Wabah Kolera Mulai Menyebar Di Ibukota Haiti

Port-au-Prince: Sebuah laporan pada hari ini menyebutkan bahwa penyebaran wabah kolera sudah mencapai ibukota negara Haiti, Port-au-Prince.

Setidaknya ada lima kasus yang ditemukan pada orang-orang yang baru saja melakukan perjalanan ke wilayah asal wabah tersebut, yaitu Artibonite, di bagian utara ibukota negara.

Pejabat kesehatan Haiti menyebutkan sedikitnya 208 orang meninggal dan 2.674 orang dinyatakan terinfeksi di daerah yang jauh.

Pejabat Haiti sangat mengkhawatirkan korban berikutnya adalah ratusan ribu pengungsi paska gempa dashyat pada bulan Januari lalu dan sekarang menempati tenda-tenda kumuh di Ibukota.

Jurubicara korps relawan medis internasional Margaret Aguirre mengatakan bahwa pasien mencari pengobatan di klinik yang berada di dekat Port-au-Prince karena rumah sakit St Nicholas di kota St Marc sudah penuh.

Kolera merupakan wabah yang ditularkan dari bakteri dan perantaraan air yang memiliki hampir dua kali lipat klorin dalam air minum.

Kelompok bantuan memberikan sabun dan tablet pemurni air dan mendidik orang-orang di Port au Prince tentang pentingnya mencuci tangan mereka.

Kolera belum pernah terlihat di Haiti selama satu dekade terakhir dan banyak rakyat yang tidak mengetahui penyakit ini,  yang menyebabkan diare parah dan muntah yang dapat menyebabkan dehidrasi dan kematian dalam hitungan jam.

Juru bicara Palang Merah Internasional Julie Sell mengatakan timnya akan memulai mengajari orang-orang di kamp pengungsian tentang cara mencegah kolera mulai hari ini—atau lima hari setelah wabah ditemukan.

“Kami menganggap hal ini sangat serius, tetapi kami juga ingin memastikan setiap orang mendapatkan informasi yang diinginkan,” katanya.

Tetapi komite penyelematan kesehatan lingkungan internasional,  Melody Munz, mengatakan bahwa kelompok-kelompok kemanusiaan bisa mengerjakan lebih banyak hal.

“Kami dapat menyediakan sabun dan menyediakan chlorine. Masalahnya adalah bagaimana orang berpartisipasi,” katanya.

Jurubicara untuk aksi internasional Mark Schuller mengatakan pihaknya dan kelompok lainnya sudah bertemu dengan orang-orang di kamp pengungsian sejak hari jumat lalu dan banyak kekhawatiran orang-orang tidak mendapatkan informasi mengenai wabah.

“Setiap orang yang berbicara dengan saya mengatakan bahwa mereka tidak mendengar informasi secara tunggal dari pemerintah,” katanya. “banyak orang malah tidak tahu mengenai penyakit kolera.” (MS/Rh)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut