Hadapi Demonstran Pasang Badan, Hadapi Korban Jiwa Balik Badan

Apapun penyebab tewasnya Muhamad Arif (17), warga Mampang I Makassar, Sulawesi Selatan, dalam demosntrasi menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersama mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar tempo hari, tidak boleh diremehkan dan diabaikan.

Pada kenyataannya, Muhamad Arif alias Ari telah tewas saat aksi unjuk rasa menolak kenaikan BBM dan terkapar di jalan dengan luka bocor dikepala berdasarkan video yang beredar luas di media sosial.

Polri yang dikabarkan siap pasang badan dalam menghadapi protes rakyat terkait program pemerintah Jokowi-JK dalam kenaikan harga BBM, justru berbalik badan saat menghadapi korban jiwa atas protes rakyat.

“Kalau ada aksi protes, kami yang akan menghadapi masyarakat, tujuan kami adalah untuk kesejahteraan mereka juga,” kata Kepala Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Pol Sutarman, seperti dikutip Kompas.com, Selasa (4/11/2014).

Dan yang menyedihkan lagi adalah pernyataaan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia menganggap tewasnya Ari bukan tanggung-jawabnya dan melempar balik ke Polisi. “Itu kan sebenernya urusan di kepolisian,” kata Jokowi seperti dikutip Kabarpolitik.com di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat (28/11/2014).

Kini Ari telah tiada. Ia menjadi korban atas kebijakan program kenaikan BBM pemerintah Jokowi-JK, namun tidak ada pernyataan satu pun yang terucap dari perwira Polri, “Kami bertanggungjawab.”

Revolusi Mental, yang didengun-dengunkan Pemerintahan Jokowi-JK, janganlah balik badan dalam menhgadapi korban jiwa warga, tetapi mulailah lantang mengatakan “Kami bertanggungjawab.”  Dan bukannya saling sangkal dan lempar tanggungjawab.

Jangan karena Ari warga biasa, bukan mahasiswa dan pekerjaanya memungut uang jasa dengan mengatur mobil yang mau melintas, lantas Insiden ini diremehkan dan diabaikan tanpa melakukan pengusutan dan menyeret pelakunya ke pengadilan.

Jika kita mencermati tanyangan Video, sekilas muncul dugaan bahwa Arif tewas ditembak dengan senapan gas air mata tepat di kepala bagian belakang hingga kemudian mengakibatkan bocor menganga hingga 6 cm. Lalu dia jatuh tersungkur, kemudian melajulah kendaraan water canon mendekati korban yang nyaris melindasnya.

Beberapa detik, menyusulah  kendaraan taktis dibelakangnya seakan mengawal  kendaraan water canon yang melaju kencang lebih dulu, dan membawa Arif seakan target sasaran terkunci, kemudian langsung dimasukan ke kendaraan taktis untuk diamankan dan dilarikan ke Rumah sakit.

Dugaan terkait kematian Ari sebenarnya cukup kuat sebagaimana kesaksiaan Wandi, mahasiswa UMI Fakultas Ekonomi semester V, Jumat, 28 November 2014, seperti dikutip Tribun Timur.com. Menurutnya, tewasnya Ari karena kena tembakan gas air mata di kepala bagian belakang, sehingga bocor, lalu Ia jatuh tersungkur ke aspal, karena berdesakan, mahasiswa yang berada di belakang korban sekitar lima-enam orang menginjaknya.

Tidak jauh dari hasil otopsi yang disampaikan Kepala Instalasi Forensik dan Medikolegal RS Wahidin Sudirohusodo, dr Jerny Dase SH SpF M Kes sebagaimana yang dikutip Tribun Timur.com telah menyimpulkan bahwa setelah Ari diotopsi, terdapat 11 luka di bagian kepala, seperti kepala bagian belakang luka robek,nampak juga jaringan otak keluar, kemudian ada pendarahan di bawah selaput lunak otak dan ditemukan resapan darah di bawah kulit kepala.

Kalaupun Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol. Very Abraham, Jumat (28/11/2014) menyatakan bahwa kematian Arif diduga kuat karena terinjak-injak warga yang berlarian saat petugas memukul mundur demonstran. Bisa jadi benar, tapi terinjak-injaknya Ari bukan penyebab kematian utama.

Rasanya kurang masuk akal jika Ari bersama mahasiswa saat lari  dihalau petugas, kemudian Ari jatuh tersungkur membentur aspal sementara kepala belakang yang bocor, bukan kepala bagian depan? Lalu terinjak-injak massa yang hanya sisa 5-6 orang mahasiswa bisa dikatakan sebagai penyebak kematian yang utama?

Tapi semua, ya, Wallahu A’lam, hanya Tuhan dan Alam semestalah yang tahu. Yang jelas, tidak ada seorangpun dari pihak aparat kepolisian yang menyatakan bertanggungjawab atas tewasnya Muhamad Arif.

Oleh karena itu, harus dibentuk Tim Independen untuk menyelidiki dugaan tewasnya Muhamad Arif dalam aksi demonstrasi menolak kenaikan harga BBM. Jika hal ini tidak diungkap dan pelakunya tidak diseret ke pengadilan, maka  menjadi preseden dan kebiasaan buruk aparat dalam setiap mengamankan aksi protes rakyat yang selalu dihadapi dengan kekerasan seperti pemukulan, penganiayaan, penangkapan hingga menghilangkan nyawa warganya sendiri.

Jika hal yang demikian dibiarkan dan diabaikan dalam setiap menangani aksi protes warga yang selalu dianggapnya menjadi hal yang biasa dan lumrah, maka sesungguhnya negara dalam keadaan BAHAYA.

Selamat jalan Ari! darah juangmu dan jiwa perlawananmu menentang setiap bentuk penindasan dan ketidak adilan tentu akan tercatat dalam sejarah perlawan, bahwa ternyata rejim Jokowi-JK lebih tunduk pada kehendak modal asing dari pada kehendak rakyatnya sendiri.***

Rudi Astika, kontributor Berdikari Online Sulawesi Tengah

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut