Garin Nugroho: Film “Soegija” Untuk Menggerakkan Cita-Cita Bersama

Sutradara film “Sogieja”, Garin Nugroho, mengatakan film terbaru hasil garapannya itu sengaja diciptakan untuk menggerakan kehidupan bersama untuk meraih cita-cita bangsa.

“Suatu nasionalisme humanis yang bisa menggerakkan kehidupan berbangsa. Inilah tujuan dari film ini,” kata Garin Nugruho dalam diskusi tentang film “Soegija” di Epicentrum Walk, Jakarta, Kamis (26/4/2012).

Menurut Garin, bangsa Indonesia saat ini butuh kepemimpinan yang bisa memandu, bukan kepemimpinan yang hanya bicara atau berwacana. “Negarawan pemandu ini yang hampir tidak bisa kita temukan sekarang ini,” katanya.

Film “Soegija” sengaja mengetengahkan tema kemanusiaan. Tokoh utama yang diangkat film ini, Uskup Albertus Soegijapranata, hidup di era dimana para pemimpin masih menggenggam ideologi kemanusiaan.

Garin sangat berharap, film ini bisa menjadi medium popular yang bisa menjadi alat untuk mendialogkan antara Multikultur dan Nasionalisme itu sendiri.

Hal senada disampaikan oleh produser film “Soegijo”, Djaduk Ferianto. Ia mengatakan, film garapan Garin Nugroho itu sangat relevan untuk konteks sekarang.

“Ini bukan film yang mengajari atau mendikte, justru temanya sangat pas dalam konteks Indonesia saat ini yang kehilangan sosok pemimpin,” katanya.

Film ‘Soegija” mengangkat jejak langkah seorang uskup nasionalis-humanis, Albertus Soegijapranata. Ia adalah seorang imam muda yang diangkat menjadi Uskup pribumi pertama dalam gereja katolik di Indonesia.

Bagi Soegija, kemanusiaan itu adalah satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya. Ini mirip dengan ucapan nasionalis India, Gandhi, yang sering diucapkan Bung Karno: nasionalismeku adalah kemanusiaan!

Soegija, yang diperankan oleh Nirwan Dewanto, punya peranan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebagai bentuk dukungannya kepada Republik Indonesia yang baru berdiri, ia memindahkan pusat keuskupan dari Semarang ke Jogjakarta, mengikuti pemindahan Ibukota Republik Indonesia dari Jakarta ke Jogjakarta.

Film ini melibatkan 2275 pemain dan menggunakan enam bahasa. Film ini menghabiskan dana sebesar Rp 12 milyar. Film ini akan mulai tayang pada 7 Juni 2012 mendatang di seluruh bioskop di Indonesia.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • saya sangat sepakat, bahwasannya setiap perjuangaan anak bangsa dalam membangun negara terutama dengan prinsip dekorasi pancasila. harus diberi apresiasi yang tinggi dari negara ini.