FAO: Kelaparan Sedang Mengancam Seluruh Dunia

ROMA: Badan Pangan PBB akan mengadakan pertemuan darurat terkait kenaikan harga pangan dunia, di tengah ancaman berulangnya kekurangan bahan makanan yang memicu kerusuhan secara global  dua tahun lalu.

Pengumuman ini disampaikan oleh badan Pangan PBB (FAO)—yang berbasis di Roma—, pada hari Jumat (3/9), menyusul keputusan pemerintah Rusia untuk memperpanjangan larangan ekspor gandum dan meledaknya kerusuhan akibat kenaikan harga kebutuhan pokok di Mozambik.

Larangan ekspor gandum Moskow dianggap oleh beberapa kalangan menyebabkan kenaikan 5 % harga pangan di seluruh dunia dalam dua bulan terakhir, yang mana merupakan level tertinggi dalam dua bulan ini.

Juru-bicara PBB Christopher Matthews mengatakan, pertemuan komite pangan antar pemerintah akan dijadwalkan pada 24 september nanti, dan ditujukan untuk mengurangi kekhawatiran sejumlah Negara terkait berulangnya krisis pangan tahun 2008.

Pejabat terkait dan sejumlah ahli menekankan bahwa ada kondisi berbeda dengan dua tahun yang lalu, dimana terjadi kenaikan harga minyak yang sangat tinggi dan adanya permintaan untuk biodiesel, dan menjadikan tahun itu sebagai stok pangan terendah semenjak tahun 1982.

Namun, gambaran dan perkembangan internasional masih mengkhawatirkan.

Di Tiongkok, para spekulator menjadi target utama yang perlu diberantas, sementara kenaikan harga minyak goring sebesar 30% telah memicu serikat buruh di Serbia untuk menyerukan pemogokan massal.

Di Mesir, dimana setengah penduduknya sangat bergantung pada roti bersubsidi, krisis pangan ini akan berdampak pada pemilu parlemen mendatang karena rejim berkuasa semakin kehilangan legitimasi akibat ketidakmampuan menyediakan roti murah.

Di Mozambik, di mana lebih dari setengah penduduknya hidup dalam kemiskinan, harga roti telah naik 25 persen dalam satu tahun terakhir, sementaran harga bahan bakar dan air minum juga merangkak naik.

Kemarahan juga meledak di Maputo, Mozambik, pada hari Rabu kemarin, dimana polisi menggunakan tangan besi terhadap protes yang menuntut intervensi pemerintah, yang  melahirkan kerusuhan dan penjarahan. Polisi melepaskan tembakan, menyebabkan 7 orang tewas dan puluhan lainnya terluka.

Direktur Eksekutif Aliansi Global untuk peningkatan gizi, Marc Van Ameringen, menyatakan bahwa sebelum kenaikan harga  benar-benar terjadi, Negara ini (baca, Mozambik) sudah menderita akibat gizi buruk yang sangat serius.

Lebih dari empat dari 10 anak-anak di Mozambik menderita dan terhambat pertumbuhannya, dan hampir 20% balita mengalami berat badan berkurang.

Lebih dari satu milyar orang di seluruh dunia sedang lapar dan kekurangan gizi dan miliaran lainnya tidak mendapatkan nutrusi yang baik dari makanan yang mereka konsumsi.

“Krisis ini seharusnya mengingatkan dunia bahwa kita sedang mengalami krisis, bahkan sebelum kenaikan harga makanan,” kata Mr Van Ameringen. (Rh)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut