuangan bangsanya, jika jejak-jejak sejarah bangsanya telah dihilangkan satu per-satu.

Soekarno pernah berkata, “jikalau engkau meninggalkan sejarah, engkau akan berdiri di atas vacuum, engkau akan berdiri di atas kekosongan, dan perjuanganmu nanti akan paling-paling bersifat amuk saja, seperti kera di gelap gulita.”Iya, perkataan Bung Karno ini sangat tepat adanya, sebab manusia atau bangsa manapun tidak akan bisa menghindar dari trilogi sejarah; masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.

Guna membangun bangsa (nation building) dari kemerosotan kolonial, maka tidak bisa tidak tahap yang pertama sekali harus dilakukan adalah membangun jiwa dan karakter sebuah bangsa. Ini bertujuan untuk membangkitkan kepercayaan diri sebagai sebuah bangsa, membangun self-respect terhadap kemampuan bangsa sendiri, supaya kita sanggup melakukan b-e-r-d-i-k-a-r-i.

Sejarah bangsa, baik yang gilang-gemilang ataupun yang pahit dan menyedihkan, adalah pelajaran yang sangat penting bagi setiap generasi di belakangan. Dari situ, generasi mendatang bisa mengetahui suka dan dukanya perjuangan, mengetahui betapa beratnya mencapai kemerdekaan, sehingga mereka punya tanggung jawab dan semangat yang membara pula untuk melanjutkan perjuangan itu.

Sebaliknya, bangsa yang telah kehilangan bukti-bukti sejarahnya, tidak lagi mempunyai kebanggaan-kebanggaan di masa lalu, akan sangat mudah terombang-ambing di jaman sekarang ini. Tidak bisa dipungkiri, bahwa di saat generasi baru dibuat lupa dengan sejarah perjuangan bangsanya, proses perjalanan bangsa ini pun seperti berjalan mundur. Dalam banyak kasus, proses pemusnahan sebuah bangsa selalu diawali dengan penghancuran peninggalan sejarah dan manipulasi terhadap sejarah.

Itulah mengapa, kita menuntut agar pemerintah punya tanggung jawab besar untuk terus merawat berbagai peninggalan bersejarah. Dalam kepentingan itu, tentu saja, pemerintah tidak boleh “pelit” untuk mengeluarkan anggaran pemeliharaan dan renovasi pusat-pusat peninggalan sejarah.

Apalagi, menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-65, bangsa Indonesi perlu dipompa kembali semangatnya dalam melawan imperialisme dan rekolonialisme. Sekarang ini, kita seperti bangsa yang sedang “lupa” dengan sejarah sendiri, sehingga begitu mudah terombang-ambing dalam situasi global saat ini. Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Never Leave History!), demikian pesan terakhir Bung Karno.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • dicky

    pemilik rumah di rangas itu seorang tionghoa seperti juga gedung sumpah pemuda, kasihan sekali sejarah tionghoa dalam kemerdekaan tidak akan pernah terungkap..karena secara sistem matis tak pernah ditampilkan entah apa maksudnya..banyak tokoh2 pergerakan tionghoa….baik nama atau peranannya..perlawanan terhadap VOC bisa dilacak sejak pada masa pembantaian ratusan ribu tionghoa di dekat sungai angke(angke=merah=darah=b.tionghoa peranakan),1800 oleh belanda..asal usal tionghoa benteng yg jelas2 dilupakan ..baik nama atau peranannya..