‘Geng Perempuan’ Pembela Kaum Tertindas Di India

Selama ini, kata “geng” sering mendapat konotasi negatif: kekerasan, pembuat onar dan kriminalitas. Hal tersebut tak terlepas dari maraknya aksi kekerasan yang dilakukan oleh geng motor akhir-akhir ini. Alhasil, ketika orang mendengar kata geng, mereka pun ketakutan.

Namun, di desa Banda, daerah Bundelkhand, sebuah daerah miskin di Uttar Pradesh, India, kaum perempuan justru mengharumkan kata geng. Di sana, perempuan juga membentuk geng. Namanya: geng Gulabi. Namun, geng ini bukan untuk unjuk kekerasan, melainkan untuk membela hak-hak kaum perempuan dan rakyat miskin.

Geng perempuan ini dipimpin oleh seorang perempuan bernama Sampat Pal Devi. Usianya sudah hampir 50-an tahun, tetapi sangat disegani dan dihormati oleh orang-orang di Bundelkhand. Bagi Sampat Devi, kata “geng” tak selamanya berarti kriminal. “Ini juga digunakan untuk menggambarkan sebuah tim. Kami gang untuk keadilan,” katanya.

Yang menarik, seluruh anggota geng Gulabi menggunakan sari (kain khas India) berwarna merah mudah alias pink. Gulabi sendiri adalah bahasa India yang berarti merah muda. Menurut Sampat Devi, mereka sengaja memilih satu warna, yakni pink, untuk memudahkan mengidentifikasi anggotanya. “Dalam aksi di luar desa kami, terutama di kota yang padat penduduk, anggota kami sering tersesat dalam dalam pengejaran. Kami memutuskan memakai satu warna. Ini untuk memudahkan proses identifikasi,” katanya.

Geng Gulabi resmi berdiri tahun 2006. Pendirinya adalah Sampat Devi. Geng ini punya senjata khusus, yakni tongkat. Selain itu, hampir seluruh anggota geng Gulabi punya keahlian Lathi, yang seni bertempur menggunakan tongkat. Dengan keahlian ini, geng Gulabi membuat para bandit dan pejabat korup ketar-ketir.

Banda sendiri adalah desa yang sangat miskin. Hampir sebagian besar penduduknya bergantung pada pertanian. Karena daerahnya yang kering, petani hanya bercocok-tanam sekali setahun. Akibanya, kriminalitas sangat tinggi di sini. Tak hanya itu, pejabat lokal yang korup dan sisa-sisa feodalisme menambah beban kehidupan penduduk.

Di sana, perempuan sering jadi korban pemerkosaan. Ironisnya, ketika perkosaan itu menimpa kasta rendah, terutama yang berstatus “Dalit”, maka polisi akan diam saja. Pernah ada seorang perempuan Dalit diperkosa oleh laki-laki dari kasta atas. Kasusnya tidak diusut oleh Polisi. Warga yang melakukan protes, malah ditangkap dan dipenjara. Akhirnya, geng Gulabi turun tangan. Mereka menyerbu kantor Polisi, dan menuntut agar semua warga desa di lepas dan pelaku pemerkosaan ditangkap.

Geng ini juga sering mengadvokasi perempuan korban kekerasan di dalam rumah tangga (KDRT). Maklum, di daerah pedalaman India, patriakhi masih mencengkeram kuat. Biasanya, pada tahap awal, Sampat Devi selaku pimpinan geng akan mengajak pelaku KDRT bicara baik-baik. Namun, jika tak mau mengubah sikap, barulah jalan “pembalasan”.

Namun, geng Gulabi tak fokus pada isu perempuan. Mereka juga memerangi korupsi dan penindasan terhadap rakyat miskin. Pernah terjadi, aliran listrik ke desa diputus oleh pejabat korup. Geng Gulabi pun bertindak dan berhasil memaksa pejabat korup mengembalikan aliran listrik ke desa.

Kasus lainnya: pemerintah India punya program gandum dan bahan makanan kaum gratis untuk kaum miskin. Di tingkat lokal, bantuan ini banyak diselewengkan. Bukannya diberikan kepada kaum miskin, para pejabat lokal yang korup menjualnya kembali ke pasar. Akhirnya, pada suatu hari, geng Gulabi mencegat truk pembawa makanan gratis yang hendak di jual ke pasar tersebut. Makanannya kemudian dibagi-bagikan kepada orang miskin.

Saat ini geng Gulabi menghimpun 20.000-an anggota. Namun, versi lain menyebutkan bahwa anggota geng ini sudah mencapai 200.000 di daerah Uttar Pradesh. Memang, seringkali penggunaan kekerasan oleh geng ini menuai kritik. Maklum, rakyat India banyak yang percaya pada metode non-kekerasan seperti diajarkan Gandhi. “Aku hormat pada Gandhi. Dia adalah bapak bangsa kami. Tapi gaya kami berbeda. Saya yakin apa yang saya lakukan adalah benar,” kata Sampat Devi.

Memang, bagi Sampat, jika kata-kata tidak lagi mempan, maka saatnya senjata berbicara. Dan, berkat metode aksi langsung dan konfrontasi itu, geng pink ini berhasil memaksa penguasa untuk berubah. Banyak pejabat lokal akhirnya menaruh hormat pada geng perempuan ini.

Sampat sadar, pekerjaannya membela kaum miskin tak akan berhasil tanpa mengubah sistem. Suatu hari, misalnya, kelompoknya bisa menyingkap korupsi pejabat, tetapi jika sistem yang menyebabkan korupsi itu tak diubah, maka korusi akan jalan terus.

Ia juga sadar, untuk mengubah nasibnya, rakyat miskin tidak bisa hanya menunggu kebaikan pemerintah. Karena itu, pelan-pelan ia menyisihkan dana untuk membeli mesin jahit. Dengan mesin jahit itu, ia membuka kursus menjahit bagi perempuan di desa-desa. Dengan begitu, perempuan punya keterampilan dan bisa mendapatkan uang. Ia juga berharap perempuan bisa mengakses pendidikan.

Di level politik, Sampat pernah coba menggunakan kesempatan untuk masuk parlemen. Ia mencoba tiket dari jalur independen. Sayang, ia dikalah. Namun demikian, mereka mendapat perhatian media dan dukungan dari sektor miskin di Uttar Pradesh dan Madhya Pradesh.

Anna Yulianti

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut