Penikmat Teh Wajib Tahu 5 Fakta Pahit Sejarah Teh

Teh merupakan minuman paling populer di dunia, disamping air putih. Cara penyajiannya yang sederhana, rasa, aroma, dan khasiatnya, membuat banyak orang yang jatuh cinta pada minuman asal Tiongkok ini.

Namun, tak banyak yang tahu sejarah teh, terutama ketika mulai menjadi komoditi yang diperebutkan oleh para pengejar keuntungan alias kapitalis.

#1

Budidaya teh sudah ada sejak 5000 tahun lalu, sedang tanah Tiongkok menjadi tanah kelahiran teh. Awalnya teh dipakai sebagai obat-obatan, kemudian muncul tradisi mengunyah daun teh, hingga teh disajikan sebagai minuman.

Budaya minum teh makin populer di Tingkok, lalu menyeberang ke Jepang. Tak lama kemudian, pedagang dari Eropa juga merasakan kehebatan teh. Mereka membawa teh ke negerinya, dan seketika populer di Portugis dan Belanda.

Portugis lah yang pertama sekali membangun hubungan dagang dengan Tiongkok untuk bisnis teh. Kemudian disusul Belanda, Perancis dan Inggris.

#2

Setelah lewat 1600-an, teh mulai populer di Eropa. Bangsawan Portugis dan Inggris menjadikan teh sebagai minuman kalangan atas. Sejak itu pula Inggris berambisi menguasai dan mengendalikan bisnis teh.

Karena itu, pada 1839-1842, untuk menguasai teh, disamping memasarkan candu, Inggris memerangi Tiongkok. Inilah yang disebut “perang candu”.

#3

Karena gagal menguasai penuh produksi dan perdagangan teh Tiongkok, Inggris kemudian berusaha membuka perkebunan tersendiri di negara jajahannya. Pilihannya adalah India.

Pada 1830-an dibukalah perkebunan teh skala besar di Assam, India. Suku-suku tribal dan orang-orang Tamil dimobilisasi paksa untuk jadi pekerja di perkebunan itu. Mirip dengan kebijakan “Tanam Paksa” di Hindia-Belanda di tahun yang sama.

Sampai sekarang, suku-suku tribal dan Tamil yang dipaksa bekerja di perkebunan teh itu masih bertahan. Banyak kelompok diantara mereka dipanggil “Manusia teh”.

Sampai sekarang, India menjadi negara penghasil teh terbesar di dunia, disusul Srilangka, Indonesia, Tingkok dan Kenya.

#3

Tetapi teh butuh pemanis, yaitu gula. Permintaan akan gula tentu saja meningkat. Untuk tujuan itu, para kolonialis Eropa juga memaksakan perkebunan tebu dan pabrik gula di negara-negara jajahan. Termasuk yang dilakukan penjajahan Belanda di Hindia-Belanda.

Di Hindia Belanda, untuk kepentingan perkebunan gula, banyak kasus perampasan lahan milik rakyat dan mobilisasi paksa tenaga kerja. Hingga 1930-an, Hindia-Belanda punya 200-an pabrik gula, yang menyebabkan jajahan Belanda ini menjadi eksportir gula terbesar di zaman itu.

#4

Meski teh menjadi minuman paling populer dan dikonsumsi bermilyar-milyar manusia di bumi, tetapi nasib orang-orang yang bekerja di perkebunan teh tetap memprihatinkan.

Tahun lalu, di perkebunan teh Surangga, desa Kertajaya, Sukabumi, upah buruh pemetik teh hanya Rp 400 ribu per bulan. Kondisi tidak jauh berbeda juga terjadi di perkebunan teh di tempat lain.

Di India, perkebunan teh identik dengan upah murah dan perbudakan anak-anak. Rata-rata pekerja hanya mendapat upah 1 USD per hari. Padahal, mereka bekerja di atas 12 jam sehari (Sumber: Guardian).

#5

Sebagian besar tenaga kerja di perkebunan teh adalah perempuan. Di Indonesia, pemetik dauh teh identik dengan kaum perempuan. Begitu juga dengan India.

Penggunaan pestisida untuk perkebunan teh, membuat perempuan-perempuan itu sangat beresiko terpapar racun, seperti DDT (Dichloro-diphenyl-trichloroethane).

Rini Hartono

Foto: pembuat teh di Chaiwalla, India (sumber: Reuters/Ahmad Masood)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut