Kronologis Pengepungan Sekretariat Serikat Tani Indramayu

Hari Rabu (11/9) kemarin, ratusan aparat kepolisian, TNI, preman, dan Perhutani mengepung sekretariat Serikat Tani Indramayu (STI) di Bojong Raong, Indramayu, Jawa Barat.

Tak hanya itu, gabungan aparat keamanan, preman dan Perhutani itu juga mengintimidasi anggota STI. Sejumlah gubuk petani dirusak dan dibakar oleh aparat keamanan tersebut. STI sendiri adalah organisasi kaum tani yang berjuang bersama petani menolak pembangunan Waduk Bubur Gadung.

Berikut ini kronologis pengepungan, penyisiran, dan intimidasi terhadap anggota STI di Indramayu:

1.       Pukul 09.00:

Ratusan aparat yang merupakan gabungan dari Polisi, Tentara, preman dan Perhutani berkumpul di Bojong Raong.

2.       Pukul 10.30:

Sekitar 50 orang anggota polisi, TNI, dan preman mengepung sekretariat STI yang beralamat di Desa Bojong Raong. Saat itu, sebagian aparat gambar di dalam sekretariat STI, sementara yang lainnya menakut-nakuti warga di luar sekretariat.

3.       Pukul 12.00:

Sekitar 100 aparat berkumpul di Balai Desa Suka Slamet, kemudian bergerak menuju ke perempatan Tanjung Jaya.

4.       Pukul 13.00:

Aparat TNI, Polisi, dan preman mendatangi rumah Bapak Yaman, salah seorang anggota STI, di Plasa Koneng. Mereka menunjuk-nunjuk bahwa Bapak Yaman adalah ketua basis STI Plasa Koneng. Setelah itu, mereka melanjutkan penyisiran di Cibenoang, Sandrem, Punduan I dan Punduan II.

5.       Pukul 14.00:

Aparat kepolisian, TNI, dan preman datang ke Biting. Di sana, dua aparat dibantu tokoh masyarakat, yakni lurah Jadi dan kasun, mencoba menakut-nakuti warga.

6.       Pukul 14.30:

Polisi, Tentara dan preman serta perhutani mendatangi gubuk milik petani bernama Ratim. Mereka merusak pintu gubuk dan merobek terpal penutup gubuk. Tak hanya itu, ketika pengerusakan gubuk terjadi, Bapak Ratim kehilangan emas seberat 10,5 gram berupa gelang dan uang tunai sejumlah Rp. 4.150.000. Aparat kepolisian, TNI, dan preman juga mendatangi gubuk milik Ibu Tenah. Di sana mereka menebar ancaman, bahwa apabila dalam waktu 5 hari tidak meninggal gubuk tersebut, maka gubuk tersebut akan dibakar.

7.       Pukul 15.30:

Polisi, TNI, preman, dan perhutani melanjutkan perjalanannya ke Tegal Sapi. Di sana mereka menemui dan mengancam seorang petani bernama Cahyono. Katanya, apabila dalam waktu 5 hari tidak meninggalkan gubuknya, maka gubuk tersebut akan dibakar.

8.       Pukul 16.00:

Aparat kepolisian, TNI, preman, dan Perhutani kembali melanjutkan perjalannya ke Pasir Torok. Di sana mereka kembali melakukan pengrusakan terhadap gubuk warga, yakni gubuk milik Pak Sardilan. Atap gubuk dilempari pakai kayu dan memaksa pemiliknya untuk keluar. Para pelaku terdiri dari polisi, tentara, mandor dan Pemuda Pancasila.

9.       Pukul 23.00:

Oknum tak bertanggung jawab membakar gubuk Pak Tarsana, Petani Penggarap anggota STI Di Basis Tegal Sapi. 1 Sepeda Motor milik petani juga dibakar.

Berikut nama-nama petani yang menjadi korban intimidasi: Bapak Yaman, Bapak Ratim, Ibu Tenah, Bapak Cahyono, Bapak Sardilan, Bapak Tarsana (Semua adalah Petani Serikat Tani Indramayu)

Adapun korban materil akibat aksi aparat keamanan (Polri/TNI), preman, Perhutani, dan Pemuda Pancasila tersebut adalah: emas seberat 10,5 gram; uang sebesar Rp. 4.150.000, 3 gubuk petani rusak, 1 sepeda motor terbakar.

Sumber: Agus Suprayitno (Konsorsium Pembaruan Agraria 081310338980/087782411103)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Alfan Hadi Ratman

    aku tak mengerti semuanya ini yang ku tahu tupoksi dr para aparat adalah mengamankan bukan mengintimidasi,,,,,, apa yang mereka lakukan saya rasa dibawa kekuasaan hukum parpol yang tidak memihak rakjat sungguh aneh,,