Harga Sebuah Kebebasan: Poligami Kembali Mengancam Perempuan Libya

Ketika kebangkitan melanda Libya, banyak perempuan yang sangat antusias ikut ambil bagian. Mereka berbaris bersama laki-laki dan bercita-cita untuk kebebasan yang lebih besar. Tetapi, sekarang ini, mereka harus membayar mahal kebebasan itu.

Perhimpunan Wanita Libya menganggap “Arab Spring” sebagai langkah penting menuju kesetaraan gender di tengah masyarakat yang sangat patriarkal.

“Perempuan membantu revolusi dan revolusi membantu mereka. Ada beberapa wanita dalam pemerintahan baru sekarang. Dan kita perlu mempertahankan prestasi ini. Kita tidak akan memberi mereka kembali,” kata Zakia Al Tayb, dari Perhimpunan Wanita Libya.

Tetapi, apa yang tampak sebagai jalan menuju “kebebasan” itu justru berpotensi merampas hak-hak perempuan Libya. Sebab, pemerintahan transisi sangat berkomitmen untuk mengembalikan hak poligami.

“Aturan yang membatasi jumlah istri sangat bertentangan dengan hukum syariah dan itu harus dilarang,” kata kepala pemerintahan transisi Libya, Mustafa Abdul Jalil.

Proposal ini dianggap sebagai upaya untuk menyenangkan milisi-milisi bersenjata di Libya dan mendorong mereka kembali dalam kehidupan yang damai.

Sementara proposal ini diterima banyak kaum laki-laki, kaum perempuan Libya bingun dengan masa depan revolusi. Pasalnya, jika hak poligami kembali diberlakukan, maka perempuan Libya akan kembali ke abad pertengahan.

Di bawah pemerintahan revolusioner Khadafi, poligami dilarang dan laki-laki dilarang membatasi mobilitas istri mereka. Pada tahun 2006, seperempat perempuan Libya bekerja di luar rumah.

Jika disahkan, perempuan Libya bukan hanya terancam kehilangan hak-haknya, tetapi juga terancam mengalami pengekangan lebih lanjut.

Itulah harga yang harus dibayar oleh sebuah “revolusi palsu” hasil persekongkolan antarara imperialis barat dan fundamentalis islam.

RAYMOND SAMUEL

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut