Ekonom Berideologi Zombie

April 1959, Bung Hatta menyampaikan ceramahnya di hadapan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI). Di situ, Bung Hatta menguliti berbagai kelemahan sistem ekonomi liberal (laisses faire).

Menurut Bung Hatta, ekonomi merdeka atau bebas hanya akan membawa kemerdekaan kepada suatu golongan kecil saja yang beruntung dalam kedudukannya, tapi tidak kepada rakyat banyak. “Yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah melarat,” katanya.

Bagi Bung Hatta, sistem kapitalisme liberal, dengan azasnya laissez-faire, hanya akan membawa kita ke dalam krisis demi krisis. Bung Hatta mengingatkan,  selama kapitalisme masih merajalela, dan tangkai kehidupan rakyat banyak di tangan segelintir perusahaan, maka selamanya dunia akan berhadapan dengan krisis malaise.

Cara berfikir Bung Hatta itu mewakili sikap umum para pendiri bangsa saat itu. Hampir semua spektrum ideologi, seperti nasionalis, sosialis, dan agamais, menolak penerapan sistem kapitalisme di Indonesia. Akhirnya, sebagai sebuah konsensus nasional, disusunlah pasal 33 UUD 1945.

Peringatan Bung Hatta itu berulang kali terbukti. Sejak tahun 2008 lalu, sistem kapitalisme global terjerembab dalam krisis. Filsuf Sloveni Slavo Zizek menyebut krisis itu sebagai “darurat ekonomi permanen”. Seorang ekonom terkemuka, Nouriel Roubini, kepada Wall Street Journal bahwa Karl Marx benar terkait kapitalisme yang akan membunuh dirinya sendiri.

Di Indonesia, sistem ekonomi liberal, yang mulai diadvokasi sejak era orde baru hingga sekarang, juga terbukti gagal mensejahterakan rakyat. Sebaliknya, ekonomi nasional kita porak-poranda, kemiskinan merajalela, ketimpangan ekonomi kian melebar, dan tiga krisis (ekologi, pangan, dan energi) menghantui kita.

Sayang, sekalipun sudah terbukti gagal, tetapi panji-panji sistem ekonomi liberal masih terus mau dikibarkan oleh ekonom-ekonom kita. Bahkan, pemikiran ekonomi liberal masih menjadi menu utama di fakultas ekonomi dan sekolah-sekolah ekonomi di seluruh Indonesia. Bahkan, kebijakan ekonomi kita juga masih berkiblat pada sistem ekonomi neoliberal.

Mereka inilah yang disebut oleh pemenang nobel ekonomi, Paul Krugman, sebagai jenis “ekonom zombie”. Ekonomi zombie adalah ekonom yang terus-menerus menghidupkan teori yang sudah terbukti gagal, yang kegagalannya dibuktikan oleh rentetan krisis demi krisis. “Ide dan pemikiran mereka sudah terbunuh oleh bukti, tetapi tetap melangkah kedepan dengan kaki diseret-seret,” katanya.

John Quiggin, penulis buku “zombie economics: how dead ideas still walk among us (2010)”, mengaku sangat kaget mengapa sebuah teori yang sudah dibuktikan kegagalannya oleh dua depresi besar, krisis malaise (1929) dan krisis kapitalisme (2009-sekarang), masih terus-menerus bertahan. Di Indonesia, misalnya, yang namanya “Mafia Berkeley” terus punya generasi penerus. Dan mereka terus-menerus menempati posisi kunci pengambilan kebijakan ekonomi.

Apakah ekonom-ekonom itu tidak punya moralitas lagi—setidaknya sedikit peka dengan persoalan rakyat? Masalahnya, kata Paul Krugman, bukan lagi pada ilmiah dan tidaknya teori yang dipegang oleh ekonom tersebut. Yang menggerakkan pemikiran ekonom-ekonom itu bukan lagi analisa, riset, kajian-kajian ilmiah, dan kegiatan ilmiah lainnya, melainkan “uang dalam jumlah besar”.

Ekonom-ekonom itu memang bekerja bukan untuk melayani rakyat. Mereka mencari pengetahuan di Universitas bukan untuk kepentingan banyak orang, melainkan untuk kepentingan dirinya sendiri. Akhirnya, seperti dijelaskan John Quiggin, ekonom-ekonom itu memang dibayar untuk memelihara kepentingan kapital. Mereka dibayar untuk mereproduksi ide-ide yang mempertahankan kapitalisme.

Dan, ideologi zombie ini terus-menerus bisa menyelinap dalam berbagai kebijakan ekonomi-politik karena disokong oleh beragam struktur, seperti lembaga internasional, rezim-rezim politik nasional, media arus utama, partai politik sayap kanan, lembaga pendidikan, lembaga penelitian/riset, dan para pemangku kepentingan (para kapitalis).

Akhirnya, memang, tak ada jalan lain membunuh ide-ide zombie ini selain dengan perjuangan politik untuk merombak struktur ekonomi-politik yang ada. Pengalaman pemerintahan kiri di Amerika Latin, seperti Venezuela, Bolivia, Argentina, dan Ekuador, patut jadi contoh. Di negeri-negeri tersebut, berbagai dalil-dalil kapitalisme neoliberal perlahan-lahan mulai dikubur.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut