“Gong Perpecahan Bangsa”

Gong itu memiliki diameter sekitar dua meter. Ia benda yang sangat mengagungkan, bukan saja karena dibuat dari percampuran perunggu dan kuningan, tetapi juga karena dianggap mewakili seluruh etnis, daerah, provinsi, agama/keyakinan, dan suku-suku di Nusantara. Inilah gong pluralisme, atau orang-orang sering menyebutnya “gong perdamaian”.

Tapi, sayang sekali, ketika Presiden SBY memukul gong perdamaian ini, bukan kedamaian dan persatuan nasional yang datang menghampiri, tetapi letusan kerusuhan dan kekerasan berbau SARA di berbagai daerah. Tidak berselang lama dari pemukulan gong perdamaian ini, kekerasan berbau SARA telah meletus di Temanggung, Jawa Tengah. Kejadian berbau SARA juga terjadi di Tasikmalaya, Jawa Barat, dan sejumlah tempat lain di nusantara. Sehari sebelum memukul gong perdamaian, ratusan orang telah mempertontonkan budaya “bar-barian” di Cikeusik, Pandeglang, Banten.

Kejadian ini bukanlah baru sekali ini, tetapi sudah berkali-kali. Diketahui pula bahwa kejadian ini bukanlah aksi spontan, melainkan gerakan terorganisir rapi dan diatur oleh kelompok tertentu. Berdasarkan kesaksian banyak orang pula, sebagaimana disampaikan oleh sejumlah media, beberapa pelaku penyerangan mendapat amplop cokelat sebagai imbalan atas aksi mereka.

Kita sedang berhadapan dengan ancaman perpecahan bangsa yang makin nyata. Di depan pelupuk mata kita, pemerintah dan aparatus keamanan telah merestui kelompok ekstrim berlabel agama untuk memprovokasi kekerasan berbau SARA. Bahkan, melalui sejumlah keputusan seperti SKB tiga menteri soal Ahmadiyah, pemerintah telah memaksa negara untuk memihak salah satu keyakinan untuk menindas keyakinan lain.

Neoliberalisme, karena sistim ini mendasarkan dirinya pada pelayanan segelintir orang dan pemelaratan sebagian besar rakyat, telah menciptakan kesenjangan ekonomi paling parah dalam sejarah Indonesia. Meskipun kita masih satu bangsa, tetapi di dalamnya sudah hidup dua golongan dengan perbedaan cara hidup dan sentimen kebangsaannya: ada golongan segelintir orang yang hidup mewah, bahasanya pun bahasa asing, akhir pekannya dihabiskan di luar negeri, dan gaya hidup dan pergaulan sosialnya berkiblat kepada asing; sementara itu, ada mayoritas rakyat yang hidup sederhana, dengan ekonomi subsisten, dan meskipun sangat miskin tetapi masih mencintai negeri kelahirannya.

Dan, di tengah upaya segelintir orang menyulut kekerasan berbau SARA, praktek imperialisme di Indonesia juga sudah semakin menggila; sebagian besar perekonomian nasional di kuasai asing, sebagian besar pabrik nasional dan BUMN telah dicaplok atau dihancurkan asing, sebagian besar bahan kebutuhan hidup dipenuhi melalui impor dari negeri-negeri imperialis, sebagian besar rakyat (70%) tersingkir dari ekonomi produktif dan dipaksa bekerja di sektor informal, dan lain-lain.

Sejarah telah mengajarkan dengan baik kepada kita, bahwa kolonialisme hanya bisa masuk dan berkuasa sangat lama di Indonesia, hanya karena mereka menjalankan politik pecah belah dan manipulasi kesadaran rakyat. Itu dilakukan dengan segala macam cara: aksi-aksi subversif, menempatkan agen dimana-mana termasuk ke dalam jawatan-jawatan pemerintah, usaha-usaha sabotase dalam segala lapangan, usaha pecah-belah, mengadu domba suku-bangsa yang satu dengan yang lain, partai yang satu dengan yang lain, agama yang satu dengan yang lain, usaha-usaha separatisme, pendeknya, menyuap semua orang yang bisa disuap, memecah-belah segala sesuatu yang bisa dipecah-belah, dan dengan demikian mencoba merusak Republik, agar abadilah kekuasaan kolonial mereka, sekurang-kurangnya di lapangan ekonomi.

Akan tetapi, biarpun provokasi perpecahan begitu gencar dilancarkan oleh kaum imperialis dan sekutunya di dalam negeri, tetapi rakyat Indonesia tidak mudah diprovokasi dan terbawa-bawa dalam provokasi murahan itu. Rupanya rakyat Indonesia telah banyak belajar, bahwa tidak ada yang rugi akibat politik pecah belah itu selain rakyat Indonesia sendiri.

Tidak ada pihak yang patut dipersalahkan paling besar selain imperialisme. Kalau kita bersatu, maka tidak ada yang akan rugi, kecuali musuh kita: imperialisme. Oleh karena itu, salah satu jalan yang paling mungkin dan paling tepat untuk mengakhiri persoalan bangsa ini, ialah menempa persatuan nasional anti-imperialis.

Kita menyerukan kepada tokoh-tokoh agama, yang beberapa saat lalu telah mengambil posisi segaris dengan umatnya untuk melawan rejim kebohongan, untuk tetap memperkuat persatuan diantara mereka. Jawaban kita tetap lantang dan konsisten: mempersatukan semua kekuatan yang bisa dipersatukan, untuk melawan imperialisme dan kaki-tangannya di dalam negeri, dan juga melawan korupsi dalam birokrasi.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut