Eko Prasetyo: 70% pengeluaran Keluarga Indonesia untuk Pendidikan

Dalam diskusi bedah buku “Orang Miskin Dilarang Sekolah”, Eko Prasetyo membeberkan bahwa 70% pengeluaran mayoritas keluarga di Indonesia adalah untuk pendidikan. Sayangnya, menurut penulis buku yang produktif ini, hasil yang didapatkan dari proses pendidikan sangat kurang.

“Anak-anak cuma mendapat keterampilan-keterampilan praktis, seperti ribuan tips bagaimana menjawab soal-soal ujian,” kata Eko Prasetyo mencontohkan. Situasi ini, katanya, semakin diperparah oleh kenyataan bahwa sistim ujian nasional hanya membodohi anak-anak.

Eko Prasetyo juga menyoroti kebiasaan pemerintah untuk cepat gonta-ganti kurikulum, sehingga berdampak buruk bagi perkembangan pendidikan nasional. “Sampai kapanpun, kalau sistimnya masih begini, anak-anak Indonesia akan kesulitan mengakses pendidikan yang berkualitas,” tutur penulis buku-buku progressif ini.

Diskusi ini merupakan bagian dari persiapan menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), pada 2 Mei mendatang, yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FMIPA Universitas Lampung.

Pada bagian awal diskusi, Eko lebih banyak menceritakan latar-belakang mengapa ia menulis bukunya “Orang Miskin Dilarang Sekolah”. Eko menceritakan, suatu ketika ia mengajar sebagai dosen tamu di klas khusus ITB, dan bertemu dengan anak-anak berprestasi gemilang, diantaranya sebagai pemenang olympiade sains. Sebagian besar anak-anak itu berasal dari keluarga yang terbilang mampu.

Saat itu, Eko mulai mengingat bagaimana jutaan anak Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, tidak bisa mengakses pendidikan karena persoalan biaya. Dari situlah ia mendapatkan inspirasi untuk menulis buku yang cukup populer itu, yang kabarnya sudah enam kali naik cetak.

Selain itu, Eko Prasetyo juga membeberkan sejumlah persoalan pokok di dunia pendidikan, diantaranya: orientasi pendidikan yang patuh kepada pasar tenaga kerja, pola manajemen yang menerapkan otonomi penuh, dan sistim pendidikan yang mengutamakan efisiensi dan pemadatan materi.

Karena hal tersebut, kata Eko, ada banyak sekali menjamur promosi-promosi pendidikan instan dan penawaran jurusan-jurusan populer, namun sangat mengabaikan aspek kualitas pengetahuan.

Diskusi ini dihadiri sekitar 40-orang mahasiswa. Proses diskusi pun berjalan dialogis. Ada banyak mahasiswa yang mengajukan pertanyaan. Salah satu dari pertanyaan mahasiswa itu adalah soal solusi untuk merombak sistim pendidikan sementara pemerintah sudah tidak bisa diharapkan lagi.

Eko Prasetyo pun menjawab dengan mengambil pengalaman Iran. “pemerintah harus merombak kurikulum dan secara tegas memperuntukkan sekolah negeri untuk rakyat miskin,” katanya.

Perlunya pendidikan alternatif

Dalam diskusi itu, Eko mengeritik aktivis yang sekedar terjebak adalam aktivisme belaka, tetapi jarang mengupayakan terjadinya perubahan yang kecil-kecil dan terkadang dianggap sepele.

“Kita membangun pendidikan alternatif sebagai bentuk perlawanan terhadap sistim pendidikan nasional yang menindas anak bangsa,” katanya dengan tegas.

Selain itu, ia juga menganjurkan perlunya menciptakan kurikulum baru yang membebaskan, yaitu kurikulum yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan nalar, berkarya, dan berimajinasi.

Ia juga menekankan bahwa kurikulum itu harus memberikan kepercayaan diri kepada peserta didik dan kesadaran akan pentingnya kerjasama. Eko pun mengutip perkataan Bung Karno, bahwa “untuk mengubah suatu bangsa, maka ubahlan sistim pendidikannya. Karena pendidikan adalah tiang untuk kekokohan suatu bangsa.”

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut