ELAM, Sumbangsih Kuba Untuk Kedokteran Dunia

elam.jpg

Siapa mencintai kemanusiaan, dia harus melihat Kuba. Negeri kecil di Karibia Utara ini punya komitmen besar pada kemanusiaan. Sejak memenangkan revolusi di tahun 1959, pemerintahan revolusioner Kuba aktif mengirimkan brigade medis untuk membantu rakyat di berbagai belahan dunia.

Tahun 1960-an, di tengah kesulitan di negerinya, Kuba sudah mengirim relawan medis untuk membantu korban gempa di Chile. Pada tahun 1963, Kuba juga mengirim para medis ke Aljazair.

Sejak itu, atas nama kemanusiaan dan solidaritas, dokter-dokter Kuba dikirim ke berbagai negara untuk membantu rakyat, seperti Guatemala, Pakistan, Bolivia, Mexico, Peru, Tiongkok, dan lain-lain. Juga Indonesia, pada tahun 2006, ketika Jogja diguncang gempa bumi, Kuba mengirimkan dokter-dokternya.

Pada tahun 2010, ketika Haiti diguncang gempa, dokter-dokter Kuba-lah yang pertama menolong korban. “Bagi rakyat Haiti, pertolongan pertama datang dari Tuhan dan setelah itu dokter Kuba,” kata Presiden Haiti, Rene Preval, memuji dedikasi kemanusiaan dokter Kuba.

Kuba merupakan negara yang mengirimkan dokter terbanyak untuk membantu bangsa-bangsa lain di dunia. Hingga April 2012, ada 38,868 tenaga dokter professional Kuba yang bekerja di 66 negara. Kemudian ada 135,000 tenaga medis Kuba yang bekerja di negara lain. Tak heran, Fidel Castro pernah bilang, “Kami mengirim dokter, bukan tentara.”

Sekolah Dokter ELAM

Pada tahun 1998, badai George dan Mitch mengoyak-ngoyak kawasan Karibia dan Amerika Tengah. Banyak korban jiwa berjatuhan. Sebaliknya, jumlah tenaga dokter sangat terbatas. Kuba mengirim dokter dan paramedis-nya ke sana.

Setahun kemudian, 1999, Fidel Castro berkeinginan mengatasi kekurangan dokter di kawasan itu dengan mendirikan sekolah dokter internasional. Sejak itu, berdirilah Sekolah Kedokteran Amerika Latin (ELAM).

“Melatih para dokter agar siap untuk dikirim kemanapun mereka dibutuhkan, dan tinggal di sana selama dibutuhkan, adalah tujuan pendirian sekolah ini,” kata Miladys Castilla, wakil direktur ELAM.

Saat ini, ELAM punya 24.000 siswa yang berasal dari 116 negara di Amerika Latin, Afrika, Asia dan Osenia, termasuk dari AS, yang belajar kedokteran secara gratis di Kuba.

Lama pendidikan di ELAM adalah 6 tahun. Lulusan pertama diwisuda tahun 2005. Wisuda gelombang kedua pada tahun 2010, dengan 8000 wisudawan. Mereka berasal dari 25 spesialisasi yang berbeda.

Di ELAM, semua biaya pendidikan ditanggung pemerintah Kuba alias gratis. Bahkan, sekolah menyediakan buku gratis dan sedikit tunjangan kepada mahasiswa. Ini merupakan bantahan terhadap logika neoliberal, yang selalu melihat pendidikan sebagai sesuatu yang harus dibayar.

Untuk dua tahun pertama, siswa ELAM belajar ilmu dasar, seperti anatomi, fisiologi, histologi, biokimia, genetika, sistem organ, psikologi, patologi, dan model kedokteran Kuba. Pendekatan utama pengajaran kedokteran di ELAM adalah bagaimana melayani komunitas.

Pada tahun ketiga, mereka mulai belajar merawat pasien di Rumah Sakit. Biasanya dari jam 08.00 hingga 10.00 (waktu setempat). Setelah itu, mereka bertukaran dengan dokter resmi. Sore harinya, mereka mengambil kursus symptomology, kedokteran internal, sinar-X, dan bahasa Inggris.

Pada tahun keempat dan kelima, siswa mulai belajar sistem kesehatan Kuba, yaitu Medicina General Integral (MGI), yang menekankan pada dokter yang melayani sebuah komunitas. Sistem MGI mengajarkan komunitas atau pasien bagaimana mereka merawat diri sendiri dan menciptakan sistem pencegahan penyakit di komunitasnya.

Mahasiswa ELAM juga belajar sistem kesehatan publik, yakni klinik komunitas alias  consultorio—mirip Puskesmas di Indonesia, tapi ini ditingkat Rukun Tetangga (RT). Sistem kesehatan ini berhasil menangani 80% problem kesehatan di tingkat komunitas (RT).

Sebagian besar siswa ELAM (75%) berasal dari negara-negara yang membutuhkan tenaga dokter untuk melayani komunitas, terutama di pedesaan. Malaysia dan Timor Leste juga mengirim siswanya untuk belajar di ELAM: Malaysia mengirim 21 orang dan Timor Leste mengirim 26 orang.

Dari Timur Tengah, Palestina merupakan pengirim siswa terbanyak, yakni 25 orang, untuk belajar di ELAM-Kuba. Siswa terbanyak berasal dari Amerika Latin, yakni 8000-an orang. AS sendiri punya 117 warga negara yang belajar di ELAM-Kuba.

Indonesia harus belajar dari Kuba..

Anna Yulianti– pemerhati masalah perempuan, sosial dan hak azasi manusia.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • untuk menjadi calon mahasiswanya, apa saja persyaratannya?

  • Muhammad Taufiq

    mau daftar dimana ya?

  • Farida Sepa Hanifa

    ada g sih masalah pendidikan d sna dgn hubungan agama. karna kan kata nya d sna sebagai negara komunis. dan bisa g seandainya saya lulus S1 kesehatan masyarakat trus lanjut nya kedokteran d kuba itu.