Imperialisme di Indonesia (6)

“Bangsa yang terdiri dari kaum buruh belaka” dan “ menjadi buruh antara bangsa-bangsa”, Tuan-tuan Hakim,—itu bukan nyaman! Itu bukan memberi harapan besar bagi hari kemudian! Itu bukan memberi perspektif pada hari kemudian itu, jikalau terus-terusan begitu! Tidakkah oleh karenanya, wajib tiap-tiap nasionalis mencegah keadaan itu dengan sekuat-kuatnya? Tidakkah hal ini saja sudah cukup buat membenarkan kami punya pergerakan?

“Bangsa yang terdiri dari kaum buruh belaka” –amboi, dan berapa besarkah upah yang biasanya diterima oleh Kang Kromo atau Kang Marhaen itu! Berapakah, umpamanya, besarnya upah di dalam perusahaan yang terpenting, yakni perusahaan gula,— perusahaan gula yang terdiri di tengah-tengah pusat pergaulan hidup Bumiputra, di tengah-tengah ulu hati pergaulan hidup itu? Menurut Statistisch Jaaroverzicht : rata-rata hanya f 0,45 seharu bagi orang laki-laki dan f 0,35 sehari bagi perempuan![1]

Sesungguhnya, Dr. Huender tak salah kalau ia menulis:

“Perusahaan gula buat orang Indonesia yang berhak atas tanah, adalah merugikan: upah-upah yang dibayarkan kepada orang-orang Indonesia yang bekerja padanya, jika tidak terlalu rendah untuk menolak maut, setidak-tidaknya adalah upah minimum, yakni upah yang paling rendah”

Dan bukan di dalam perusahaan gula saja kita dapatkan “Upah yang paling rendah” atau “minimumloonen” itu! Upah minimum di Indonesia kita dapat dimana-mana. Selama rumah tangga rakyat Bumiputra masih suatu rumah tangga yang kocar-kacir, selama rakyat Bumiputra masih “minimumlijdstef[2], sebagai dikatakan Dr.Huender selama itu pula upah-upah dimana-mana tentulahberwujud upah-upah minimum,–selama itu maka rakyat yang kelaparan itu tentu terpaksa menerima saja upah-upah yang bagaimanapun juga rendahnya, “buat menolak maut”, “om er het leven bij te houden”.[3] Prof, van Gelderen di dalam bukunya dengan seterang-terangnya menunjukkan perhubungan sebab akibat antara rumah tangga kami yang kocar-kacir ini dengan rendahnya upah-upah di dalam pergaulan hidup kami ,—upah-upah di dalam pergaulan hidup kami yang menurut pendapatnya, bukan “Ertragslohn[4] tetapi “Erhaltungslohn[5] yakni upah yang “sekedar supaya jangan sampai mati kelaparan”,— upah yang “sekedar sama dengan ongkos-ongkos hidup yang paling rendah”!

Dan hidupnya, bestaannya rakyat umum? Bagaimanakah hidupnya rakyat umum? Di atas sudah kami katakan, bahwa Dr. Huender menyebut rakyat Bumiputra itu “minimumlijdster” (penderita minimum).

“Yang paling sukar dan paling mengkhawatrikan berhubung dengan keadaan ekonomi di jawa dan madura, ialah bahwa penduduk yang telah dibebani sampai batas kesanggupannya itu rupanya adalah “penderita minimum” dan bagi mereka ternyata beberapa peraturan yang diadakan pemerintah untuk memperbaiki kehidupan mereka, tidak mempan……………..,[6]

begitulah kesimpulan Dr. Huender. Dan Prof. Boeke di dalam bukunya “Het zakelijke en persoonlijke element in de koloniale welvaartspolitiek”, berkata:

“Si tani kecil, pak tani Jawa yang miskin itu …. bukan saja melarat hidupnya, tapi tidak bisa pula mempengaruhi apa-apa kesejahteraan sekelilingnya; sisa-sisa yang sedikit dari perusahaannya, tidak memungkinkan dia, di luar keperluan-keperluannya yang paling penting sehari-hari, memenuhi keperluan-keperluan lain yang agak berarti juga, yakni keperluan-keperluan yang bisa diadakan oleh lain-lain golongan masyarakat, yang menunggu-nunggu apa yang akan diminta dan ditawarkannya. Yang terutama bisa dikerjakannya dalam masyarakat, ialah menekan tingkat upah.”[7]

“Hidup yang melarat”, “een Ellendig bestaan” Tuan-tuan! Hakim, begitulah pendapat Prof. Boeke, seorang yang toh bukan bolsyewik atau “penghasut”, — melainkan seorang ahli ekonomi yang ternama! Angka-angka, Tuan-tuan Hakim? Menurut perhitungan Dr. Huender, penghasilan seorang kepala rumah tangga marhaen setahun ialah rata-rata  f 161,-, jumlah beban rata-rata/22.50,- jadi bersih penghasilan setahun adalah f 161,- — f 22.50 = f 138.50, (seratus tiga puluh delapan rupiah lima puluh sen!), Tuan-tuan Hakim, di dalam dua belas bulan! Yakni, bleum sampai f 12. – sebulan; yakni belum sampai f 0.40 sehari yakni, kalau dimakan lima orang (besarnya sama rata), belum sampai f 0.08 sehari seorang![8] Sesungguhnya, sejak kalimatnya Pruys v.d. Hoeven yang berbunyi bahwa kebanyakan rakyat hidupnya “sekarang makan besok tidak” sejak perkataannya Mr. Brooshooft bahwa rakyat terjerumus ke dalam “jurang”, sejak dengungnya suara van Kol yang mendakwa atas adanya “negeri-negeri yang tiada sumsum lagi”, atau “jajahan yang sengsara” atau “ kemuduran manusia dan ternak”, — sejak zaman itu tetaplah bangsa kami hidup “sekarang makan besok tidak”, tetaplah bangsa kami hidup dalam “jurang”, tetaplah bangsa kami hidup dalam “jajahan yang sengsara”!

Bahwasanya,–drainage yang kami derita dengan tiada berhentinya itu, tak luput menunjukkan pengaruhnya,–imperialisme-modern tak luput menunjukkan kejahatan shakti-shaktinya!

Orang bisa berkata: “Adakah imperialisme modern itu berkejahatan? Gula “memasukkan” uang ke dalam pergaulan hidup Indonesia dengan upah-upah dan penyewaan tanah; karet, teh, kopi, kina, hanya membuka tanah-tanah hutan yang jauh dari rakyat; minyak tanah keluarnya dari sedalam-dalamnya tanah, — semua memberi “berkah” pada rakyat dan kesempatan berburuh!

O, memang, — memang gula “memasukkan” uang; memang onderneming erfpacht tidak begitu “mengenai” rakyat; memang minyak dibor dari sedalam-dalamnya tanah; — memang semua memberi kesempatan berburuh. Tetapi marilah kita membaca pemandangan Prof. Snouck Hurgronje, bagaimana macamnya “berhak” (kalau ada “berhak”), yang modal asing itu berikan kepada kami dan sebagaimana macamnya kaum modal asing itu “memelihara” kesejahteraan kami:

“Manfaat-manfaat yang diterima oleh penduduk Bumiputra dari modal Eropa itu, hanya sisa-sisa hasil pekerjaan kaum majikan, bukan dimaksud dan sekali-kali tidak dimaksud terutama untuk mereka. Tujuan mereka ialah…..cari duit….. Seandainya “wadah gula’ tadi – untuk memakai perbandingan Colijn –mulai kosong, oleh karena satu atau lebih hasil-hasil bumi mengalami krisis harga, maka segeralah semut-semut itu menyusup lagi ke dalam tanah, dengan tidak memperdulikan sedikit juga nasib rakyat yang 35 atau 50 juta, yang tadinya senantiasa mengisi wadah gula itu. Selama, seperti sekarang ini, semut-semut itu berdesak-desak mengerumuni wadah gula itu, artinya, selama onderneming-onderneming Eropa itu beroleh untung, maka kepentingan-kepentingan orang Bumiputra terhadap usaha mereka yang sewajarnya untuk mencapai untung yang lebih besar lagi, tidak aman, jika tidak ada alat penjagaan yang kuat…. Orang tidak usah seorang antikapitalis untuk mengerti betapa berbahayanya kapital Barat mengancam penduduk Bumiputra dari suatu tanah jajahan.”

Marilah kita juga ingat akan kenyataan, sebagai yang diterangkan oleh Prof. Van Gelderen di dalam bukunya tadi, bahwa tinggi-rendahnya upah itu adalah ditetapkan oleh “tenaga produksi” pergaulan hidup umum,— bahwa jikalau pergaulan hidup itu kocar-kacir, upah pasti kocar-kacir dan serendah-rendahnya pula: — bahwa jikalau pergaulan hidup umum itu suatu “Ernahrungswirtschaft[9] upah pasti hanya “Erhaltungslohn” saja! Marilah kita ingat, bahwa keadaan rakyat Indonesia yang sebenarnya, memang membenarkan kenyataan ini, — yakni, bahwa, di mana rakyat Bumiputra itu umumnya adalah “minimumlijdster”, upah yang biasa diterimanya juga memang hanya “minimumloonen”, “Erhaltungslohnen” belaka! Marilah kita ingat, bahwa industri imperialisme yang cita-citanya membikin untung setinggi-tingginya itu, dan yang karena itu, mempunyai kepentingan atas adanya upah-upah yang serendah-rendahnya (yakni mempunyai kepentingan atas adanya loonen yang “minimumloonen”) – oleh karenanya, mempunyai kepentingan pula atas tetapnya pergaulan hidup kami ini dalam keadaan yang kocar-kacir, mempunyai belang atas tetapnya kami punya rumah tangga atau Wirtschaft itu bersifat “Ernahrungswirtschaft” adanya!


[1] Dari statistik tahun 1928 itu diketahui, upah buruh laki-laki satu hari f 0,45, dan upah buruh wanita f 0,35. Bandingkan dengan harga beras waktu itu f 0,07 (7 sen) 1 kg dan upah terendah buruh menurut Pemda Jabar tahun 1982 Rp. 850,- satu hari.

[2] Minimumlijdster = Penderita paling parah.

[3] Bandingkan dengan keadaan masyarakat kita sekarang (1982) karena tidak ada pilihan lain, orang mau saja bekerja di pabrik, walau dengan upah Rp. 200,- sehari (pabrik rokok) atau Rp. 500,- sehari (buruh tani) di jawa.

[4] Ertragslohn = upah terendah.

[5] Erhaltungslohn = upah sekedar tidak sampai mati kelaparan

[6] Walau ada usaha-usaha dan pemerintah Belanda memperbaiki kehidupan kaum tani, tapi perbaikan itu tidak menyentuh perombakan “kemiskinan strukturalnya”.

[7] Prof; Kees Boekc (1884-19):

Seorang ahli pendidikan Belanda yang menulis “Het Zakelijke en persoonlijke element in de koloniale welvaartspolitiek” (hal-hal yang wajar dan bersifat pribadi dalam politik kesejahteraan kolonial).

[8] Bandingkan dengan kehidupan kaum Marhaen tahun 1930 dengan pendapatan 8 sen sehari per jiwa, dengan upah Rp 850,- sehari dengan 5 orang (bapak, istri, dan 3 orang anak) di tahun 1982.

[9] Ernahrungswirtschaft= susunan masyarakat yang kocar-kacir.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut