Gerakan Petani Tak Bertanah Lakukan Aksi Pendudukan Lahan Pertanian

Gerakan petani tak bertanah, atau biasa disebut Movimento dos Trabalhadores Rurais Sem Terra (MST), menduduki tiga lahan pertanian dan sejumlah bangunan milik pemerintah dan menjanjikan akan melakukan aksi pendudukan yang lebih banyak lagi untuk menekan Presiden baru, Dilma Roussef, segera mempercepat pelaksanaan reforma agraria (land reform).

Sedikitnya 200 anggota gerakan petani tak bertanah (MST) menduduki lahan pertanian di negara bagian Sao Paulo dan Bahia.

Sekelompok pejabat mengatakan bahwa mereka sedang mempersiapkan tindakan di seluruh negeri dalam beberapa hari mendatang.

Gerakan petani tak bertanah, yang telah mengambil-alih sebanyak 35 juta hektar tanah dan menempatkan 370.000 keluarga tak bertanah selama 25 tahun, adalah sekutu penting dari Partai Buruhnya Dilma Roussef, yang memulai jabatannya pada 1 Januari lalu.

Meskipun ada upaya dari perjuangan MST, tetapi setengah dari tanah subur di negeri itu masih dikuasai oleh 1 persen dari penduduk, dan karenanya, gerakan menganggap bahwa program redistribusi tanah telah tertinggal jauh.

“Di permulaan era baru politik negeri kami, aksi pendudukan lahan kami dimaksudkan secara terbuka menuntut reformasi tanah (land-reform),” ujar juru-bicara perempuan MST, Joana Tavares.

“Dengan struktur agraria lama yang masih hidup di negeri ini, maka ketidak-merataan, ketidakadilan, dan kekerasan masih akan terus terjadi,” katanya.

Gerakan ini juga akan memulai gelombang pengambil-alihan (reclaiming) pada april mendatang, sekaligus untuk menandai peristiwa pembunuhan 19 aktivis petani pada tahun 1996 di negara bagian para Amazon, sementara aksi pada awal tahun ini dimaksudkan untuk menarik perhatian presiden baru.

UU Agraria Brazil memungkinkan pemerintah untuk mengambil-alih tanah milik tuan tanah dan mendistribusikannya kepada petani tak bertanah.

Tetapi Komisi Pastoral untuk Persoalan Tanah baru saja merelease sebuah laporan yang menyebutkan: “pembagian tanah sudah sangat mendalam saat-saat terakhir masa pemerintahan Lula Da Silva, dengan 44% keluarga tak bertanah berhasil diberi lahan pertanian dan 72% tanah disisihkan kepada petani tak bertanah.”

“Adalah tidak tepat untuk mengatakan bahwa reformasi tanah telah berjalan stagnan pada tahun 2010,” katanya.

Lula Da Silva telah mendorong perusahaan agribisnis trans-nasional, seperti Monsanto, Cargill, dan Syngenta untuk memperluas penanaman jagung dan kedelai di seluruh negeri, dengan memindahkan petani miskin.

Pada tahun 2008, 13 petani dibunuh di daerah Para karena keterlibatannya dalam gerakan reforma agraria. (Rh)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • alan

    Dalam hal pendistribusian kepemilikan tanah untuk petaniyg paling efektip adalah oleh negara yg dengan kekuasaannya bisa menasionalisasi tanah untuk di bagikan pada rakyatnya seperti di brazil tadi, tapi untuk di indonesia hal demikian tidak pas yg mana uu pertanahannya kurang mengakomodir, dan persoalan yg cukup serius adalah kepemilikan tanh di indonesia yng cuma sedikit sedikit, atau beberpa petak saja jadi pertentangn antara tuan tanah dan petani penggarap seperti yg terjadi di negara eropa atau latin seperti dalam sejarah yg mana tuan tanah mempunyai tanah ratusan bahkan ribuan hektar. dgn demikian pertentangn diantar dua klass demikian terlihat.
    Reforma agraria yng terjadi di indonesia menurut saya tidak menjawab persoalan petani, dimana tanah yg eks perkbunan di bagi-bagi ke petani yg luasnya ga ada yng nyampe 1ha/kk dengan proses yg ribet, kalau di hitung-hitung tanah yg didapat dengan hasil yng di dapat dari pertanaian dari lahan yng tadi jauh dari harapn untuk sejahtra,belom alat peertanian yang makin hari mahal terus, bahkan alt dan tknologi pertnaian modrn seperti yng di jadikan program tuntuan PRD juga ga akan menjawab persoalan kaum petani. Setelah di analisa dengan keterbatasan pikiran saya, pemecahan persoalnya adalah dengan koperasi. dengan koperasi, petani yg punya lahn sedikt- sedikit bisa dikolektipkan dalam satu wadah yg didalamnya bisa di programkan rencana tanam dari jenis tanaman yng akan di tanam, kebutuhan teknologi p[ertanian, sampai pendistribusian.namun dalam pembagian hasil karena kepemilikan tanah yng berbeda-beda dalm luas tanah tentu hasil yng didapt dari petani juga berbeda-beda(koprasi bung hatta).dan jalan keluar untuk pemerataan pendapatan koperasi harus bisa menjawabnya dengan dasaar kebersamaan dan gotong royong, suatu saat sampaikoperasi ini punya modal yng cukup dari hasil persentase yng didapat dari hasil produksinya. anggota harus rela tanhnya di beli oleh koprasi. jadi koperasi sebagai pemilik tunggal usaha yg jelas- jelas koprasi ini milik anggotanya sendiri. demikian dulu ulasannya, maap masih banyak kat-kat yng ngawur maklum spontan