Malam 100 Lilin: Aktivis FRAIN Berkomitmen Terus Melawan Neoliberalisme

Malam ini, Jalan Jend Sudirman, yang berada persis di depan Mapolda NTT, tampak lebih ramai daripada biasanya. Bukan oleh padatnya kendaraan, tetapi karena kehadiran seratusan aktivis Front Rakyat Anti-Imperialisme Neoliberal (FRAIN). Meski agak lelah setelah aksi tanpa henti, yaitu menggelar mimbar bebas (3 hari), unjukrasa (2 hari) unjukrasa, dan rapat-rapat aliansi yang berlangsung tiap malam sejak tanggal 3 lalu, para aktivis FRAIN ini tampak masih mampu menggelar acara yang mereka sebut “Malam Seribu Lilin, Mengenang Seribu Luka Rakyat.” Sambil membentuk barisan, para aktivis ini duduk bersila hingga menutupi satu ruas jalan. Di tenga-tengah mereka tampak batang-batang lilin dan lampu pelita yang menyala.

Menurut Koordinator Umum FRAIN Are Peskim, acara yang berlangsung sejak pukul 20.30 dan berakhir 22.30 ini merupakan akhir dari rangkaian aksi menolak kedatangan Presiden Yudhoyono di NTT. Meski begitu, Are menegaskan bahwa ini bukan akhir dari perlawanan rakyat dan kaum muda NTT terhadap imperialisme dan antek-anteknya yang berkuasa di Indonesia. Menyambung Peskim, Ketua KPW PRD NTT James Faot menjelaskan soal wacana menjadikan FRAIN sebagai front permanen yang semakin kuat. FRAIN merupakan kelanjutan dari Front Rakyat Anti-Korupsi (FRAKSI), yang pada peringatan 100 Pemerintahan SBY dahulu memobilisasi ribuan pemuda dan rakyat NTT menduduki gedung parlemen.

“Perubahan nama dari FRAKSI menjadi FRAIN hanya untuk menunjukkan musuh pokok yang kami lawan. Organisasi-organisasi yang berada dalam front sangat sadar bahwa perjuangan anti-korupsi hanya memiliki manfaat jika diletakkan sebagai bagian dari perjuangan anti-imperialisme,” katanya.

Selain pembacaan pernyataan sikap–isinya sama seperti yang disampaikan pada konferensi pers 4/2 sebagaimana telah dilaporkan Berdikarionline–acara ini diisi pula orasi 3 orang tokoh: Romo Leo Mali mewakili tokoh agama; Pantoro Kusumardono, menyampaikan solidaritas dari gerakan ekologis; dan Ketua KPW PRD NTT James Faot yang mewakili partai politik. Tokoh lain yang hadir adalah Kristo Tara, seorang rohaniwan dan aktivis gerakan lingkungan hidup di Jakarta.

Dalam sambutannya, Leo Mali berpesan agar gerakan mahasiswa tidak takut dan lelah dalam meneruskan tradisi perlawanan terhadap penguasa yang menindas dan memiskinkan rakyat. Sementara Kusumardono menceritakan pengalamannya ketika menghadiri sebuah kongres petani di Amerika Latin. Menurutnya, apa yang diperjuangkan FRAIN serupa dengan apa yang diserukan gerakan petani di Amerika Latin, bahkan dengan semua gerakan yang menghendaki dunia yang lebih baik di belahan dunia manapun.

“Neoliberalisme adalah penindasan yang bersifat mondial (mendunia). Karenanya, perlawanan terhadapnya juga harus mendunia,” katanya.

Ia juga mengharapkan FRAIN meluaskan kesadaran melawan neoliberalisme ke tengah-tengah rakyat.

Acara ini diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin Kristo Tara, pembacaan Sumpah Pemuda NTT, dan pelantunan lagu Darah Juang. Seusai acara, menjawab pertanyaan wartawan tentang kemungkinan gerakan ini bermuara pada tuntutan penggulingan SBY, para pimpinan FRAIN mengatakan: “Selama Yudhoyono terus menerapkan neoliberalisme di Indonesia, akan tiba saatnya Rakyat Indonesia yang bergerak menggulingkan kekuasaannya.”

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • pio

    TOLAK HARGA MATI