Israel Kembali “Disapu” Perlawanan Rakyat

Puluhan ribu rakyat Israel kembali tumpah ruah di jalan-jalan utama kota Tel Aviv, Sabtu (29/10), untuk memprotes ketidakadilan ekonomi. Para penyelenggara protes menuntut agar Knesset (Parlemen) segera menyusun ulang anggaran dengan mendengar tuntutan rakyat.

Protes ini merupakan kelanjutan dari gelombang protes sosial yang meletus sejak musim panas dan memuncak pada september lalu saat setengah juta rakyat Israel berbaris di jalan-jalan memprotes kenaikan harga dan krisis ekonomi.

Usai gerakan september, banyak orang yang memperkirakan seolah-olah gerakan sudah mati. Sebab setiap orang mulai kembali kepada pekerjaan masing-masing.

Akan tetapi, pada Sabtu malam, protes kembali meletus. Kepolisian Israel memperkirakan 30 ribu orang berbaris di Tel Aviv. Sedangkan ribuan lainnya menggelar aksi protes di Yerussalem. Tetapi angka sebenarnya bisa lebih tinggi dari perkiraan Kepolisian.

Seperti dilaporkan oleh wartawan Russian Today, Paula Slier, banyak pelaku protes merasa khawatir kisah tentang aksi protes mereka tidak diketahui oleh media dan masyarakat internasional, karena sedang fokus pada persoalan di Gaza.

Pasalnya, beberapa jam sebelum protes massal berlangsung, beberapa roket sudah ditembakkan dari Gaza ke wilayah Israel. Sejumlah orang dilaporkan terluka. Serangan ini merupakan balasa terhadap serangan pesawat israel terhadap militan Palestina di Gaza Selatan. Lima orang pejuang palestina tewas akibat serangan itu.

Bahkan, akibat dari pecahnya pertempuran itu, sebuah protes di kota Israel selatan, Beersheba, dibatalkan.

Lebih lanjut, menurut laporan Paula Slier, serangan militer Israel ke Palestina sangat menguntungkan pemerintah Israel, karena hal itu akan mengalihkan perhatian rakyat Israel terkait masalah-masalah di dalam negeri.

Sebagian besar demonstran menyampaikan tuntutan terkait anggaran yang diputuskan oleh parlemen Israel.

“Kami ingin anggaran memperhatikan kepentingan umum seluruh rakyat,” ujar Nicola Simmonds, seorang aktivis sosial.

“Di israel masalah kita bukan resesi ekonomi,” kata dia, “masalah kita bukan karena tidak cukup uang. Masalah kita adalah salah urus.” Pernyataan ini untuk membedakan protes yang muncul di Israel dengan berbagai protes di eropa.

Demonstran juga mempersoalkan alokasi anggaran, khususnya anggaran pertahanan dan pembangunan rumah pemukim Israel.

Meskipun parlemen israel berusaha menguraikan garis besar soal reformasi ekonomi, tetapi pengunjuk-rasa merasa kecewa karena proposa parlemen kelihatannya tidak akan membawa perubahan.

Sementara itu, pemerintah israel terus menggencarkan pembangunan pemukiman baru di wilayah palestina. Sementara rakyat israel sendiri pusing dengan naiknya sewa rumah dan biaya kebutuhan hidup. mereka tidak rela uang negara hanya dipakai untuk proyek “pendudukan”.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut