Enyahkan Penjajahan!

Mulai tanggal 17 Agusutus 1945, Republik Indonesia yang sebelumnya ‘hanya’ merupakan cita-cita mulai berwujud dan menjadi nyata. Tanggal ini menyimbolkan perebutan kekuasaan politik dari tangan penjajah ke tangan Bangsa Indonesia sendiri. Dengan kekuasaan politik berada di tangan Bangsa Indonesia sendiri, maka cita-cita untuk mendaulatkan, mencerdaskan dan memakmurkan “seluruh Tumpah Darah Indonesia” menjadi terbuka. Demikian makna kemerdekaan Bangsa Indonesia. Proklamasi adalah puncak dari akumulasi perjuangan melawan penjajahan, khususnya selama lebih dari empat puluh tahun sejak kesadaran sebagai Bangsa terjajah mulai tersemaikan di kalangan “pribumi”. Melalui pergerakan, sekolah-sekolah liar, rapat-rapat umum, dan bacaan-bacaan liar, harapan dan cita-cita kemerdekaan telah disebarluaskan kepada jutaan orang Indonesia. Kemerdekaan adalah jembatan emas menuju tatanan masyarakat baru.

Kini, telah enam puluh lima tahun Bangsa Indonesia berada di seberang jembatan emas. Dalam rentang waktu itu kita menyaksikan dua penggal cerita sejarah yang sama-sama dipimpin sendiri oleh Bangsa Indonesia, namun bertentangan dalam hakekatnya. Penggalan sejarah dalam kepemimpinan Soekarno adalah wajah kebangkitan jiwa dan raga Bangsa Indonesia. Dalam kurun waktu yang singkat, dan kerap diselingi oleh gangguan-gangguan eksternal, penggalan pertama ini belum sempat diwujudkan secara utuh. Tak seluruh persoalan Bangsa yang dibangun selama ratusan tahun oleh penjajahan dapat dibenahi dalam kurun waktu tersebut. Namun usaha-usaha ke arah sana telah tampak dan jelas terasa.

Dalam penggalan sejarah berikutnya, kita saksikan kembali terpuruknya jiwa dan raga Bangsa Indonesia. Didahului pembunuhan massal terhadap Rakyat tak berdosa, sesama anak Bangsa, dan diikuti berbagai kekejian lainnya, penjajahan diwujudkan kembali dalam rupa yang berbeda. Menyitir ucapan Agus Jabo Priyono, Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD), bahwa penjajah Belanda dan Jepang telah pergi, tapi sistem yang diwariskan para penjajah tadi masih dipakai dan dimanfaatkan hingga sekarang. Fakta mengenai sistem kolonial yang diwariskan itu sangat mudah kita temui kini, baik di lapangan politik, ekonomi, dan sosial budaya. Dimulai dari penguasa yang terus menjual kedaulatan Bangsanya kepada kapital, proses pemiskinan Rakyat, hukum yang tumpul terhadap penguasa dan tajam terhadap Rakyat jelata, hingga tergerusnya kepribadian Bangsa Indonesia sebagai Bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Peringatan Proklamasi Kemerdekaan, tahun demi tahun, senantiasa melahirkan pemaknaan bagi seluruh Tumpah Darah Indonesia. Namun cermin sejarah dan kenyataan hari ini telah menunjukkan contoh-contoh pemaknaan yang berbeda tentang pilihan haluan di seberang jembatan emas kedaulatan politik; antara haluan yang memelihara sistem penjajahan dan haluan yang ingin mengenyahkannya. Dalam pemaknaan ini, kami menaruh harapan dan sambil terus berupaya, agar pengetahuan demi pengetahuan baru dapat saling menjalin untuk membentuk kesimpulan tentang arah Indonesia Merdeka di tahun-tahun mendatang. Juga diharapkan, agar pengalaman demi pengalaman yang mendera dapat menumpuk menjadi semangat yang menggunung untuk mengguncang dan merobohkan sistem penjajahan sekarang.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut