Imajinasi Pemuda

Apa cita-cita anda? Jika pertanyaan itu diarahkan kepada anak baru gede alias ABG, maka kita bisa menebak jawaban mereka: menjadi artis terkenal atau menjadi personil dari sebuah grup boyband. Mungkin itu tidak berlebihan.

Di samping kantor kami, di sebuah lapangan yang sempit, sekumpulan anak muda tak henti-hentinya mengisi waktunya dengan berlatih boyband. Pertanyaan kami: kapan mereka menggunakan waktunya untuk belajar? Hampir setiap hari, dari pagi sampai malam, bahkan di jam-jam belajar, mereka asyik berjoget ala artis Korea itu.

Kami adalah generasi tahun 1980-an. Di era kami, masih ada yang namanya sahabat pena: orang menulis biodata, alamat, tanggal lahir, dan cita-citanya di sampul buku atau lembar kerja siswa (LKS). Terkadang, bagi kami yang bermimpi mengenal dunia yang lebih besar, berkirim surat dengan para sahabat di pulau seberang adalah sebuah kesenangan tak ternilai. Apalagi, jika surat itu berbalas.

Generasi kami mirip dengan cerita “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata itu. Demi sebuah cita-cita besar, kami rela berjalan kaki berkilo-kilo meter mencari sekolah yang jumlahnya masih belum seberapa saat itu, belajar dengan menggunakan penerangan lampu petromak, dan—ini yang penting—menggunakan buku-buku seadanya.

Sekarang era teknologi informasi. Orang bisa berselancar ke seluruh dunia tanpa harus beranjak dari tempat tidur. Cukup buka internet, anda bisa menggunakan mesin pencari untuk membantu pencarian anda. Sekarang tak alasan untuk buta informasi. Ponsel pun bisa mengakses informasi. Audio-visual juga berkembang sangat pesat.

Televisi menjadi mesin komunikasi yang penting. Di sini muncul masalah: apa yang disiarkan oleh TV, termasuk acara reality show dan film, dirasai oleh sebagian pemirsa sebagai sesuatu yang dirasainya nyata. Orang susah membedakan mana fakta dan mana fiksi. Layar kotak itu kemudian menginvasi rumah-rumah. Mereka menebar ideologi neoliberal, individualise, konformisme hingga ke tempat tidur anda. Sinetron yang tak bermutu itu telah meracuni massa rakyat.

Makin tak jelas mana mimpi dan mana kenyataan. Dengan reality-show, kita dibalut mimpi bisa berubah nasib seketika: seorang pengamen jalanan secara mendadak bisa jadi artis terkenal. Orang yang cuma iseng mengunggah video kocak di jejaring sosial bisa menjadi populer dan kemudian jadi artis sinetro.

Kebudayaan visual telah membuat begitu banyak pemuda terpelanting pada mimpi-mimpi pendek. Mereka terputus realitas: bergoyang bak boyband Korea di tengah lautan rakyat yang sengsara dan termiskinkan. Tidak jarang anak-anak ini datang dari keluarga menengah dan miskin juga. Anak-anak muda ini telah ditipu oleh industri: menjadi manusia terasing. Mungkin, jika Marx masih hidup, ia akan mengatakan: “kebudayaan visual adalah candu bagi rakyat.”

Kebudayaan seperti ini tidak punya masa depan. Rakyat, khususnya pemuda, hanya diubah menjadi zombie-zombie. Mereka tidak punya cita-cita yang besar, mereka terisolir dari realitas, dan mereka tidak punya kepekaan terhadap keadaan yang sedang berlaku.

Karena itu, kita perlu sebuah counter-hegemoni. Kami berfikir, kita tidak bisa melawan semua itu dengan melarang atau seruan boikot saja. Tetapi, kita bisa menggunakan sarana yang ada untuk mempropagandakan hal yang berbeda. Senjata kita adalah kebudayaan bangsa kita yang sudah pernah cukup lama mengakar di rakyat kita. Ini mirip dengan ungkapan bapak pergerakan kemerdekaan Kuba, Jose Marti, yang mengatakan: ‘Biarkan dunia dicangkokkan di Republik kami, tapi batangnya harus tumbuh di Republik kami”.

Kita juga harus lebih giat menciptakan karya-karya yang membangkitkan imajinasi rakyat terhadap sesuatu yang besar. Kita harus menggunakan segala sarana: puisi, lagu-lagu, cerpen, novel, teater, film, buku, jejaring sosial, surat kabar, media online, dan lain-lain.

Pemuda harus dibangkitkan imajinasinya tentang masa depan. Ia harus berani mengejar cita-cita yang tinggi dan luhur. Karena itu, bagi kami, kita juga perlu menghidupkan narasi-narasi besar: nasionalisme, sosialisme, dan lain-lain.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Agus Zee Revoulutioner

    Pemuda jaman sekarang harus di inspirasi . Adapun inspirasi datang yang dengan ambisi dan bukan dari celotehan orang. Mereka harus terinspirasi dengan ambisi menjadi yang hebat.